Ada Wacana Sekolah Buka Lagi Awal 2021, ini Kata 5 Ibu Soal Belajar Tatap Muka di Masa Pandemi

sekolah saat pandemi

Seperti yang kita ketahui, perjuangan melawan pandemi masih jauh dari kata usai. Meski 1,2 juta dosis vaksin Corona Sinovac, dikabarkan telah tiba di Indonesia pada hari Minggu kemarin (6/12/2020), namun tentu dibutuhkan waktu untuk pendistribusiannya hingga efektivitasnya bisa secara luas terasa. Rasa was-was masih membayangi banyak orang tua jika anak-anaknya harus berinteraksi di luar rumah, bersekolah kembali misalnya. Seperti dilansir dari laman Kompas, memang sempat ada wacana dari pemerintah untuk membuka kembali sejumlah sekolah pada bulan Januari 2021 mendatang. Meski disebutkan bahwa kebijakan ini akan diikuti dengan protokol kesehatan dan persyaratan yang ketat, hal ini tetap menuai kontra dari kalangan para orang tua siswa dan para epidemiolog sendiri.

Advertisement

Hipwee Young Mom beberapa waktu lalu berhasil mengumpulkan 5 pendapat orang tua seputar kebijakan sekolah dibuka kembali pada tahun 2021 mendatang. Menarik karena ada beragam pendapat dari berbagai sudut pandang mereka. Simak yuk, apa saja sih kata para Bunda soal anak-anak kembali sekolah di tengah masa pandemi?

1. “Namanya kangen sekolah, kadang anak bisa aja ‘kelepasan’ dan lupa sama protokol kesehatan. Sanggup nggak gurunya benar-benar mengawasi?”

Ke sekolah pakai masker? | Photo by August de Richelieu from Pexels via www.pexels.com

Back to school: Definitely not yet..

Karena kondisi angka (penderita) Covid-19 yg masih terus naik (bahkan puncaknya aja belum sampe), aku rasa terlalu gegabah buat mutusin anak-anak untuk kembali ke sistem pembelajaran tatap muka… I know, aku sendiri udah capek lihat anak di rumah kebanyakan main game, nonton film atau main sosmed, dan tingkat keseriusan anak belajar di sekolah dan di rumah jelas jauh beda… But the danger outside there is worse

I know, sekolah pasti akan bikin protokol yang bagus buat pembelajaran tatap muka ke depannya… Tapi namanya juga anak-anak, udah lama pula nggak ketemu temen-temannya, pasti akan ada loss-nya.. Apa iya gurunya sanggup ngawasin mereka satu per satu? I don’t think so

Ditambah lagi kemarin baca berita di salah satu kota di Jawa Tengah, ada SMA yang udah uji coba tatap muka dan berakhir dengab ratusan muridnya terinveksi Covid-19… See?

Eva Rizki Hutami, dokter gigi

2. “Meskipun berat ngurusin bocah, untuk anak-anak PAUD, TK dan SD mending di rumah saja dulu deh…”

PAUD | Credit: Photo by Alex Green from Pexels via www.pexels.com

Aku sih nggak setuju yaa, seketat apapun protokoler khususnya anak PAUD, TK atau SD kayaknya belum terlalu paham soal 3M itu.
Kecuali anak SMP dan SMA yaaa.
Jadi menurutku walau berat ngurusin bocah di rumah, ya mending di rumah dulu aja dehhh…

Fiameta, sales manager dari Jakarta

Advertisement

3. “Kami hanya akan mengizinkan anak kembali ke sekolah hanya bila 80-90% masyarakat Indonesia sudah menerima vaksinasi Covid-19.”

Anak-anak SD | Credit: Photo by Agung Pandit Wiguna from Pexels via www.pexels.com

Sebagai orangtua, sepertinya kami belum mengizinkan anak-anak untuk kembali mengikuti Pembelajaran Tatap Muka. Alasannya karena anak-anak terutama tingkat sekolah dasar belum memahami sepenuhnya resiko dan dampak Covid-19 bagi kesehatan sehingga kesadaran untuk mematuhi protokol masih rendah. Walaupun sudah diterapkan berbagai protokol yang ketat di sekolah, tetapi tetap saja anak-anak bisa lalai dalam melakukan protokol yang ada.
Kami hanya akan mengizinkan anak kembali ke sekolah hanya bila 80-90% masyarakat Indonesia sudah menerima vaksinasi Covid-19.

Tia Mayasari, ibu rumah tangga

4. “Nggak setuju kalau jam sekolah masih panjang dan kegiatan outdoor masih dilaksanakan.”

Belajar di sekolah atau rumah? | Credit: Photo by Max Fischer from Pexels via www.pexels.com

Antara setuju dan nggak setuju 😂

Setuju, asal protokol kesehatan benar-benar diperketat, jam sekolah dipersingkat, batasi kegiatan outdoor dan interaksi fisik yang nggak perlu.

Nggak setuju kalau jam sekolah masih panjang dan kegiatan outdoor masih dilaksanakan.

Silvi, editor media daring

5. “Nggak semua anak bisa ngikutin prokes dengan maksimal, takutnya malah bikin penularan makin meningkat.”

Sekolah anak | Credit: Pixabay via www.pexels.com

Sejujurnya aku kurang setuju dengan wacana tersebut. Karena jujur, situasi pandemi masih bikin waswas dan angka kasus belum menunjukkan penurunan bahkan berhenti. Apalagi nggak semua anak bisa ngikutin prokes dengan maksimal, takutnya malah bikin penularan makin meningkat. Mungkin kalo emang mau kembali dibuka, buat institusi SMA ke atas aja. Begicu…

Bu Adam – freelance writer

Semua tentu berharap pandemi segera berakhir dan kita bisa beraktivitas dengan bebas dan nyaman lagi di luar. Tapi sembari menunggu pandemi teratasi, tentu kita juga punya andil untuk mencegah penyebarannya dengan melakukan protokol kesehatan secara ketat dan tepat serta mengurangi aktivitas di luar jika bukan untuk hal yang sangat mendesak. Anak-anak kangen sekolah, ibu-ibu juga tentu sudah kangen daycare tapi keamanan anak tentu jadi prioritas kita semua. Kalau Bunda, setuju nggak pembelajaran tatap muka diberlakukan awal tahun mendatang?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An independent woman, loving mom and devoted wife.

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE