Tak ada uang, tak ada seks dan tak ada lagi waktu senggang. Realita inilah yang kerapkali dialami pasangan menikah yang sudah memiliki bayi. Jelas ini bukan pernikahan yang kamu bayangkan, ‘kan? Semua pasangan pasti ingin pernikahan yang bahagia, langgeng dan memiliki hubungan yang sehat. Sayangnya, seiring berkurangnya waktu dan bertambahnya beban tanggung jawab, semakin sulit untuk kembali mengukir romantisme dan mengembalikan masa-masa indah seperti masa awal pernikahan dulu, terutama kalau tugas mengasuh dan mengurus rumah tangga dilakukan sendiri alias tanpa bantuan baby sitter dan asisten rumah tangga.

Nah, kali ini Hipwee mau membahas tuntas seputar masalah dan solusi yang berkaitan dengan kehidupan menikah pasca memiliki bayi atau balita dilansir dari parents.com.

1.  Mengelola pekerjaan rumah tangga. Hal ini keliatan sepele ya, tapi banyak lho masalah dalam rumah tangga dipicu karena ketidakseimbangan pembagian kerja dalam rumah tangga. Solusinya? Kerja sama!

Berbagi tugas rumah tangga akan membuat keluarga lebih bahagia. Setuju, nggak? via www.theodysseyonline.com

Advertisement

Oke, sebelum punya bayi atau balita, mungkin kalian tetap harus membereskan rumah, mencuci pakaian, mencuci piring dan bersih-bersih rumah. Tapi kalau dulu kalian bisa menunda untuk mengerjakannya, semenjak ada bayi menunda pekerjaan artinya menambah beban kerja makin berat. Jadi akan lebih banyak PR yang harus kamu dan pasangan kerjaan, lebih-lebih sekarang ketambahan kesibukan merawat anak. Nah, solusinya jika kamu istri yang selama ini merasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri, kamu bisa mulai meminta baik-baik suamimu untuk membantu tugas beberes rumah. Kamu bisa melakukannya tanpa memarahi, mengomel apalagi membentak sambil bekerja di dapur.

Para pria lebih menghargai jika kamu meminta tolong dengan jelas, tanpa ada embel-embel omelan atau mengungkit-ungkit sikap cueknya. Minta saja, karena penghuni rumah bukan kamu saja, ‘kan? Suamimu tentu juga akan lebih senang hati apabila kamu mengucapkan terima kasih setelah ia selesai mengerjakan tugasnya, meski mungkin kamu sendiri jarang dapat ucapan terima kasih. Menyenangkan hati pasangan nggak akan bikin kamu rugi, kok.

2. Berkompromi tentang cara mengasuh anak. Seringkali cekcok dalam rumah tangga dikarenakan perbedaan pendapat dalam gaya mengasuh anak, tapi ternyata kita nggak perlu sampai gontok-gontokan sama pasangan gara-gara hal ini

Mengasuh anak harus kompak, biar nggak cekcok dan anak bingung. via irelandsbabyshow.com

Pasangan yang bahagia akan mencetak anak-anak yang bahagia. Nah, kalau kalian sebagai pasangan ribut melulu terutama soal cara mengasuh anak yang berbeda, gimana anak-anak bisa bahagia? Kuncinya adalah berkompromi. Jika pasangan adalah tipe orang yang sangat santai dalam mengasuh anak sedangkan kamu orang yang sangat strict terhadap peraturan, mungkin kalian berdua bisa berdiskusi dan mengambil jalan tengah agar gaya asuh kalian tidak membuat anak bingung. Terkadang sikap yang terlalu kaku juga tidak baik jadi sikap santai dari pasangan bisa kita ambil sisi positifnya sedikit dalam mengasuh anak. Khusus untuk hal-hal tertentu seperti kapan dan bagaimana pemberian MPASI, susu formula atau ASI, daripada cekcok kalian bisa sama-sama mencari buku parenting untuk referensi atau berkonsultasi langsung ke DSA untuk mendapat masukan yang lebih sesuai dengan kondisi kalian.

3. Sudah lama tidak berhubungan seks? Mungkin hubungan kalian perlu ditinjau ulang, nih!

Seks juga penting lho, dalam rumah tangga. via irelandsbabyshow.com

Advertisement

Sudah lama tidak berhubungan seks juga ternyata bisa meredupkan hubungan pasangan suami istri, lho. Tapi apalah daya, setelah memiliki anak, waktu lebih banyak tersita untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab sehingga dengan sisa-sisa tenaga yang ada, yang kalian inginkan hanyalah tidur. Ongkang-ongkang di tempat tidur dan bermain gadget rasanya lebih nyaman daripada berhubungan intim dengan pasangan.

Kalian saling mencintai, oke, tapi sebagai pasangan kalian mulai lupa tentang panasnya hubungan kalian di awal pernikahan karena tuntutan peran sebagai orangtua. Ups, sebaiknya kalian segera perbaiki soal ini, ya. Karena biar gimanapun, pernikahan yang sehat memerlukan bumbu-bumbu ‘panas’ di dalamnya. Caranya? Kamu bisa titipkan anak ke Ibu atau ke pengasuh sebentar dan pergi berduaan saja dengan pasangan. Setelahnya, kalian bisa menghabiskan waktu berdua saja di kamar dan menikmati masa-masa bebas dari bayi kalian dan bercumbu mesra. Jika memungkinkan, kalian bisa mulai tidur terpisah dengan anak dan memiliki kamar kalian berdua sendiri sehingga bisa lebih banyak quality time.

4. Masalah finansial ternyata punya peran penting dalam keutuhan rumah tangga. Suka tidak suka, banyak pasangan muda yang khawatir mereka tidak punya cukup uang untuk membiayai rumah tangga mereka

masalah finansial via www.telegraph.co.uk

Kuncinya lagi-lagi adalah komunikasi yang baik. Terkadang seorang ibu yang sebenarnya ingin menjadi ibu rumah tangga merasa terpaksa harus ikut bekerja untuk membantu perekenomian keluarga karena penghasilan suami saja tidak cukup. Atau sebaliknya, ibu merasa tertekan di rumah karena tidak bekerja dan ekonomi kurang stabil. Padahal belum tentu hal tersebut benar, selama pengelolaan uangnya salah. Bisa jadi meski ibu bekerja, selain stress bertambah, pengeluaran tetap bocor karena kurang baiknya sistem budgeting dalam keluarga. Jika memang ada keberatan-keberatan dalam rumah tangga, sebaiknya dibicarakan bersama dalam suasana yang nyaman. Keputusan-keputusan yang diambil pun wajib diputuskan bersama karena konsekuensinya pasti akan ditanggung bersama.

Stop juga mem-bully pasangan soal finansial karena jujur saja keduanya pasti sudah sama-sama lelah dengan rutitinitas baru sebagai orangtua. Intinya sih persiapkan budget yang ketat saat memulai rumah tangga, bicarakan semuanya dengan kepala dingin serta siapkan tabungan untuks saat-saat darurat. Jika istri juga terpaksa harus bekerja, pastikan suami paham juga akan konsekuensinya seperti pekerjaan rumah yang benar-benar dikerjakan bersama. Juga soal finansial, penting untuk sadar tentang transparansi keuangan bersama. Yakinlah kalau dihadapi bersama dengan positif, sesulit apapun pasti akan terlewati dengan baik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya