Pendidikan di Indonesia bisa dibilang belum memiliki kualitas yang baik. Entah itu soal infrastruktur, kurikulum, sampai pemerataan pendidikan itu sendiri. Pun belum semua masyarakat Indonesia yang bisa beruntung mencicipi bangku pendidikan di Indonesia. Hal ini tak luput dari perhatian para mahasiswa. Mereka sebagai agen perubahan, sering dianggap sebagai garda terdepan untuk menghadapi permasalahan bangsa ini di masa depan. Mahasiswa juga dinilai punya fungsi kontrol sosial.

Dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional kali ini, Hipwee telah mengumpulkan beberapa pendapat mahasiswa Indonesia soal pendidikan yang bagaimana sih yang bagus untuk Indonesia. Yuk simak harapan mereka tentang pendidikan di Indonesia!

1. Mahasiswa Undip ini bicara soal pemerataan pendidikan yang bisa berdampak pada pemerataan pembangunan.

Pada kesempatan wawancara dengan Hipwee, Ardian menekankan bahwa pendidikan Indonesia yang perlu dibenahi soal pemerataan infrastruktur yang bakal berarti buat pemerataan pembangunan juga.

“Soal pekerjaan rumah, itu cuma bikin anak-anak makin terbebani. Kurikulum juga harus dibenahi, masa adek gue kelas 5 SD, pelajarannya susah-susah banget. Sampe gak bisa ngajarin gue. Gue sih lebih nekenin minat dan bakat serta kemampuan setiap anak-anak, jangan semua mata pelajaran dijejelin ke anak. Bisa mabok nanti,”

 

2. Semua orang tak pandang bulu, kata mahasiswa UGM ini, punya kesempatan sama buat merasakan bangku pendidikan.

Advertisement

Gede Eka yang pernah merasakan sekolah di desa mengatakan bahwa pemerataan pendidikan harus dilakukan pemerintah pusat Indonesia. Ia mengatakan pernah mengalami kurangnya fasilitas dan berbeda sekali ketika ia mengalami infrakstruktur kuliah di UGM.

“Semua orang harus punya kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan. Soalnya masih banyak yang gak beruntung dan gak bisa sekolah karena masalah biaya,”

3. Kinerja dan kualitas pengajar juga penting buat kemajuan pendidikan Indonesia.

Dalam kesempatannya, Bella lebih menekankan pada masalah pengajar di Indonesia. Menurutnya, problem itu emang mesti dibenahi. Sebab, kinerja seorang pengajar akan sangat berpengaruh pada kemajuan para siswa. Misalnya, keahlian seorang guru dalam satu konsentrasi harusnya ditempatkan di konsentrasi yang dia kuasai.

“Jangan sampai ada guru Kimia malah ngajar Bahasa Indonesia. Dan itu kasus yg emang lumrah terjadi di Indonesia,”

Satu hal lagi, seorang guru harus berpikiran terbuka, selalu berpikiran positif dan profesional. Jangan sampai, masalah di rumah atau masalah pribadi di bawa ke sekolah.

4. Hal yang penting dan utama adalah prosesnya. Gak melulu soal hasil.

Berbeda dengan yang lain, Aldino bilang kalau pendidikan Indonesia itu harus fleksibel. Dino juga mengatakan kita kudu merubah pola pikir di mana nilai bukan segalanya dan hasil bukanlah tujuan utama, tapi yang penting proses.

“Kejujuran, tanggungjawab, disiplin adalah kunci utama yg harus ditanam dalam pendidikan sedari dini, mendidik tidak bisa mendadak,”

5. Menanamkan nilai kejujuran juga penting dalam pendidikan Indonesia.

Menurut Octa, pendidikan di Indonesia seharusnya fokus, jangan memaksakan seseorang untuk mempelajari semua bidang. Menurutnya, pendidikan di Indonesia harus memaksimalkan potensi kreativitas siswanya. Guru harus memberikan kebebasan walau salah, tapi tetap dihargai.

