Jika Seno Gumira bersabda tentang Sepotong Senja, maka izinkan aku untuk bercerita cinta tentang Jogja.

Sudah 26 dasawarsa semenjak ia lahir dari pena Palihan Nagari. Ia lebih dari sekedar singgasana bagi cahaya sang surya atau sekedar lukisan dalam peta. Ia-pun lebih dari sekedar lahan yang tertanam pohon dan beton dengan eskalator-eskalator di dalamnya yang mencoba menjangkau bumi.

Jogja adalah secercah rindu yang tersusun dari jalanan, angkringan, dan lampu kota.

Budaya-budaya yang dimilikinya telah melebur bersama udara menghidupi rakyat Jogja.

Pada setiap tetes keringat bapak tani, di sana terselip doa yang mengamini ‘karta’ bagi Jogja. Pada setiap dinding-dinding tua di tengah kota, di sana terukir darah juang yang menghapus garis pada “J-O-G-J-A-K-A-R-T-A”.

Advertisement

Dan pada setiap fabel dan pada setiap puisi yang dibacakan di bangunan sekolahan, di sana tersimpan semangat berkarya para cendekiawan. Aku ingat saat pertama kali menapakkan kaki di Jogja. Ibu-ibu penjual angkringan menawarkanku keramahan. Dan balik kusambut biji matanya yang mengarah kebarat searah dengan matahari yang menutup syair dan lembaran buku filsafat.

Di bawah ladang bintang aku bersimpuh. Menikmati lalu-lalang kendaraan, kepulan asap tipis dan arakan awan yang tersipu malu berjalan. Dibaliknya bulan kecil tersenyum. Seolah berharap tiada hujan datang melukai bintang-bintang. Lalu kini seiring detik melingkar, tidak lagi diriku menganggap bintang-bintang dan awan adalah pemandangan, tetapi, hati kecilku berkata bahwa mereka adalah teman. Mereka selalu setia menemani langkahku menyusuri gelap malam.

Dan mereka telah mengenalkanku pada mentari, yang menyinari hariku dengan cahaya penuh kasih sayang dikala siang. Ia menuntun mataku untuk melihat rumput-tumput berdansa, dan menuntun telingaku untuk mendengarkan cerita burung-burung minggu pagi. Jogja memiliki caranya sendiri untuk membuatku nyaman.

Dialah metropolitan yang menawarkan hasrat menenangkan, dengan, angklung dan beberapa baris nada di lampu merah, pedagang-pedagang Malioboro yang tersenyum ramah tamah, bunga layu di pasar kembang, kunang-kunang di padang ilalang, tikar dan jagung bakar yang mengitari beringin kembar, serta embun-embun yang bercinta dengan pucuk daun di pinggir jalan. Jogja tak pernah lupa cara untuk membuatku mencintainya.

Jogja adalah mosaik yang menilas, membungkus puisi dan narasi indah yang selalu membekas. Sampai jika aku harus meniggalkan Jogja, itu berarti aku bersepakat pada diriku untuk menanamkan rindu kepada Jogja.

Selamat hari jadi Jogjakarta yang ke-260 tahun!