Saya selalu percaya bahwa tidak ada hal yang bisa hilang dari diri begitu saja. Kecuali saya memang tidak ingin mengikhlaskannya.

Dalam kasus ini saya ingin bercerita soal keperawanan yang secara sadar saya lepaskan. Dan perlu dicatat, saya tidak menyesal.

Satu hal yang masih jarang diceritakan soal melepas keperawanan adalah proses berdamai yang cukup panjang. Pasca menyerahkan hal paling privat dari diri kita tetap ada lubang yang tertinggal di sana. Mati-matian, saya berusaha menerima bahwa lubang itu sekarang ada. Kini lubang itu adalah bagian yang harus dirayakan dari diri saya.

Sejak dulu saya merasa keperawanan bukan satu-satunya patokan kehormatan. Tidak ada gadis yang retak selepas tidak perawan

Setelah memutuskan melepas keperawanan pada pria yang saya cintai, hidup tetap berjalan seperti biasa. Saya tidak berubah menjadi bitchy atau terus-terusan ingin melakukan hubungan seksual dengannya. Saya tetap pergi bekerja, memenuhi semua deadline yang kadang gila-gilaan, keluar bersama teman-teman agar kepala tidak meledak karena beban pekerjaan.

Orang bilang selepas tidak lagi perawan kamu akan merasa ada sesuatu yang hilang. Perempuan tidak perawan seperti guci retak yang susah diselamatkan.

Advertisement

Anehnya saya tetap merasa terhormat dengan keputusan saya untuk melepas keperawanan. Secara agama, jelas keputusan ini bukan keputusan terbaik yang pernah ada. Namun saya bangga pada diri saya sendiri karena berani memutuskan apa yang ingin saya lakukan pada tubuh saya. Selepas tidak lagi perawan saya tetap merasa lengkap.

Hubungan berakhir dan hidup berjalan. Sampai sekarang pria ini masih jadi teman. Karena saya merasa bukan korban

Setiap ulang tahun, hari besar, momen keberhasilan dan kesedihan — saya dan pria yang saya putuskan boleh mengambil keperawanan masih tetap bertukar kabar. Kami tidak sedekat dulu. Tapi kami juga tidak saling membenci.

Saya tidak merasa dipercundangi selepas kami tidak bersama. Hubungan berakhir, lalu hidup berjalan.

Lagipula dia tidak mengambil apa-apa dari saya. Keputusan menyerahkan keperawanan toh datang dari diri saya sendiri. Lucu kan kalau selepas tidak lagi bersama saya merajuk karena keputusan yang saya ambil tanpa paksaan dari siapapun?

Tapi dia tidak kehilangan apa-apa, sementara kamu korbannya. Begitu kata beberapa kawan dekat.

Mendengar pernyataan itu saya berpikir ulang. Selepas kami berpisah pria ini juga kehilangan saya. Tidak ada lagi gadis yang mengingatkannya makan, tidak ada yang menyapu keringat berlebih di atas hidungnya, tidak ada teman bercerita sepulang kerja. Soal ikatan fisik dia juga kehilangan tubuh yang bisa dipeluk. Tidak ada lagi partner untuk menyalutkan hasrat paling jujur sebagai manusia.

Jika semua ini dikalkulasi sebenarnya kami merasakan kehilangan yang setara.

Yang tidak pernah orang ceritakan, melepas keperawanan membutuhkan proses berdamai panjang. Langkah saya sering tertahan karena takut mengecewakan

Sekarang setiap dekat dengan pria saya selalu bertanya apa yang dia harapkan dari pasangannya. Apa yang jadi ekspektasinya. Setelah itu baru saya akan bercerita bahwa secara sadar saya sudah melepas keperawanan dengan pasangan sebelumnya.

Beberapa pria memilih mundur teratur. Beberapa lainnya menerima dengan terbuka. Ada mereka yang dengan terang-terangan langsung mengajak bercinta karena merasa saya bisa dengan mudah membuka diri. Ada juga yang malah mengajak diskusi panjang. Soal apa yang membuat saya rela melepas keperawanan, perjalanan hidup setelah itu, bagaimana saya berdamai dengan diri sendiri.

Jujur saja. Selepas memutuskan melepas keperawanan ada perasaan takut mengecewakan.

Belum semua pria memandang wanita lebih dari sebatas keutuhan selaput dara. Belum semua orangtua bisa ikhlas membiarkan anaknya bertanggung jawab atas keputusannya sendiri.

Selepas terbuka pada orangtua bahwa saya tidak lagi perawan mereka sempat menyalahkan diri sendiri. Padahal keputusan ini bukan karena didikan mereka. 25 tahun mereka mendidik saya dengan sempurna. Seharusnya mereka tidak merasa berdosa.

Saya tak pernah ingin waktu diputar ulang. Hidup tidak berhenti hanya karena saya tidak perawan. Saya sudah berdamai, lalu berjalan

Dunia lebih luas dari sekadar mengurusi hubungan seksual dan selaput dara saja. Masih banyak yang harus diperjuangkan dari hidup saya. Pekerjaan dan peningkatan jenjang karir menanti, pendidikan S2 harus segera dikejar dalam beberapa tahun lagi. Kenyataan bahwa saya sudah tidak perawan tidak mengasingkan saya dari berbagai kesempatan yang layak saya perjuangkan.

Saya tetap manusia yang sama, dengan impian-impian sama. Bedanya sekarang selaput dara saya sudah robek saja.

Sudah lewat masanya saya berdamai dengan rasa takut karena khawatir mengecawakan. Ketidakperawanan adalah bagian dari diri saya yang tidak bisa dipisahkan. Sekarang, saya memilih jujur dan merayakannya.

Tulisan ini tidak dibuat untuk mempengaruhi siapapun melepas keperawanannya. Sebelum mengambil keputusan itu, kamu perlu tahu apa yang mungkin kamu hadapi selepasnya.

Melepas keperawanan itu seperti mentato dahimu. Kamu harus tahu apa alasanmu melakukannya. Keputusan itu akan melekat padamu selamanya.