“Guru jangan kebanyakan nuntut siswanya buat menjawab dengan benar dan textbook. Penilaian tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur, selama ini pendidikan di Indonesia mengutamakan nilai-nilai, tapi belum mengutamakan kemampuan siswanya dan belum  banyak menanamkan nilai kejujuran,”

 

6. Pemerintah harus mulai memikirkan pemerataan pendidikan.

Gak jauh beda sama pendapat mahasiswa-mahasiswa sebelumnya, pemerataan pendidikan di mana desa dan di kota jauh beda. Selain itu, Arlita juga mempertanyakan tentang banyaknya mata pelajaran yang dipelajari siswa-siswa Indonesia.

“Pengaplikasian setiap pelajaran itu gimana dan perlu dipertanyakan manfaatnya. Apakah pelajaran itu bisa dipake di kehidupan sehari-hari? Apakah ke depannya bisa aplikatif di dunia kerja nanti?”

7. Sekolah jangan cuma ngasih pelajaran wajib, tapi juga berkomitmen mengembangkan bakat dan minat siswa.

“Coba lihat wajah pendidikan kita sekarang, dijejal dengan banyak mata pelajaran wajib yang (aku yakin) murid-murif di sekolah aja belom tau ‘cos, ‘sin’ atau ‘tan’ itu dipake buat apa ke depannya,”

Cewek yang akrab dengan panggilan Gigi itu mengatakan karena kewajiban mempelajari hal-hal seperti itulah yang membuat karakter anak Indonesia yang penting lulus dan kejar kewajiban. Maka dari itu, menurutnya, pendidikan karakter itu sangat penting.

Ia juga mengatakan harusnya pendidikan Indonesia tak melupakan pentingya mengutamakan minat dan bakat siswa. Anak Indonesia harus punya passion, punya rasa, dan tau minat sama bakatnya. Penting jangan karena keterpaksaan.

8. Pendidikan moral dan karakter anak juga harus masuk dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Pendidikan Indonesia, kata Indri, gak harus cuma ngajarin hal-hal akademik doang. Tapi juga harus mampu memberikan pendidikan tentang moral dan karakter dan hal-hal non akademik lainnya.

“Pendidikan yg bermutu juga harus mampu menjangkau semua kalangan, jadi ga cuma orang-orang kaya aja yang bisa nikmatin pendidikan yang bermutu,”

 

9. Pendidikan harus merata dan tepat sasaran!

Merata yang dimaksud Wahyu adalah semua wilayah punya kurikulum sama, tenaga pengajar yang sama kompeten, biaya pendidikan sama, fasilitas memadai dari barat sampai timur.

Menurutnya, pendidikan juga harus tepat sasaran dalam artian materi pendidikan yang diberikan sesuai dengan umur dan perkembangan otaknya.

“Kan banyak tuh sekarang anak SD udah dibebankan banyak pelajaran yang menurutku terlalu berat untuk umurnya,”.

Wahyu juga bilang kalau banyak materi pendidikan di Indonesia yang useless. Meskipun informatif, tapi pada akhirnya ketika dewasa kita sendiri akan lupa dengan itu dan gak kepake deh di kehidupan sehari-hari.

“Kurikulum indonesia juga agak bermasalah menurutku, seni dijadikan ekstrakurikuler, beda sama MIPA dan lain-lain dijadikan pelajaran utama. Padahal semuanya sangat penting untuk dipelajari, karena kita nggak akan tau akan jadi apa ketika dewasa kelak,” ungkap Wahyu.

10. Pendidikan Indonesia harus mulai berkaca pada sistem pendidikan di Finlandia.

Bicara soal pendidika Indonesia, kata Sayahrizal, bikin kita sakit hati. Alasannya, pendidikan Indonesia itu jalan di tempat.

“Sepengalaman kita yang sudah melewati semua jenjang pendidikan, bisa kita sadari bahwa pendidikan Indonesia itu berjalan di tempat,”

Menurutnya, siswa Indonesia terlalu dicekoki dengan hal-hal yang teoritis dan itulah kenapa Indonesia harus banyak belajar mengenai sistem pendidikan kepada Finlandia.

Gimana? Kalian punya pendapat sendiri soal pendidikan di Indonesia? Jangan sungkan buat kasih pendapat kamu di kolom komentar yak!