Akhir-akhir ini lambang Palu Arit ramai dibicarakan sejak lambang tersebut banyak digunakan oleh generasi muda sebagai “aksesoris”. Sebenarnya pada bulan Februari 2015 lalu, Anindya Sang Putri Indonesia juga sempat membuat heboh karena menggunakan kaos Palu Arit saat kunjungannya ke Vietnam. Apa sebenarnya makna dibalik lambang Palu Arit hingga membuat reaksi generasi “tua” kita sampai sebegitunya? Ada kisah apa pada tahun 1965 hingga kini banyak dikuak lagi?

Mungkin kamu pernah mendengar bahwa buku sejarah yang dulu kita baca hanya melihatnya dari satu sisi. Untuk melengkapi pengetahuan sejarahmu tentang apa yang terjadi pada tahun 1965, novel-novel ini siap dengan lugas bisa melakukannya. Tidak menggurui seperti buku sejarah umumnya, novel-novel ini cukup “renyah” untuk membuatmu larut di dalamnya.

Komunisme boleh saja dilawan (dan menurut saya harus dilawan). Caranya adalah dengan mengetahuinya. Bagaimana kita dapat mengambil sikap terhadap salah satu gerakan politik paling berpengaruh di abad ke-20 apabila dasar-dasar politiknya tidak dapat kita kritik? Bagaimana kita dapat mengkritik apabila kita tidak mengerti apa yang mau kita kritik? -Franz Magnis Suseno

1. Novel Kalatidha milik Seno Gumira Ajidarma akan membayar ketidaktahuanmu tentang Palu Arit.

Seno Gumira Ajidarma via kompas.com

Aku belum selesai menggambar ketika seorang anak berteriak, bahwa aku menggambar palu arit. Mendadak seluruh anak laki-laki di kelas mengerumuni mejaku, bau keringat mereka yang apak selalu terasa kembali olehku. Aku merasa gerah, namun tetap tenggelam dalam keasyikanku. Wajah teman-temanku kurasa sudah sama ganasnya dengan orang-orang yang memburu orang sampai masuk kelas waktu itu.
“Bapakmu PKI , ya?”

Advertisement

Mengisahkan tokoh Aku yang semasa kecilnya melihat pencidukan paksa orang-orang yang dianggap terlibat Partai Komunis. Waktu itu ia tak paham apa arti komunisme dan kenapa lambang palu arit begitu dipermasalahkan. Sejarah yang mengerikan telah berhasil Seno Gumira tuliskan dalam kisah di novel ini dengan menyinggung sisi kemanusiaan dan mengisahkan betapa buramnya politik saat itu.

2. Gambaran pergerakan komunis bisa kamu baca di novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk via ariyanto.wordpress.com

“Kekalahan di bidang politik adalah kesalahan hidup secara habis-habisan dan akibatnya bahkan tertanggung juga oleh sanak-famili.”

Mengisahkan tentang Srintil, seorang penari Ronggeng dari Dukuh Paruk dan Rasus, seorang tentara yang terlibat asmara dan dekat dengan Srintil sejak kecil. Srintil yang awalnya cuma menari kemudian dekat dan masuk dalam jebakan Partai Merah. Lalu A. Tohari menceritakan hancurnya sebuah Dukuh bernama Paruk secara fisik maupun mental akibat kebodohan masyarakatnya sehingga mereka dicap sebagai manusia-manusia yang menggoyahkan tatanan negara.

3. Kisah Palu Arit dalam balutan cinta ada dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori.

Novel Pulang via tanamidekreasi.com

“Siapa gerangan yang menciptakan diorama? Apakah sejak semula itu dibuat untuk alat informasi, pendidikan, propaganda, atau hiburan? Atau semuanya sekaligus? Apakah penciptanya kelak tahu bahwa diorama bisa digunakan secara efektif sebagai dongeng bagi anak-anak sekolah, tentang bagaimana negeri ini terbentuk menjadi sebuah negeri penuh luka dan paranoia?”

Leila membuat cerita yang sangat apik dalam novel ini, walaupun penuh romantika, ia tak menghilangkan sedikitpun “fakta” politik dari fiksinya. Kemampuan Leila dalam menciptakan karakter memang luar biasa, Dimas Suryo dan pergulatan batinnya tentang ideologi Kiri adalah bukti pemikiran cerdasnya. Dia juga menciptakan dialog yang mengagumkan tentang betapa menyakitkannya peristiwa 65 dalam bungkus kisah cinta yang tiada habisnya.

4. Amba karya Laksmi Pamuntjak juga mengemas kisah tragis Palu Arit dalam romantika.

Laskmi dan karyanya yang laris di negeri asing via kaykakayka.wordpress.com

“Adalah Bapak yang menunjukkan bagaimana Centhini sirna pada malam pengantin… Adalah Bapak yang mengajariku untuk tidak mewarnai duniaku hanya Hitam dan Putih, juga untuk tidak serta-merta menilai dan menghakimi. Hitam adalah warna cahaya. Sirna adalah pertanda kelahiran kembali.”

Senada dengan Pulang yang membalut peristiwa 65 dalam kisah cinta, Laksmi memilih diksi yang lebih tajam dalam setiap ceritanya. Ia menekankan tentang betapa bengisnya apa yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini bukan hasil karangan Laskmi semata, ia telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun dan melakukan banyak interview di pulau Buru. Kerja keras Laksmi ini berhasil menghadirkan momok tahun 65 di hadapan pembaca dengan jelas secara lengkap mendekati sempurna. Mereka yang membacanya akan bergumam bahwa buku sejarah sebenarnya tak pernah menjelaskan apa-apa.

5. Gaya tulisan khas Eka Kurniawan dalam Cantik Itu Luka bisa memberimu sudut pandang yang berbeda.

“Communism was born from a beautiful dream, the likes of which there will never be again on the face of this earth: that there would no longer be lazy men who eat their fill while others work hard and starve.”

Novel yang juga dikenal dengan judul Beauty is a Wound ini merupakan novel yang benar-benar menggebrak bagaimana novel bertemakan sejarah selama ini ditulis. Eka tak menggunakan riset tapi lebih mengutamakan imajinasinya. Ia memiliki gaya tulisan yang unik, oran-orang awam lebih senang menyebut gaya tulisannya “gila”. Tentang peristiwa G30S PKI, dia pun tak mau meninggalkan gaya berceritanya yang “ngawur”, tapi mewakili jeritan hati dari tiap peristiwa itu. Peristiwa 65 itu ia gambarkan dengan memperlihatkan sisi lain, sisi yang tak masuk akal tapi penuh intrik dan akan membuatmu menyadari beberapa hal yang tak pernah terpikirkan.

6. Tanpa terang-terangan mengupas politik, Ratih Kumala dalam Gadis Kretek tetap menggelitik.

Novel Gadis Kretek via matrislonda.blogspot.com

“Pengusaha rokok tenar itu ditangkap, disiksa, dan dinterogasi karena kemasan rokoknya berwarna merah; warna PKI”

Kisah cinta, rokok, hingga menyentuh tragedi 1965 dihadirkan oleh penulis yang lahir tahun 80-an ini. Menulis cerita degan latar waktu yang cukup jauh dari waktu kelahirannya tampaknya tak menyusutkan kekuatan kisah yang ia bangun. Ia memunculkan ide luar biasa mengenai iklan kretek berbunyi “Sekali isep, gadis yang Tuan impikan muncul di hadepan Tuan”, sampai cara ia menyinggung betapa abu-abunya sejarah Indonesia tahun 1965. Ia mengisahkan tentang orang-orang yang harus menanggung segala akibat yang tak pernah ia perbuat.

7. Gitanyali dengan Blues Merbabu-nya membuktikan bahwa sejarah bisa jadi novel pop yang enak dibaca.

“Begitu pun Ayah, yang seingatku menatap bintang itu dengan bibir komat-kamit. Banyak yang bilang, lintang kemukus pada dini hari menjadi pertanda akan hadirnya bencana besar, huru-hara, zaman penuh malapetaka” (Blues Merbabu, 40)

Novel ini menceritakan tentang kisah seorang anak dari Desa Merbabu yang melihat pembantaian orang-orang yang dianggap berhubungan dengan PKI, ia melihatnya dengan kedua matanya sendiri. Novel ini bergenre pop, cerita sejarah dipadukan dengan kisah cinta menggebu. Tokoh utamanya bernama sama dengan penulis novel ini yaitu Gitanyali yag kemudian diketahui adalah nama pena dari salah seorang pekerja di surat kabar. Gitanyali juga membuat kelanjutan novel Merbabu Blues yang meneruskan kisah berlatar 1965 ini dengan novel berjudul 65.

Novel-novel di atas dibuat dengan segala jerih payah yang tak mudah, Ahmad Tohari pernah mengatakan dalam sebuah wawancara “Saya harus berhadapan dengan militer karena menulis novel”. Hari ini orang-orang ramai meneriakkan tentang ketakutan yang tak mereka ketahui dari mana asalnya dan apakah terbukti kebenarannya. Sejarah sulit terdekteksi kebohongannya, karya fiksi terkadang sangat jauh lebih jujur dibandingkan buku sejarah yang diatur oleh segolongan tertentu demi kepentingannya.