Tiap orang memang punya kebutuhan yang berbeda-beda. Dari yang masih sekolah atau kuliah, pasti kebutuhannya beda sama yang sudah bekerja dan menikah. Apalagi kalau ingat konteks peradaban, kebutuhan manusia zaman sekarang jelas berbeda sama orang yang hidup dulu. Meskipun berbeda-beda, kebutuhan dasar manusia dari dulu hingga sekarang pastinya tidak terlepas dari tiga kategori hakiki ini : papan, sandang, dan pangan.

Namun dengan revolusi teknologi informasi, sepertinya kita harus menambahkan satu hal lagi yang sudah jadi kebutuhan dasar manusia yaitu pulsa internet. Termasuk di Indonesia. Dalam 6 tahun terakhir, pengeluaran masyarakat untuk membeli pulsa terus meningkat. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) terakhir, yakni pada tahun 2016, biaya belanja pulsa masyarakat Indonesia bahkan sudah melampaui pengeluaran untuk bahan pangan pokok seperti buah dan daging. Memiliki akses informasi dan komunikasi memang sangat penting, tapi apakah itu sekarang sudah jauh lebih penting ya daripada perbaikan gizi?!

Kalau pola pengeluaranmu sekarang gimana guys? Yuk simak dan diskusi bareng Hipwee News & Feature!

Hanya dalam waktu singkat, biaya pulsa terus merangkak naik dalam prioritas pengeluaran masyarakat Indonesia. Bukan lagi kebutuhan tersier, tapi sudah jadi kebutuhan sekunder

Rata-rata pengeluaran per kapita/2016 (Susenas, Badan Pusat Statistik) via www.hipwee.com

Begitulah pola rata-rata pengeluaran masrayakat Indonesia saat ini. Ternyata banyak yang sudah lebih rela mengeluarkan biaya lebih untuk pulsa atau paket data internet, dibandingkan untuk membeli buah-buahan ataupun daging segar. Pengeluaran pulsa tersebut juga menariknya sedikit lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk SPP bulanan sekolah yang berada di level Rp21.276 per kapita. Aparat pemerintah sampai Presiden bahkan sampai sering membuat imbauan khusus untuk para penerima dana Kartu Indonesia Pintar (KIP), supaya tidak menggunakan tunjangan pendidikan itu buat beli pulsa.

Tentu aja fakta di atas nggak serta merta terjadi. Hal itu juga didorong oleh menjamurnya gadget di Indonesia. Lah, sekarang anak SD aja udah pada punya HP

Advertisement

Anak kecil aja udah punya HP via tribunist.com

Pendapat di atas disampaikan langsung oleh Bambang Brodjonegoro, Kepala Pelaksana Tugas (Plt) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan. Bambang menyatakan kalau ‘banjir ponsel’ ini sudah terjadi sekitar empat tahun yang lalu. Yang membuat pengeluaran pulsa ini mungkin sedikit problematis adalah bagaimana kebutuhan ini bisa cenderung berubah menjadi kecanduan. Terlebih lagi dengan usia kepemilikan dan penggunaan ponsel makin muda, semakin banyak orang yang mungkin belum rasional merasa harus terus membeli pulsa untuk kebutuhan komunikasi dan informasi.

Peningkatan kepemilikan telepon seluler ini seenggaknya bisa dilihat dalam dua tahun terakhir. Pada 2015, persentasenya mencapai 56,9%, sedangkan pada 2016 meningkat 1,4% menjadi 58,3% atau sebanyak 137 juta jiwa. Dari 137 juta jiwa pengguna telepon seluler, begini persentasenya.

Pengguna mudanya dari tahun ke tahun terus naik via www.hipwee.com

Kalau dilihat dari wilayahnya, ternyata tidak hanya di kota besar yang pengguna ponselnya banyak. Di Indonesia, sudah bisa dibilang, cukup merata

Meski DKI Jakarta teratas, ternyata wilayah-wilayah lain dengan kepemilikan ponsel terbanyak ada di luar Jawa via www.hipwee.com

Dengan harga gawai elektronik yang makin murah, siapa saja memang sekarang bisa memiliki ponsel. Tergantung kebutuhan dan bugdet masing-masing, pasti ada pilihan ponsel di pasar untuk semua orang. Satu orang bahkan sudah banyak yang punya lebih dari 1 ponsel. Jika dilihat per wilayah, ternyata 4 dari 5 propinsi dengan kepemilikan ponsel terbanyak justru ada di luar Pulau Jawa.

Meski beberapa provinsi yang sudah disebutkan di atas jadi wilayah dengan kepemilikan ponsel tertinggi, tapi nyatanya rata-rata pengeluaran pulsa justru kebanyakan berada di luar daerah tersebut. Peringkat 1 sih memang dipegang Jakarta Selatan dengan rata-rata pengeluarannya Rp57.648. Tapi selanjutnya justru Kota Tangerang yang menduduki, dengan selisih tipis yakni sebesar Rp56.669. Lalu disusul Kabupaten Mimika, Papua Rp53.920, Kota Jayapura Rp52.193, dan Jakarta Utara Rp51.740 per kapita.

Di era digital ini, akses internet memang merupakan modal penting untuk berkembang. Tapi bisa juga justru disalahgunakan untuk kegiatan yang tidak bermanfaat

Semoga internet di Indonesia bukan cuma dimanfaatkan untuk tonton Youtube atau nyinyir di medsos via www.dacifinland.org

Bukan tanpa alasan lho Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendeklarasikan akses internet sebagai hak asasi manusia pada tahun 2016 kemarin. Setelah revolusi teknologi informasi benar-benar dirasakan dampaknya secara global paska tahun 2000, internet merupakan penghubung segalanya di dunia. Mulai dari media sosial, bisnis online, bahkan sampai kuliah online, banyak kegiatan manusia yang ‘berpindah’ ke dunia maya. Internet tiba-tiba menyediakan peluang tidak terbatas untuk siapapun.

Kenaikan biaya pulsa jika diartikan dalam segi positif, tentunya berarti makin terbukanya peluang untuk berkembang bagi mereka yang telah memiliki akses internet. Entah itu untuk menggerakkan ekonomi digital atau kegiatan positif lain. Tapi banyak juga pakar yang khawatir dengan pola pemakaian internet di Indonesia yang dinilai belum maksimal. Nah coba deh guys, gimana caranya pengeluaran pulsa atau penggunaan internetmu bisa jauh lebih berfaedah ke depannya?! Jangan jadi bangsa yang terkenal suka nyinyir di Facebook doang, tapi negara yang penuh entrepreneur online sukses.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya