Normalisasi Nggak Mengundang 5 Jenis Orang ini ke Pernikahan. Bujet Aman, Pesta Juga Nyaman

tamu undangan pernikahan

Pernah nggak sih di sebuah hari yang tenang, tiba-tiba sebuah undangan pernikahan datang kepadamu? Perlu beberapa menit hingga jam untuk mengingat siapakah sosok yang namanya tertulis sebagai calon mempelai di sana. Pas diingat-ingat lagi ternyata kamu mungkin hanya bertemu sekali dengannya atau ternyata dia adalah teman satu perusahaan tapi beda jauh penempatannya sehingga jarang sekali bertegur sapa. Bukannya ikut bahagia, kamu malah jadi bertanya-tanya kenapa undangan ini sampai mampir dengan label berisi namamu.

Advertisement

Entah apa alasannya, namun ternyata beberapa tamu undangan rasanya ada yang sebaiknya dipertimbangkan ulang. Jangan hanya karena nggak enak atau sekadar ingin memperbanyak kuota untuk meramaikan acara sehingga nama yang tak begitu akrab pun ikut diminta datang. Nah, berikut ini daftar orang yang sebaiknya dinormalisasi untuk nggak diundang, cek yuk siapa saja!

1. Masa sekolah katanya masa yang paling indah, tapi bukan berarti semua yang mengisi hari-hari itu juga harus ikut diundang ke pernikahan

Paling rame/ Credit: Wyndi Mardio via www.instagram.com

Mulai dari TK sampai SMA mungkin jika ditotal teman sekelas kita ada sekitar 100 orang, padahal tak semuanya masih aktif bertukar kabar sampai sekarang. Bahkan ada juga yang ketemu di jalan saja sudah pangling. Makanya, kamu mungkin bisa mempertimbangkan ulang untuk mengundang mereka yang aktif berkontak saja denganmu untuk diundang.

2. Teman-teman kerjamu mungkin kini adalah orang yang paling sering kamu temui, tapi tak harus semuanya dimasukkan daftar tamu

Yang dekat aja/ Credit: Dimas Beck via www.instagram.com

Kamu mulai perlu menyaring yang mana saja yang intens berkomunikasi denganmu, mungkin teman satu tim saja kalau perusahaanmu adalah sebuah perusahaan yang besar. Kalau acara pernikahan lebih privat lagi, maka bisa mengundang yang diajak berkomunikasi sehari-hari, sisanya bisa menyaksikan melalui link streaming saja.

Advertisement

3. Embel-embel saudara seringkali bikin kita nggak enak untuk nggak mengundang, tapi kalau kejauhan nggak apa-apa kok dicoret

Ini siapa ya?/ Credit: Wedding Market via weddingmarket.com

Saudara seperti sepupu dari ayah dan ibu mungkin masih jadi daftar prioritas di buku tamumu, tapi kalau saudara dari anaknya tantenya sepupunya ponakan ibu, lebih baik pikirkan lagi dua kali ya. Cara mempertimbangkannya adalah kalau dulu kamu mendapat undangan drinya atau suatu saat mendapat undangan darinya apakah kamu akan bahagia, terbebani, atau justru biasa saja?

4. Dia mungkin sempat jadi teman terdekatmu dulu tapi rupanya waktu bisa mengubah hubungan kalian. Coba cek kapan terakhir kali kalian bertegur sapa

Girls’ Squad/ Credit: Kurio via kurio.id

Sedekat apapun kalian di masa lalu, kamu perlu mengecek kembali kapan kalian terkahir kali melakukan kontak. Kalau sudah lebih dari lima tahun, tak apa menghapusnya dari daftar undangan. Lagipula, bisa jadi dia malah kaget dan canggung saat tiba-tiba diundang.

5. Rasanya mungkin serba salah kalau ingin mengundang mantan yang dulu jadi pendengar ceritamu nomor satu. Duh, undang nggak ya?

Advertisement

Hmm/ Credit: Liputan6 via hot.liputan6.com

Mengundang mantan atau tidak sebenarnya sangat tergantung dengan bagaimana hubunganmu dan ia kini. Kalau dirasa baik-baik saja atau bahkan sudah berteman dan ia pun memiliki pasangan, kamu mungkin bisa mengundangnya. Akan tetapi, kalau hanya akan memperkeruh suasana pernikahanmu karena pasanganmu merasa tak nyaman atau justru dia masih ada perasaan sebaiknya tak perlu repot mengirim undangan deh.

Selain bisa memangkas anggaran, mempertimbangkan ulang beberapa daftar undangan tersebut juga bisa bikin acaramu berjalan dengan lebih nyaman. Kalau bingung apakah seseorang sebaiknya diundang atau tidak, coba deh bayangkan apa yang akan ia pikirkan ketika undangannya sampai ke tangannya nantinya.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE