Ternyata sifat posesif yang dimiliki oleh seseorang nggak hanya berlaku antara pasangan saja lo. Hal ini juga terjadi di beberapa kasus antara orang tua ke anak. Sifat posesif ini dalam istilah parenting disebut helicopter parenting. Wah, kenapa namanya helicopter parenting ya? Kira-kira apa sih dampaknya untuk anak ke depannya? Biar nggak jadi orang tua yang menerapkan pola asuh yang salah ini, simak ulasan Hipwee kali ini yuk!

Ini itu anak diatur semua, dari ‘makan cuma boleh di sana’ hingga ‘masuk jurusan ini saja’

Belajar harus di SD Montessori, lainnya NO! via images.pexels.com

Helicopter parenting merupakan sebuah pola asuh di mana orang tua terlalu ikut campur dan terlibat di semua bidang yang berkaitan dengan sang anak. Menurut Ann Dunnewold Ph. D. orang tua cenderung akan terlalu mengontrol, terlalu melindungi, dan terlalu sempurna. Hayooo, coba dicek siapa tahu kamu melakukan salah satunya~

Kalau kamu menemukan ciri-ciri ini, berarti kamu harus mulai instrospeksi diri. Jangan-jangan kamu salah satu helicopter parent

Harus selalu ranking 1 via images.pexels.com

Advertisement

Pada tahap balita, orang tua akan menjaga anaknya agar nggak sampai terjatuh, tersentuh orang lain, dan nggak bermain sembarangan. Menginjak usia sekolah, helicopter parent cenderung sangat merisaukan perihal akademik anak. Kalau kamu mulai risau karena anakmu bukan ranking pertama, hati-hati ya jangan-jangan kamu salah satunya.

Alih-alih mendapatkan yang terbaik untuk si anak, pola asuh ini ternyata memberikan dampak yang sebaliknya

Jangan main sama si A via images.pexels.com

Orang tua yang terlalu mengatur dan ikut campur dalam pembuatan keputusan sang anak tentu sesungguhnya ingin yang terbaik untuk si buah hati, namun anak justru akan memberikan efek yang sebaliknya saking lamanya tergantung pada orangtua.

Dari kurang percaya diri hingga depresi, efek ini akan dirasakan. Memang nggak seketika sih, tapi efeknya jangka panjang

Anak jadi ketergantungan via www.michaelreist.ca

Karena semua keputusan dipilihkan dan ini itu dipersiapkan, anak jadi tidak percaya diri saat membuat keputusan sendiri. Bahkan menurut sebuah penelitian, anak yang diasuh dengan pola helicopter parenting akan lebih besar terkena risiko mengalami anxiety hingga depresi.

Orang tua memang selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi bukan berarti harus ikut campur dalam mengurus segalanya

Mengajari bersepeda via images.pexels.com

Advertisement

Anak memiliki hak untuk membuat keputusannya sendiri, jika semuanya diatur, selain menjadi tergantung dengan orang lain, bisa saja ia malah menjadi pembankang nantinya.

Sebagai orang tua pasti ingin anak mendapatkan yang terbaik. Tapi, bukan berarti semuanya harus dipilihkan. Biarkan anak bereksplorasi dan membuat keputusannya sendiri. Tapi jika sudah jauh dari hal yang positif, ingatkan dan beri pengertian secara baik-baik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya