Asal Muasal Kenapa Para Pria Kerap Berlutut Saat Melamar Kekasih. Sudah Sejak Abad Pertengahan!

sejarah melamar berlutut

Will you marry me?

Advertisement

Selain pernikahan itu sendiri, momen melamar yang dilakukan oleh kekasih untuk menuju ke jenjang yang lebih serius merupakan saat yang paling bikin deg-degan sekaligus salah tingkah bagi banyak orang. Bahkan untuk mengabadikan momen ini dan membuatnya makin spesial dan anti ditolak, tak sedikit yang rela bersusah payah membuat konsep romantis hingga yang ekstrem lo. Misalnya melamar ketika sedang naik gunung bersama, ketika paralayang, atau bahkan mengumpulkan teman-teman untuk melakukan flashmob, dan lain-lain.

Akan tetapi hal yang paling umum akan dilakukan oleh para laki-laki ketika melamar seorang wanita adalah posisi berlutut sambil membuka kotak cincin. Ternyata hal ini bukan dilakukan begitu saja sebagai spontanitas lo, tapi memiliki sejarahnya sendiri. Nah, untuk cerita selengkapnya, simak sampai habis ya!

Sebelum menjadi sebuah ikatan yang menyatukan dua hati yang saling mencintai, ternyata pernikahan merupakan sebuah hal yang mirip dengan transaksi bisnis. Hmm…

Dulunya bisnis/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Dilansir dari laman Brides, proses lamaran untuk menuju pernikahan di zaman dahulu ternyata lebih mirip dengan proses negosisasi layaknya yang terjadi dalam dunia bisnis. Para orang tua atau perwakilan keluarga yang akan menikahkan seseorang akan melakukan negosiasi tersebut yang membuat tidak ada romantisme di dalamnya, sehingga belum ada gestur melamar dengan berlutut. Ketika itu, masing-masing keluarga akan melihat satu sama lain dan jika berhasil membuat kesepakatan maka pernikahan akan dilangsungkan. Begitupun dengan cincin yang diberikan, di masa tersebut perhiasan ini diberikan untuk menunjukkan kepemilikan.

Advertisement

Berlutut menjadi sebuah hal yang dilakukan dengan meniru kebiasaan pada abad pertengahan sebagai bentuk penghormatan pada perempuan bangsawan

Berlutut/ Credit: wavebreakmedia on Freepik via www.freepik.com

Dilansir dari berbagai sumber, ternyata gerakan berlutut dengan satu kaki merupakan gestur seorang ksatria di masa pertengahan kepada seorang perempuan dengan status bangsawan yang sulit untuk didapatkan. Arti dari gestur ini adalah sebagai bentuk menyatakan kekaguman dan rela melakukan apa saja untuk sang wanita. Tak hanya kepada perempuan, berlutut juga dilakukan oleh seorang laki-laki kepada raja sebagai bentuk kepatuhan, penghormatan, dan kesetiaan. Tak hanya itu, gerakan ini juga memiliki hubungan dengan kegiatan religius di mana pernikahan saat itu erat kaitannya dengan kepercayaan. Tradisi tersebut akhirnya dilakukan hingga saat ini ditambah kalimat “Will you marry me?”

Seiring dengan berubahnya makna dan tujuan pernikahan, maka cincin juga tak lagi digunakan sebagai sebuah barang untuk menandai kepemilikan

Cincin lamaran/ Credit: jcomp on Freepik via www.freepik.com

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, pernikahan pada masa Romawi Kuno menggunakan cincin sebagai sebuah tanda kontrak bisnis. Setelah itu, baru ketika Pope Nicholas menyatakan bahwa cincin lamaran merupakan sebuah barang yang mewakili niat seorang laki-laki untuk menikahi kekasihnya, cincin jadi memiliki nilai yang berbeda. Pada saat itu cincin yang paling banyak dipilih adalah cincin dengan bahan emas, lalu tahun 1947 sebuah perusahaan Inggris membuat campaign bahwa bahan berlian memiliki arti “selamanya” yang membuat bahan berlian jadi tren. Perhiasan yang satu ini melengkapi prosesi berlutut ketika seorang laki-laki melamar wanita yang ia sayangi.

Ternyata, di balik gestur yang kelihatannya hanya hal yang biasa dilakukan oleh seorang pria lengkap dengan cincin yang dibawakannya, ada sejarah panjang yang memiliki arti manis dan mendobrak tradisi di mana pernikahan dulunya dianggap sebagai sebuah bisnis belaka.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE