Keliru jika selama ini kamu menganggap bahwa satu – satunya cara untuk bisa sekolah adalah dengan duduk di bangku kelas dan berada di bawah sistem sebuah lembaga atau institusi. Nyatanya, ada satu metode pembelajaran yang tidak mengharuskan para muridnya mengenakan seragam dan datang sebelum jam 7 pagi, metode tersebut bernama homeschooling atau sekolah rumah.

Pada dasarnya homeschooling sendiri sudah banyak diterapkan oleh para orangtua yang menganggap bahwa anak sebaiknya diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi banyak hal dan mendalami pelajaran sesuai minat yang disukai, daripada mengikuti pelajaran demi pelajaran di sekolah formal. Untuk itulah, kali ini Hipwee News and Feature akan mengulas mengenai metode ini lebih dalam.

Homeschooling merupakan metode pembelajaran yang menitikberatkan pada peran orangtua

Orangtua sebagai kendali via www.stayathomemum.com.au

Homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga yang masuk dalam jalur pendidikan informal dan diatur keberadannya dalam UU no 20/2003. Dalam hal ini orangtua yang mengambil alih proses pendidikan anak karena pada dasarnya orangtua lah yang paling mengerti sifat dan karakter anak-anaknya. Acuan utama metode ini ada pada orangtua, apakah akan diajarkan secara langsung atau perlu mendatangkan guru les pada beberapa mata pelajaran yang tidak dikuasai.

Ketika pada akhirnya orangtua memilih metode ini untuk pendidikan anaknya, otomatis semua sistem pengajaran dikelola oleh orangtua tersebut secara mandiri, mulai dari akan mengambil kurikulum yang mana (dalam atau luar negeri), buku – buku apa saja yang menjadi literatur sampai pada aturan jam belajar di rumah.

Banyaknya lembaga homeschooling yang bermunculan membuat substansi dari metode ini menjadi salah kaprah

Advertisement

Homeschooling di lembaga via homeschooling-primagamabekasi.com

Menurut praktik yang umum di seluruh dunia, homeschooling bentuknya adalah keluarga, bukan lembaga. Banyaknya lembaga homeschooling yang bermunculan belakangan ini sebenarnya membuat makna dari homeschooling menjadi salah kaprah. Ketika istilah homeschooling bergeser menjadi lembaga, maka substansi homeschooling itu menjadi hilang.

Orangtua kembali akan “menitipkan” anak dan menyerahkan semua pembelajaran pada lembaga tersebut. Meski tanpa seragam, jam yang lebih fleksibel serta jumlah murid yang lebih sedikit dalam satu kelas, kemandirian dan keterlibatan aktif orangtua dalam pendidikan anak-anaknya menjadi hilang. Ada baiknya kehadiran lembaga ini digunakan untuk membantu jalannya homeschooling di rumah. Sedang aktifitas homeschooling tidak kemudian diserahkan sepenuhnya pada lembaga.

Bagaimana anak homeschooling mendapatkan ijazah?

Ujian Paket C via www.hipwee.com

Anak homechooling tetap bisa mendapatkan ijazah untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya termasuk perguruan tinggi negeri maupun swasta. Untuk SD bisa diikutkan ujian paket A, paket B untuk setara SMP, dan paket C untuk setara SMA. Beberapa selebriti tanah air yang menjalani metode homeschooling juga menjadi peserta Ujian Paket untuk bisa mendapatkan ijazah di antaranya ada Stuart Collin, Aurel, dan juga Mikha Tambayong.

Meski terlihat mudah dan lebih fleksibel, sebelum memilih homeschooling sebagai metode yang akan dijalani, pikirkan juga tentang plus – minusnya berikut ini

Plus-minusnya via blog.duitpintar.com

Selain fleksibel dan tidak terlalu baku di bawah aturan sebuah sekolah, homeschooling juga memiliki kelebihan lain, di antaranya;

  • Biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan keadaan orangtua
  • Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan dalam model sekolah umum
  • Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah
  • Lebih siap untuk terjun di dunia nyata karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya
  • Lebih terjaga dari paparan dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, narkoba, pornografi, mencontek, dsb)

Namun di balik itu, ada beberapa hal yang menjadi poin minus dalam homeschooling yang menjadi perhatian dan mungkin juga pertimbangan. Seperti;

  • Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orangtua
  • Orangtua harus selalu belajar materi pelajaran anak
  • Sosialisasi relatif rendah. Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial
  • Ada risiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim  organisasi, dan kepemimpinan
  • Perlindungan orangtua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi

Menilik akan hal ini, pilihan akan jatuhnya metode yang akan diambil bergantung pada banyak aspek. Selain kemauan si anak, lingkungan dan juga keluarga tentu merupakan support system yang harus bekerja sama demi keberhasilan homeschooling. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya