Susah move-on itu berarti kamu enggan melihat kesempatan baik yang ditawarkan hidup. Kamu terpaku pada apa yang telah terjadi di masa lalu dan terus menerus mengulang kenangan tersebut di otakmu. Tanpa kamu sadari, kebiasaan ini akan membuatmu sulit berkembang.

Tapi pada kasus tertentu, kamu boleh susah move-on. Pengecualian ini hanya boleh diaplikasikan pada keberhasilan yang layak diingat sebagai penyemangat dan untuk kasus-kasus yang belum selesai sehingga layak diusut tuntas. Dalam hal apa saja sih kamu, sebagai orang Indonesia, boleh susah move-on?

1. Indonesia Pernah Mengirim Tenaga Ahli Ke Malaysia

Kita pernah mengirim guru ke Malaysia via www.antaranews.com

Dewasa ini, hubungan transaksional tenaga kerja kita dengan negara tetangga kebanyakan sebatas mengirim tenaga yang bekerja di sektor non-formal. Celakanya, lemahnya perlindungan terhadap mereka membuka pintu bagi banyaknya kasus penyiksaan, yang ujung-ujungnya meningkatkan tensi antara Indonesia dan Malaysia.

Padahal selama periode 1960-1970, keadaannya berbalik. Kita sempat jadi pemasok tenaga ahli untuk Malaysia yang baru mendapatkan kemerdekaannya dan masih kekurangan tenaga kerja. Dalam kurun waktu tersebut Indonesia mengirimkan dokter, guru untuk mata pelajaran sains, serta tenaga ahli di bidang teknik.

Advertisement

Kenyataan bahwa Indonesia pernah mampu mengirimkan tenaga kerja ahli ke luar negeri pantas kita jadikan sebagai penyemangat. Kita bisa kok, bertaji sebagai bangsa. Selama lapangan kerja di dalam negeri mencukupi, kita tidak lagi perlu mengirim tenaga non-ahli yang rawan terkena kasus penganiayaan.

2. Kita Belajar Berdemokrasi Dengan Sangat Cepat

Perkembangan demokrasi kita terbilang sangat pesat via www.scmp.com

Indonesia baru mendapatkan demokrasinya pada tahun 1998. Satu tahun kemudian, pada 1999 kita sudah bisa melaksanakan pemilihan umum presiden secara langsung. Pada tahun 2004 pemilihan langsung bahkan berlaku untuk anggota DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan anggota DPD.

Indonesia hanya butuh 6 tahun untuk mewujudkan demokrasi yang secara utuh meletakkan kedaulatan di tangan rakyat. Bisa dibilang kita termasuk di antara bangsa tercepat yang mampu mengaplikasikan demokrasi dengan utuh.

Kita benar-benar melakukan pemilihan umum langsung via time.com

Bahkan Amerika Serikat, salah satu negara yang selalu mengusung retorika demokrasi dalam politik luar negerinya, tidak melakukan pemilihan langsung untuk menentukan Presiden dan Wakil Presiden (AS menggunakan electoral votes).

Harus diakui, saat ini demokrasi kita memang masih mahal dan belum sempurna. Tapi jika kita pernah bisa bertransformasi dari negara otoriter ke demokratis hanya dalam waktu 6 tahun, memperbaiki sistem demokrasi tentu bisa dilakukan.

3. Kita (Pernah) Memiliki Peran Penting Dalam Politik Internasional

64 tahun lalu bendera kita berkibar di UN pasca mendukung kemerdekaan Israel via www.algemeiner.com

Pasti ingat kan pelajaran sejarah SD yang menceritakan bahwa Indonesia jadi pelopor Gerakan Non-Blok? Yup, kita — yang notabene masih bangsa baru– pernah berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia. Kita pernah bisa dengan baik mengartikan prinsip politik luar negeri bebas-aktif yang kita anut.

Politik memang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh dan kekuasaan. Tapi figur pemimpin yang tegas, dalam arti tidak berubah-ubah ideologinya dan tahu bagaimana cara membangun hubungan baik dengan bangsa lain, bahwa siapapun sebenarnya memiliki kesempatan yang sama dalam kancah politik imternasional.

Kita akan segera menyambut pesta demokrasi pada pemilu Presiden dan Wakil Presiden di 9 Juli mendatang. Inilah saatnya kembali memilih calon pemimpin berintegritas yang bisa kembali mengangkat kita di dunia internasional.

4. Toleransi Beragama Sebenarnya Bukan Masalah

Penggambaran tokoh Soegija dalam film besutan Garin Nugroho via odagomarheinhard.wordpress.com

Pernah nonton film Soegija? Dia adalah pemuka agama Katolik yang berperan aktif dalam kemerdekaan Indonesia. Saat terjadi pertempuran lima hari di Semarang, beliau membuka gereja sebagai tempat perlindungan bagi masyarakat Semarang, tanpa peduli agama yang mereka anut.

Ada pula Almarhum Romo Mangun, pemuka agama legendaris dari Yogyakarta yang berperan aktif mengentaskan kemiskinan warga bantaran Sungai Code. Hingga kini, masih ada gerakan pencinta Romo Mangun yang datang dari berbagai latar belakang agama, berusaha melanjutkan perjuangannya.

