Surat Terbuka untuk Ibu yang Tengah Berjuang Ekstra di Masa Pandemi. Upahmu Besar di Surga Nanti

ibu saat pandemi

Delapan bulan sudah berlalu sejak saat kasus pertama Corona masuk ke negeri ini. Saat melihat ke sekelilingmu, rumah kini menjadi kantor, sekolah, taman bermain, dan tempat berkumpulnya kelelahan yang bertumpuk di keranjang pakaian kotor, sink penuh piring bekas dipakai, lantai yang tak pernah bersih dari potongan lego atau boneka, serta deadline pekerjaan yang tak bisa ditunda.

Advertisement

Belum berhenti sampai situ, bisa jadi kamu saat ini mengurus anak sendirian, memiliki pasangan yang kehilangan pekerjaan, atau justru harus tinggal berjauh-jauhan demi keselamatan.

Tak peduli kamu ibu bekerja atau ibu rumah tangga, kondisi saat ini mungkin menjadi salah satu bagian paling sulit dibandingkan beberapa tahun kehidupan yang sudah berlalu. Tenang, kamu tak sendirian dan kita akan melewati masa ini dengan bangga dan ratusan kali lebih kuat lagi.

Rutinitas kini menjadi hal yang makin menjemukan dan rumah adalah pelatihan menahan amarah yang paling baik

Masak/ Credit: Soroush Karimi on Unsplash via unsplash.com

Kamu bisa leluasa membuka pintu rumah kapan saja, tapi kakimu yang dulunya lincah tak bisa lagi melangkah sembarangan tanpa ‘alat perang’ dan perasaan was-was. Kini, matahari yang hampir terbit menjadi penanda bahwa kamu akan kembali melakukan hal yang itu-itu saja; memandikan anak, menyiapkan sarapan, mengajaknya bermain, membereskan rumah, meeting dadakan, di arena yang sama untuk lomba lari dengan waktu. Merasakan bosan saja mungkin masih beruntung, kadang perasaan yang timbul adalah lelah yang tak karuan. Kamu jadi cepat marah, begitupun dengan pasangan. Tapi kemudian kalian ingat untuk banyak kompromi dan sedikit saling mengalah supaya hari bisa tetap diakhiri dengan sebuah pelukan.

Advertisement

Kamu mungkin sudah diberi tahu berkali-kali bahwa bersyukur itu harus, tapi jarang ada yang mengatakan bahwa mengeluh pun sangat manusiawi dilakukan sesekali

Mengeluh/ Credit: Priscilla Du Preez via unsplash.com

Menyimpan perasaan layaknya bom waktu yang akan meledak kapan saja jika tak sedikit dibagi. Wajar kamu mengeluh dan merasakan kesusahan karena pengalaman yang seperti ini mungkin baru kamu, dan kita, alami untuk pertama kali. Buku harian bisa jadi teman curhat yang menyenangkan atau sekali waktu menelepon teman bisa kamu lakukan. Suami yang belakangan terlihat lebih menyebalkan juga barangkali masih menjadi seseorang yang berharap mendengar ceritamu. Di suatu malam saat suasana hatinya baik, bersandarlah dan berkeluh kesah.

Energi yang terus berkurang untuk mengurus buah hati dan pekerjaan juga butuh diisi ulang, kamu juga perlu ‘melarikan diri’ walau tanpa keluar ruangan

Me time/ Credit: Toa Heftiba on Unsplash via unsplash.com

Menjadi ibu berarti merelakan diri untuk berkorban terus-terusan, mungkin iya. Akan tetapi, tubuhmu yang terus kehilangan semangat dengan kantung mata yang bertambah besar itu tak bisa begitu saja diabaikan. Dulu mungkin kamu bisa bersantai menyesap kopi, bepergian ke taman hiburan, atau sekadar ke pusat perbelanjaan. Kini, hal tersebut rasanya mustahil dilakukan begitu saja. Maka melarikan diri terjauh adalah di dalam ruangan, melakukan hal yang disenangi, tanpa gangguan. Dibanding semua yang sudah kamu lakukan, waktu ini rasanya cukup sepadan.

Yang paling penting untuk diingat adalah bahwa kamu tak sendirian, banyak yang medan perjuangannya serupa denganmu. Banyak ibu yang hampir menyerah namun terus melaju karena tak punya pilihan. Kamu juga perlu ingat bahwa kamu disayangi, bahwa kamu juga berarti. Hari-hari yang melelahkan ini, ketika sudah terlewati, akan membuatmu menjadi sosok yang makin kuat seribu kali.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE