Kalau kalian sering takjub sama hujan yang persebarannya nggak merata, don’t worry be happy, karena kalian nggak sendiri. Saya pun merasakan hal yang sama. Lagi naik motor, hujan, tiba-tiba jalan yang cuma berjarak beberapa meter di depan saya sama sekali nggak hujan bahkan panas tang-tang. Fenomena ini disebut hujan lokal  guys. Meski sudah cukup sering jadi saksi, tetap saja setiap mengalami selalu amazed sendiri. Hujan lokal ini kalau menurut KBBI sih memang diartikan sebagai hujan yang jatuh nggak merata di daerah tertentu.

Nah belum lama ini, terjadi hujan lokal yang bisa dibilang cukup aneh. Kalau biasanya hujan lokal terjadi di satu kota, daerah, atau kampung saja, hujan yang terjadi pada Sabtu (26/8) di bilangan Tebet, Jakarta Selatan ini cuma basahi satu rumah aja! Aneh bin ajaib. Tapi nyatanya fenomena ini bukan hujan jadi-jadian atau berkaitan sama hal gaib lho, tapi memang ada penjelasan ilmiahnya. Meski sebenarnya BMKG mengklaim kalau hujan unik ini nggak terdeteksi di radarnya, tapi kejadian ini tetap menarik diulik lebih lanjut. Daripada penasaran, simak dulu bareng Hipwee News & Feature kali ini yuk!

Seperti biasa, kabar ini mulanya datang dari jagat media sosial. Sebuah akun Twitter bernama @febicil mengunggah video yang mendokumentasikan kejadian langka ini


Nggak perlu diragukan lagi kalau kemampuan media sosial dalam menyebarkan berita sudah bisa menyamai kecepatan virus flu burung menjangkiti penduduk di suatu desa. Seperti halnya berita satu ini. Awalnya kabar ini viral karena unggahan video dari akun Twitter bernama @febicil. Dalam hitungan menit, video itu sudah terendus warganet yang juga berlayar di Instagram. Singkat kata, fenomena yang terjadi di sebuah rumah di Jalan Tebet Barat Dalam ini pun booming.

Menariknya, hujan yang terlampau ‘lokal’ ini terjadi dalam durasi waktu yang cukup lama, yakni sekitar 6 jam! Seperti dilansir Kompas (28/08), Muzakir, pria yang diduga pemilik rumah tersebut, menyatakan kalau kejadian itu berlangsung sekitar pukul 17.30. Dirinya sedang berada di teras saat hujan turun rintik-rintik. Muzakir pun masuk ke dalam guna menunaikan ibadah shalat Magrib. Tapi saat keluar lagi, ia malah sudah mendapati rumahnya dikerumuni warga. Ternyata hujan cuma membasahi rumahnya. Ya jelas aja kalau peristiwa itu kemudian diabadikan para tetangga dan orang-orang yang lewat. Menurut keterangannya, hujan unik itu baru berhenti sekitar jam 12 malam.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) angkat bicara soal kasus yang menghebohkan warganet Indonesia ini

Advertisement

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya via www.tribunnews.com

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya, justru menyangkal adanya hujan yang cuma terjadi di satu rumah ini. Bukan tanpa alasan, masalahnya setelah dilakukan pengecekan di radar, hujan yang kabarnya terjadi Sabtu (26/8) sore mulai sekitar jam 6 sore sampai 12 malam ini justru nggak terdeteksi! Menurut Andy, fenomena hujan lokal emang wajar terjadi di negara tropis. Tapi untuk kasus satu ini, tetap perlu diinvestigasi lebih lanjut. Soalnya lingkup areanya terbilang sempit. Lebih lanjut, Andy mengatakan kalau nggak mungkin ada awan hujan yang skala luasnya cuma bisa membasahi satu rumah. Duh, jelas fenomena super aneh sih ini.

Sebelumnya, Kepala Sub-Bidang Informasi Meteorologi BMKG, Hary Tirto Djatmiko, menganggap itu fenomena yang mungkin aja terjadi

Fenomena hujan lokal via www.azcentral.com

Hary Tirto Djatmiko, mengatakan kalau fenomena tersebut mungkin saja terjadi kalau kondisi memungkinkan. Kondisi yang melatarbelakangi kejadian itu bisa dilihat dari suhu, udara, kelembaban, dan arah kecepatan angin di daerah yang bersangkutan. Tapi meski begitu, fenomena ini harus dikulik lebih dalam mengingat hujan itu cuma mengguyur satu rumah saja.

Senada dengan Hary Tirto Djatmiko, Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN, Halimurrahman, juga ikut menanggapi hujan unik ini

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional via www.lapan.go.id

Nggak cuma BMKG aja yang berusaha menanggapi isu menghebohkan ini. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga ikut gatal berkomentar. Melalui Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA), Halimurrahman, LAPAN menjelaskan kalau kandungan air di suatu wilayah turut memengaruhi seberapa luas area yang terguyur hujan. Hujan lokal biasa terjadi di luas area sekitar 500 meter. Tapi ukuran itu sih juga sifatnya relatif, tergantung kondisi lingkungan yang memungkinkan di daerah itu. Selain itu hujan sebagai fenomena alam juga dipengaruhi beberapa parameter, seperti proses konveksi dan angin.

Deputi Klimatologi BMKG, Mulyadi Rahadi Prabowo, mengaitkannya dengan musim kemarau yang memang sedang melanda Indonesia dan diprediksi baru berakhir September besok

Kondensasi awan via kelanakota.suarasurabaya.net

Kalau menurut data monitoring BMKG 20 Agustus kemarin soal hari tanpa hujan berturut-turut, Pulau Jawa memang ada di klasifikasi panjang. Artinya 21-30 hari bisa nggak turun hujan sama sekali. Kondisi ini disepakati oleh Halimurrahman, yang mana sangat mungkin ada sekumpulan awan kecil yang menyebabkan terjadinya kondensasi, pengembunan, lalu hujan. Meski begitu, durasi hujan unik di Tebet yang terbilang cukup lama, masih menimbulkan tanda tanya besar.

Terlepas dari sisi unik yang dimiliki, hujan juga bisa mendatangkan bahaya kalau disertai badai dan angin topan. Seperti yang baru aja terjadi di Houston, Texas, AS Sabtu-Minggu lalu itu. Badai Harvey melanda kota itu dan menyebabkan banjir setinggi pinggang orang dewasa. Selain penduduk harus rela rumah mereka terendam banjir, aktivitas ekonomi di kota itu juga ikut lumpuh.

Fakta tentang banyaknya fenomena alam yang berujung pada bencana ini seharusnya sih bisa semakin membuka mata kita soal kondisi bumi yang memang nggak lagi seperti dulu. Alam makin ekstrem menunjukkan ‘taring’nya. Kalau sudah begini, kita sebagai manusia cuma bisa refleksi, atas apa yang udah kita perbuat pada bumi. Harapannya supaya bumi nggak makin menjadi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya