4 Kekeliruan Pola Asuh yang Kerap Terjadi. Imbasnya Bisa Sampai Anak Dewasa!

Gaya pengasuhan yang kurang tepat

Kita semua sepakat kalau nggak ada orang tua yang sempurna untuk satu atau hal lain dalam mengasuh anak. Yang ada hanyalah orang tua yang terus berupaya mencoba segala hal terbaik dalam mengasuh anak, dan tak sungkan mencari bantuan ketika memang membutuhkannya.

Advertisement

Nah, untuk dapat menjadi orang tua yang terbaik, gaya pengasuhan atau bagaimana merespons situasi dalam mengasuh anak adalah celah yang harus diperhatikan. Ini karena masih banyak kekeliruan yang terjadi dalam gaya pengasuhan, seperti 4 berikut ini. Melansir Empowering Parents, berikut Hipwee Young Mom rangkum berikut solusinya.

1. Melakukan negosiasi konsekuensi secara berlebihan dengan anak

Ilustrasi bernegosiasi dengan anak | Photo by August de Richelieu from Pexels

Moms & Dads mungkin juga pernah melakukan gaya pengasuhan yang memang cukup umum ini. Gaya pengasuhan ini sebenarnya nggak efektif. Ketika anak dibiarkan mediskusikan konsekuensi, seperti mengajukan konsekuensi yang lebih ringan untuk kesalahannya, hal ini hanya akan membentuk pemahaman kepada anak kalau batasan itu bisa diubah sesuka hati.

Advertisement

Solusinya, Moms & Dads harus bisa berlaku tegas terkait aturan dan konsekuensi. Jangan biarkan anak untuk mengubah aturan. Jika memang ingin menegosiasikannya, tetapkan apa yang diajukan sang anak untuk berlaku di kemudian hari. Dengan ini secara langsung Moms & Dads sedang membantu anak untuk bertanggung jawab atas tindakannya.

2. Selalu melakukan sesuatu untuk memecahkan masalah sang anak. Ogah kan anak menjadi sosok yang manja di masa depan?

Ilustrasi membantu anak mengelola rasa frustasi atau ketidakbahagiaan | Photo by Ketut Subiyanto from Pexels

Advertisement

Nggak ada orang tua yang mau melihat anaknya gagal atau merasa tertekan. Semua orang tua menginginkan kondisi yang selalu baik untuk anak-anaknya. Padahal sebenarnya anak perlu merasakan ketidakbahagiaan atau frustasi dalam tingkat tertentu, lo. Hal ini agar mereka bisa belajar cara mengatasi perasaan tersebut.

Sebagai orang tua, Moms & Dads tentu akan khawatir. Alih-alih selalu melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah sang anak, lebih bijak untuk para orang tua membantu mengelola frustasi atau ketidakbahagiaan yang dirasakan anak. Selalu menyelesaikan masalah anak hanya akan mencegah mereka mempelajari kekuatannya sendiri, termasuk keterampilan memecahkan masalah saat mereka gagal.

3. Meski terlihat apik, gaya pengasuhan perfeksionis terbukti malah menjadikan anak sebagai pribadi yang penuh tekanan

Ilustrasi anak dengan gaya pengasuhan perfeksionis | Photo by Monstera from Pexels

Jangan main kotor-kotoran, nanti jijik!

Jangan nangis, cowok nggak boleh nangis!

Sifat perfeksionis dalam mengasuh anak jika kebablasan bisa jadi bencana. Mengapa? Karena akan ada kecenderungan bagi orang tua untuk melihat segala hal yang dilakukan sang anak tidak cukup baik. Orang tua juga akan punya kecenderungan untuk memaksa anak bekerja lebih keras untuk suatu hal, karena mereka yakin anaknya punya bakat dalam hal itu.

Anak yang mendapatkan gaya pengasuhan ini juga akan menganggap orang tua hanya mengharapkan kegagalan dari mereka. Anak juga akan merasa tertekan ketika berhasil melakukan sesuatu, karena orang tua perfeksionis cenderung akan menaikkan standar untuk keberhasilan di kemudian hari, dan bersikeras agar anak melakukan hal yang lebih baik lagi.

Secara tidak langsung, orang tua dengan gaya pengasuhan ini sedang mengajarkan anak untuk tidak pernah menunjukkan emosi, menyimpan pencapaian apa pun, dan menghindari interaksi karena mereka tahu tidak akan pernah cukup baik di mata orang tua. Solusinya, orang tua perfeksionis perlu memberikan jarak antara diri dan anak, setidaknya antara harapan mereka dan minat anak yang sebenarnya.

4. Selalu menuruti keinginan daripada sang anak merengek adalah sikap yang kurang bijak lo, Moms dan Dads!

Ilustrasi anak merengek | Photo by Ba Phi from Pexels

Tidak sedikit orang tua yang rela merogoh kocek hingga dalam atau bahkan meminjam sejumlah uang daripada menyaksikan anak saat keinginannya, bukan kebutuhan, tidak terpenuhi. Sikap ini sejatinya hanya akan menciptakan rasa berhak yang keliru pada anak. Bahkan bukan tidak mungkin anak akan belajar memanipulasi orang tuanya agar setiap keinginannya terpenuhi.

Efek jangka panjang dari gaya pengasuhan ini adalah anak tidak memahami kalau untuk mendapatkan imbalan harus dengan bekerja. Solusinya, sejak dini orang tua perlu belajar berkata tidak, dan belajar menoleransi reaksi mereka saat keinginannya nggak terpenuhi. Jika ingin memberikan sesuatu yang bersifat materi, berikan berdasarkan usaha dan pencapaian nyata sang anak, bukan hanya karena mereka memintanya.

Nah, itu dia 4 gaya pengasuhan yang keliru dan nggak efektif untuk diterapkan. Kalau Moms & Dads pernah melakukannya, yuk mulai sekarang diubah!

Follow Mamin di Instagram @hipweeyoungmom atau gabung ke Support Group di Whatsapp juga yuk. Media curhat yang fun, menghadirkan konten-konten inspiratif dan terpercaya buat para moms #KarenaSemuaIbuBerhakBahagia
Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

get me away from here I'm dying

Editor

Seorang makmum yang taat :)

CLOSE