Gus Dur, bapak toleransi dan pluralisme via muafaelba.blogspot.com

Kita pun punya Gus Dur, pemuka NU yang menjunjung tinggi pluralisme dan kebhinekaan. Kata-katanya yang terkenal soal kerukunan beragama:

“Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya agamamu.”

Tokoh-tokoh besar dari awal kemerdekaan dan pasca reformasi saja menjunjung tinggi kerukunan beragama. Lalu kenapa kita mudah membawa nama Tuhan dalam konflik antar manusia? Layakkah Dia jadi penyebab kehancuran kita sebagai bangsa?

5. Indonesian Diaspora

Rustono (tengah) jadi juragan tempe di Jepang via atikaluthfiyyah.blogspot.com

Indonesia Diaspora adalah fenomena keluarnya orang-orang berpendidikan dari Indonesia, kemudian menjadi leading figure dalam bidangnya di luar negeri. Sehat Sutardja, mantan WNI yang kini sudah menjadi WN Amerika Serikat adalah tokoh penting dalam pengembangan teknologi di Sillicon Valley.

Merasa dia sudah terlalu sukses dan udah bukan orang Indonesia lagi? Ada Rustono, WNI yang kini jadi pengusaha tempe sukses di Jepang. Sejak tahun 1997 Rustono memutuskan menetap di Jepang dan jadipengusaha tempe.

Tetap turun tangan sendiri membuat tempe via manzi87.wordpress.com

Kini tempe buatannya bisa ditemukan di hampir seluruh Jepang, Korea, Meksiko, Hungaria, Prancis dan Polandia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kita mampu bersaing di luar negeri sebagai tenaga ahli. Kita punya kemampuan dan kualitas untuk jadi leading figure, bahkan di level internasional sekalipun. Kalau kamu merasa nggak PD saat harus bersaing dengan ekspat, kamu harus ingat hal ini.

6. Prestasi Pelajar Indonesia Membanggakan Di Level Internasional

Tim Olimpiade Biologi Indonesia di Bern, Swiss via tobi.or.id

Walau kita dicekoki oleh puluhan mata pelajaran, meskipun kreativitas anak didik kita masih dibatasi penyeragaman dari Ujian Nasional, kita masih tetap mampu mengukir prestasi. Salah satu contoh saja, banyak pelajar kita meraih prestasi di Olimpiade Internasional.

Pada November 2013 lalu pelajar SD Indonesia menyabet 2 medali emas, 7 medali perak dan 4 medali perunggu dalam The Third Asian Science And Mathematics Olympiad for Primary School (ASMOPS). Dalam olimpiade yang sama Indonesia juga mendapatkan nilai tertinggi dalam bidang matematika.

Ini membuktikan bahwa secara kognitif, kita itu pintar dan bisa bersaing. Kualitas pelajaran yang kita terima tidak kalah dari yang diajarkan di luar negeri. Kamu merasa kalah saing dari temanmu yang bisa sekolah di Singapura? Ingat adik-adik SD tadi.

7. Gerakan Via Media Sosial Berjalan Cukup Bagus

Media sosial bisa jadi motor gerakan yang cukup mumpuni via sidomi.com

Selain buat galau dan curhat, sosial media ternyata bisa dimanfaatkan dengan cerdas oleh generasi muda kita. Lihat deh bagaimana anak-anak muda menggunakan sosial media untuk mendukung pilihannya di pemilu 9 Juli nanti.

Kampanye dari mereka lebih terkesan damai dan kreatif, dibanding kampanye saling menjatuhkan yang dilakukan partai.

Blogger juga ikut berpartisipasi via www.bloggerborneo.com

Kesadaran untuk menggunakan sosial media sebagai motor gerakan sosial sebenarnya bisa jadi modal bagus buat bangsa kita. Lihat Revolusi Mesir kan, yang terbantu karena anak mudanya berbagi informasi via Facebook dan Twitter? Hal macam itu juga sangat mungkin bisa terjadi di negara ini.

Mulai sekarang, ingatlah bahwa anak-anak muda kita sangat melek social media. Semua perubahan bisa digerakkan dari jari tangan. Mulai manfaatkan social media yang kamu punya untuk aksi sosial yang lebih nyata dari sekadar ngeluh dan galau.

8. Kita Punya Walikota-Walikota Ciamik

Kang Emil, Walikota Bandung yang gaul via fotografius.wordpress.com

Siapa sih yang nggak kenal Bu Risma dan Kang Emil? Belakangan memang santer fenomena munculnya tokoh muda dan baru di bidang politik. Mereka datang dari latar belakang non-politik, masuk ke masyarakat memang untuk bekerja dan menciptakan perubahan.

Kedatangan mereka adalah angin segar bagi negara ini. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada anak muda berintegritas yang peduli terhadap perubahan bangsa ini. Terobosan yang dilakukan Bu Risma dan Kang Emil di daerah pimpinannya jadi bukti kalau kita memang harus turun tangan dan ambil bagian kalau mau ada perubahan.

Gak Cuma Susah Move-On Dari yang Manis, Dari Hal-Hal Ini Kita Juga Gak Boleh Gampang Move-On

9. Lapindo Masih Terendam Lumpur

Belum ada kejelasan nasib bagi korban Lapindo via indonesiaexpat.biz

8 tahun sudah berlalu, dan Porong Sidarjo masih juga terendam lumpur. Semburan lumpur panas yang terjadi sejak 29 November 2006 sudah merendam sedikitnya 3 kecamatan dan masih terus meluas hingga hari ini.

Nasib mereka yang terpaksa terusir dari desa dan rumahnya karena kesalahan teknis pengeboran yang dilakukan oleh sebuah korporasi masih terkatung-katung.

Hingga hari ini, korban Lumpur Lapindo masih terus berusaha mencari keadilan bagi ganti rugi kehilangan mereka yang sebenarnya tidak akan terbayar dengan jumlah uang sebesar apapun.

10. Dosa ’65 Belum Sepenuhnya Lunas

Korban 1965 sudah tua, dan masih mencari keadilan via www.yapthiamhien.org

PKI, Komunisme, Gerwani bahkan lagu Genjer-Genjer (yang hanya bercerita soal sayur) masih dianggap jadi hal yang mengancam kesatuan nasional. Padahal, belum ada kejelasan apakah memang mereka, atau kader-kader tertentu dari tubuh mereka, yang menginisiasi pemberontakan dan pembunuhan terhadap perwira ABRI di malam 30 September 1965.

Tidak hanya simbol-simbolnya yang masih kita benci, mantan tahanan politik dan keluarganya juga masih mendapat stigma miring di masyarakat.

Walau status eks-tapol sudah dihilangkan dari KTP mereka, namun permintaan maaf resmi dari negara belum diterima. Selama belum ada permintaan maaf dari negara, maka dosa kita belum sepenuhnya lunas.

11. Wiji Thukul Masih Hilang, Pembunuhan Munir Belum Tuntas

Kasus Munir dan Wiji Thukul masih belum ada jalan terang via www.kindo.hk

Wiji Thukul, Suyat, Yadi Muhidin dan aktivis lainnya belum juga jelas kabar beritanya. Mereka masih hilang tertelan bumi. Entah memang tidak mau kembali, atau memang sengaja dihilangkan. Dosa Hak Asasi Manusia atas penghilangan aktivis belum tuntas.

Begitu pun dengan kasus pembunuhan Munir. Siapa yang sesungguhnya bertanggung jawab? Apa penyebab kematiannya? Mengapa Munir harus mati? Semua, masih jadi tanda tanya yang perlu kita pecahkan bersama.

12. Koruptor Masih Bisa Naik Banding dan Mendapatkan Hukuman Ringan

Koruptor layak mendapat hukuman seberat mungkin via nasional.kompas.com

Suatu kemajuan pesat kita punya pengadilan Tipikor. Tapi upaya pelemahan KPK dan Tipikor tetap perlu diwaspadai, supaya negeri ini tetap punya benteng pertahanan anti korupsi. Lagipula diluar sana masih banyak koruptor yang tidak hidup susah pasca tertangkap dan terbukti melakukan tindak korupsi.

Korupsi, adalah tindakan yang – menurut hemat saya – setara dengan pembunuhan massal. Aksi ini mengebiri hak kolektif masyarakat untuk mendapatkan pelayanan publik yang baik. Aksi memperkaya diri sendiri pantas dibalas dengan pemiskinan.

Aksi pembunuhan massal, layak dibalas dengan hukuman mati. Seorang koruptor yang melanggar sumpah sebagai pejabat dan melanggar hak konstitusional orang banyak, tidak sepantasnya dipertahankan hak konstitusinya untuk naik banding, apalagi mendapatkan hukuman ringan.

13. Penghargaan Terhadap Atlet Masih Jauh Dari Harapan

Penghargaan terhadap atlet masih kurang via simomot.com

Kita bersorak sorai saat tim U19 menang. Kita jadi orang pertama yang heboh di Twitter saat Indonesia melawan Cina di Uber Cup. Tapi apakah kita sudah memperlakukan atlet yang membawa nama baik bangsa ini dengan adil?

Gaji yang tidak dibayar tepat waktu, rendahnya penghargaan terhadap prestasi mereka, hingga tidak adanya jaminan kesejahteraan di hari tua membuat kita jadi bangsa yang mudah melupakan perjuangan baik.

Aksi demo menuntut Satinah diselamatkan via www.polimoli.com

Ketika Satinah, TKI yang terbukti bersalah membunuh majikannya diselamatkan dari hukuman pancung dengan uang negara. Mengapa kita tidak bisa menyelamatkan masa depan mereka yang membawa nama baik bangsa ini lewat olah raga?

Atau memang kita hanya tidak mau?

Itu adalah hal-hal yang layak untuk tidak mudah kita lupakan. Jangan khawatir diejekin susah move-on kalau kamu terus mengingat hal yang sudah Hipwee paparkan diatas, ya!