Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu

Masih ada seperti dulu…,

Nostalgia tentang Jogja yang terabadikan dalam lagu tersebut, mungkin mulai kehilangan maknanya. Jogja versi nyatanya sekarang tampaknya makin jauh dari gambaran dulu yang bikin banyak orang merindu. Tiap sudut kota tak lagi bisa menyambut dengan bersahabat karena penuh konstruksi bangunan baru yang menganggu pemandangan dan penuh polusi suara. Apalagi ketika kamu harus mulai mencari jalur alternatif untuk menghindari macet di akhir pekan. Seketika itu juga pikiranmu dilanda kebingungan sesaat, ini jogja apa jakarta ya?

Terusiknya kenyamanan Jogja ini memang sudah jadi topik perbincangan hangat dalam lima tahun terakhir. Bukan lagi cuma long weekend ketika Jogja dibanjiri turis lokal maupun mancanegara, hari-hari biasa di Jogja pun sudah banyak dinilai berubah jadi tidak nyaman. Sayang ya jika kota istimewa yang terkenal berhati nyaman ini akhirnya tak bisa lagi membuatmu merindu.

Pembangunan mall, hotel, dan apartemen makin gila-gilaan, izin seolah begitu mudah diberikan

Lihat kemana-mana yang nampak hotel tinggi via paragibma.blogspot.com

Seringkali ketika menanyakan alamat seseorang, eh sekarang malah hotel yang dijadikan patokan. Karena sebegitu banyaknya hotel-hotel di Jogja saat ini? Ke utara ketemu hotel, ke selatan ketemu apartemen, ke timur ketemu mall, ke barat ketemu losmen. Jogja dulu disebut kota angkringan, sekarang lebih banyak mana, angkringan atau penginapan? Tahun 2015 saja, jumlah hotel di Jogja telah mencapai jumlah 1.160 unit. Apa sekarang justru ini letak keistimewaannya?

Advertisement

Dari total unit tersebut, 60 diantaranya merupakan hotel bintang dengan 6000-an kamar dan 1100 hotel lainnya ialah kelas melati dengan 12.660 kamar. Belum lagi tahun ini, dilansir Tempo, ada tambahan 10 hotel bintang tiga yang berdiri di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Apa jumlah akhir hotel-hotel ini nggak mencengangkan dan melebihi kapasitas dari wisatawan yang datang ke Jogja sendiri? Mungkin inilah saatnya, pemerintah setempat menilik ulang perihal perizinan pendirian hotel, mall, apartemen atau bangunan apapun yang menjulang tinggi. Semoga semakin dibatasi.

Papan reklame secara masif justru jadi hiasan di tiap sudut kota. Mungkin itu memang tanda perekonomian menggeliat, tapi tetap saja ‘kan mengganggu pandangan

Sampah visual ada dimana-mana~ via www.radarjogja.co.id

Apa salah ketika beberapa orang beropini, bahwa reklame-reklame itu perlahan makin menenggelamkan banyak identitas budaya Jogja? Dulu, sebutlah lima tahun lalu, sampah visual masih ada di taraf banyak, belum banyak sekali seperti saat ini. Apakah sebuah hal yang keliru, ketika beberapa kalangan menilai pemerinta kota Jogja lebih mementingkan pendapatan dibanding menegakkan aturan?

Tengoklah di seantero Jogja, begitu banyak reklame luar ruang yang bahkan terpasang di lokasi terlarang. Reklame berukuran super besar banyak tersebar di jalan protokol dan pusat keramaian serta perbelanjaan. Hampir seluruh simpang perkotaan dijejali reklame berukuran besar, jumlahnya lebih dari satu. Sebut saja simpang jalan Gondomanan, Wirobrajan, dan Jalan Solo misalnya. Semoga penertiban reklame bisa jadi salah satu resolusi pemerintah kota di tahun 2017 mendatang ya. Semoga tak ada lagi reklame yang menghalangi rambu lalu lintas dan mengganggu para pengendara.

Kemacetan di Jogja pun makin kemari makin menjadi hal yang butuh perhatian serius. Asal kamu tahu, jumlah kendaraan bermotor di Jogja bertambah sebanyak 8900 unit setiap bulannya

Kemacetan di Jalan Mataram, Jogja rasa Jakarta via jogjapos.com

Kalau dulu Jogja sempat dikenal pula dengan sebutan kota sepeda, kini hal tersebut sudah benar-benar pudar nampaknya. Karena data menyebutkan bahwa jumlah kendaraan bermotor bertambah 8900 unit setiap bulannya, maka kemacetan pun bermunculan secara sporadis dan tak lagi terhindarkan. 5 tahun lalu, bukankah jalanan Jogja hanya padat di saat-saat tertentu saja? Pada jam berangkat dan pulang sekolah atau kerja misalnya, atau saat libur panjang sudah datang. Sekarang? hampir setiap jamnya, jalanan Jogja sangat padat dan cenderung macet. Mau nyebrang aja susah.

Makin banyaknya kendaraan pribadi, tentu juga merupakan dampak dari minim dan buruknya angkutan umum di Jogja. Bukankah begitu teorinya? Dulu, bus kota lebih mudah ditemukan, di daerah Sleman juga ada angkutan kota berwarna kuning, minibus Jogja-Kaliurang juga masih mudah ditemui. Sekarang? Trans Jogja juga tak banyak dan tak semua jurusan tersedia. Angkutan umum lainnya pun bisa dibilang mulai tergusur dengan taksi dan ojek berargo. Kalau dulu kamu menganggap pengendara di Jogja dibanding di Surabaya misalnya, agaknya saat ini hal tersebut tak jauh beda.

Lalu sejatinya, Jogja ingin jadi kota seperti apa? Haruskah melunturkan identitas untuk mengikuti arus modernitas? Ah Jogja, semoga kenyamananmu kembali seperti sedia kala

Harusnya Jogja berhati nyaman ‘kan? via isigood.com

Kalau Surabaya ingin menjadi smart dan green city, Bandung ingin jadi basis kota kreatif dan smart city, lalu kemana Jogja akan berevolusi? Mungkin benar kalau ada orang yang beranggapan bahwa inilah konsekuensi nyata dari sebuah modernisasi. Bukan juga bermaksud menyalahkan fakta atau menolak modernisasi itu sendiri, atau bahkan menginginkan Jogja yang orisinil seperti dirancang Pangeran Mangkubumi. Tapi, bukankah siapapun menginginkan Jogja tetap nyaman di tengah arus modernisasi yang entah kapan akan berhenti?

Kota merupakan perwujudan fisik dari artikulasi kebudayaan sebuah masyarakat
Tentang hotel, mall, apartemen, reklame dan segala tetek bengek yang mengiringi, bukankah segalanya berorientasi pada rupiah? Kalau dulu, Merapi bisa dipandang dari kejauhan, sekarang sudah tak lagi nampak karena tertutup baliho dan reklame. Tidakkah kamu menginginkan Jogjamu kembali? Harusnya pemerintah berpihak kepada rakyat, bukan kepada para investor yang tamak. Kamu sepakat?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya