Belum reda kasus penipuan jasa umroh First Travel yang menyeret nama Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan beberapa waktu lalu, baru saja dilaporkan kejadian serupa. Kali ini bukan perusahaan travel atau penyedia jasa umrah saja, ternyata ada wedding organizer di Depok, Jawa Barat yang disinyalir melakukan penipuan besar-besaran terhadap pengguna jasanya. Khalisa Enterprise menawarkan biaya pernikahan murah seharga Rp77 juta saja. Kabarnya biaya itu sudah termasuk sewa gedung, katering, dekorasi, dan bulan madu! Promo itulah yang ditengarai membuat banyak orang tergiur untuk memakai jasa Khalisa WO.

Haduh kok tega ya ngibulin orang-orang yang niatnya pada mau ibadah. Nggak umrah, nggak nikah, semuanya jadi bisnis penipuan…

Pemilik Khalisa WO, Galih Dharma Dewangga (31), ditangkap anggota Satreskrim Polresta Depok, di rumahnya pada Sabtu (16/9). Sebagaimana dilansir dari Kumparan, berdasarkan penyelidikan sementara, jumlah korban mencapai 30 orang. Walaupun kasus ini masih ditangani oleh pihak kepolisian, ada indikasi kuat Khalisa WO ini juga sampai menerapkan skema bisnis yang sama dengan First Travel lho. Skema bisnis itu disebut Ponzi. Terus sebenarnya apa sih yang membuat orang gampang banget tergiur dan tertipu oleh metode ini? Daripada penasaran, yuk kita bongkar bersama bareng Hipwee News & Feature kali ini!

Sistem ‘gali lubang tutup lubang’ jadi cara yang sering dipakai orang berbisnis. Padahal sistem tersebut ilegal dan sama aja kayak menipu!

Lagi, penipuan dengan skema ponzi via news.liputan6.com

Sama halnya dengan First Travel, skema bisnis Khalisa WO juga memakai skema Ponzi atau sistem gali lubang tutup lubang. Mereka akan menawarkan harga murah yang biasanya jauh dari harga wajar. Nantinya, kekurangan pembayaran konsumen pertama akan ditutup oleh pembayaran konsumen kedua. Begitupun seterusnya sampai banyak orang akhirnya tergiur harga miring itu. Tapi sebenarnya skema ini akan berantakan kalau pembayaran oleh konsumen baru tersendat. Kalau sudah begini biasanya si empunya usaha akan memilih lari dengan membawa uang para konsumennya.

Standar pernikahan yang makin lama makin tinggi, juga jadi alasan kenapa orang rasanya hobi banget cari promo–sampai akhirnya bisa tertipu iming-iming ‘murah’

Advertisement

Standar pernikahan makin tinggi via www.weddingku.com

Bagaimana bisa standar pernikahan makin lama makin tinggi? Jawabannya bisa banget! Nggak percaya? Coba buka aplikasi Instagram-mu dan cari tagar ‘bridestoryxraisahamish’ di sana. Niscaya kamu akan menemukan ribuan foto pesta pernikahan Raisa dan Hamish yang bagaikan di negeri dongeng.

Ya, media sosial punya kekuatan yang nggak bisa diremehkan dalam hal mengubah persepsi orang akan sesuatu, termasuk pernikahan. Ketika di Instagram banyak ditemukan pesta yang manis, glamor, elegan, dan mewah, secara nggak sadar orang akan mematok standard pernikahan macam itu. Kalau ada yang kurang manis, glamor, elegan, atau mewah, otomatis akan dianggap ‘kurang sesuai standard’. Itu baru Instagram, belum Facebook, Pinterest, Twitter, atau lainnya. Dan itu juga baru Raisa-Hamish, belum Rachel-Okin atau Dion-Fiona. Banyak banget lah.

Ngeri sih, karena faktanya nggak semua lapisan masyarakat mampu mewujudkan pernikahan sesuai standard ngawur tersebut. Sedangkan di sisi lain, pengguna media sosial bisa berasal dari berbagai kalangan. Alasan inilah yang kemudian membuat nggak sedikit orang tergiur promo gila-gilaan. Orang akan melakukan apa saja demi mewujudkan mimpi mereka menikah layaknya putri kerajaan.

Saat ini sudah puluhan orang jadi korban tipu-tipu Khalisa WO, termasuk seorang jurnalis Tempo yang baru sadar dirinya kena tipu dua hari menjelang hari bahagianya!

Banyak korban via surabaya.tribunnews.com

Kembali lagi ke Khalisa WO. Berdasarkan penyelidikan sementara, setidaknya sudah 30 orang jadi korban jasa pernikahan abal-abal ini. Salah satunya ternyata adalah jurnalis Tempo, Imam Hamdi. Kepada Harian Radar Depok, dirinya mengaku telah menggunakan jasa WO Khalisa untuk mempersiapkan pernikahannya yang diselenggarakan Minggu (17/9) kemarin. Mulanya tak ada yang janggal, pembayaran juga sudah dilunasi, sampai pada H-2 acara, WO tersebut tak kunjung ada kabar. Bahkan setelah dilakukan cross check ke pihak gedung, ternyata belum ada pembayaran masuk kesana. Tak butuh pikir panjang, Hamdi langsung melaporkan kasus itu ke Polresta Depok.

Meski sudah diamankan, sebagai konsumen sih sebaiknya kita tetap waspada terhadap segala bentuk penipuan. Apalagi kalau sampai mengiming-iming promo nggak wajar. Bisa dapat harga murah memang menyenangkan, tapi kalau sekiranya terlalu jauh dari harga standard sih lebih baik nggak usah lah daripada kena tipu!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya