Bukan Tere Liye atau Pidi Baiq, apalagi Jonru. Kendati kalah populer, namun apa salahnya sejenak mengenal Aan Mansyur, seorang penyair yang masih cukup muda kelahiran Bone pada 35 tahun yang lalu. Seperti apa yang sering disampaikannya di beranda media sosialnya, cukup dengan kata yang sederhana untuk menjelaskan kepribadiannya; rumit. Dialah sosok di balik puisi-puisi yang disampaikan Rangga untuk Cinta dalam film yang terlanjur beken: Ada Apa Dengan Cinta? 2

…Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta
Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata
begitu pula rindu…
(Aan Mansyur, Tidak Ada New York Hari Ini)

Penyair yang baru saja merilis buku berjudul Sebelum Sendiri ini punya banyak cerita menarik yang dapat menginspirasi kalian–remaja yang punya ‘dendam’ ingin menjadi seorang penulis. Simak baik-baik ceritanya bareng Hipwee yuk!

1. Sejak kecil, Aan Mansyur tertarik dengan literatur. Mulai dari buku fiksi karya Helen Keller, Buya Hamka, sampai Pramoedya Ananta Toer

Dari kecil memang dekat dengan buku. Bukan persoalan takdir, semua punya kesempatan untuk membaca dari kecil pun… via polka.id

Semua penulis semua orang yang mengisi periuk dari ladang literasi atau kepenulisan kemungkinan besar adalah pembaca yang baik. Semua penulis seharusnya adalah pembaca yang tekun; mereka mencintai buku dan membacanya. Tak diragukan lagi, jika kalian ingin jadi seorang penulis, dekat-dekatlah dengan suka cita ‘membaca’. Seperti Aan Mansyur yang sedari SD sudah kenal dan mencintai buku-buku yang ‘beruntungnya’ berkualitas. Dari The Story of My Life-nya Helen Keller, Buya Hamka, Pramoedya sampai sajak-sajak Soebagyo Sastrowardoyo dilalapnya habis.

2, Orang-orang hebat biasa menulis buku harian, upaya yang cukup sederhana untuk menumpahkan sekelumit kegelisahan. Tak mau ketinggalan, Aan Mansyur pun melakukannya

Advertisement

Tidak ada yang salah dengan menulis, bahkan sekecil apapun itu. Paling tidak dengan menulis ada cara lain mengingat suatu hal via detik.com

Kamu ingin menjadi penulis, maka pegang erat-erat penamu dan tulis semua kegelisahanmu hari ini pada lembaran kertas catatan harian. Aan Mansyur kecil gemar sekali membaca buku di perpustakaan kakeknya, tapi ada satu syarat yang diberikan kakeknya saat itu; dia harus menulis catatan harian sebelum diizinkan membaca buku-buku di perpustakaan kakeknya. Aan kini sadar, semua yang dilakukannya tak ada yang sia-sia, dia berhasil menjadi penulis yang mapan.

3. Aan Mansyur merasa perlu membangun ruang berbagi, dan perpustakaan ‘Katakerja’ jadi jawaban atas keresahan Aan

Bayangkan dunia tanpa budaya membaca? Satu peristiwa paling mengerikan via muvila.com

Salah satu tanda kamu bakalan jadi penulis adalah kamu akan dihadapkan pada keinginan tak terbendung untuk membeli dan mengoleksi buku saat setelah gembira ria dengan membaca dan menulis. Sebuah keniscayaan jika setiap penulis memiliki berjubel buku-buku favorit di benak dan di kamarnya. Pun seperti Aan Mansyur, perpustakaan ‘Katakerja’ yang dibangunnya bukan hanya untuk melunaskan rasa puas mengoleksi buku, melainkan juga menjadi ruang kreatif para pengunjungnya.

4. Memberi perhatian lebih di ragam seni rupa dan film, karya Aan Mansyur meraih sukses lewat kolaborasi dengan para seniman

Bertukar-pikir dengan orang lain akan menambah wawasan bahkan memacu kalian lebih produktif. via medium.com

Adalah puisi-puisi yang membuka jalan bagi Aan Mansyur bertemu dengan seniman-seniman luar biasa yang dimiliki negeri ini. Sebut saja AADC 2, proyeknya bersama Riri Riza dan Mira Lesmana sukses melambungkan nama baiknya sebagai penulis muda negeri ini. Aan juga memiliki ketertarikan lebih dalam dunia seni rupa. Ketertarikannya itu diluapkannya dalam buku Melihat Api Bekerja. Dia paham betul ilustrasi dalam puisinya tak semena-mena ‘asal jadi’. Dia butuh kepiawaian seniman rupa macam Muhammad ‘Emte’ Taufiq untuk meramu ilustrasi yang pas dalam bukunya itu. Lain lagi proyek manisnya bersama sutradara Ismail Basbeth, 30 puisi dituliskan dan disuusunnya untuk merespons sebuah ide bertajuk Another Trip To The Moon.

5. Tentang karya-karya Aan Mansyur; jika ide tulisan adalah rumah dan pembaca adalah tamu, maka ia bangun pintu rumah itu dengan napas cinta

Selembar puisi di atas adalah hasil kolaborsi Aan Mansyur dengan seniman lain dalam sebuah kumpulan cerpen miliknya. via twitter.com

Menjadi seorang penulis bukan hanya persoalan menangkap ide atau gagasan saja, perlu ditekankan bahwa gaya penyampaian juga tak kalah penting, bahkan sering diutamakan. Penyampaian ide dan gagasan dalam tulisan erat kaitannya dengan daya retorika yang dimiliki oleh penulis, bagaimana seorang penulis memiliki sensibilitas dan merasakan apa yang diharapkan pembacanya sehingga tulisan-tulisannya selalu menarik pembaca. Aan Mansyur sebagai seorang penyair memiliki sensibiltas itu.

6. Aan Mansyur masih tergolong penulis muda tetapi namanya sudah layak bersanding dengan penyair-penyair ternama negeri ini

Dari kiri ke kanan, (Sapardi Djoko Damono, Aan Mansyur, Bernard Batubara, Joko Pinurbo). via satusungai.wordpress.com

Membaca dan menulis sudah menjadi hal wajib bagi penulis. Jangan sia-siakan, kirimkan karyamu ke berbagai media massa, ikuti beberapa ajang kompetisi menulis, apa pun itu. Perjuangan tak akan membawamu pada kemelaratan, apalagi jadi sia-sia. Aan Mansyur telah melakukan semua perjuangan yang demikian itu. Apa yang terjadi di luar dugaan. Dia menjadi penulis terkenal, namanya bersanding dengan penyair hebat negeri ini, sebutlah Sapardi Djoko Damono yang kerap dikaitkan dengannya. Ajang bergengsi seperti Kusala Sastra Khatulistiwa beberapa kali menyebut namanya dalam 10 nominasi pemenang prosa maupun puisi bertarung dengan nama-nama besar lainnya.

Aan Mansyur adalah sedikit contoh dari beberapa penulis hebat negeri ini, masih banyak lagi penulis-penulis hebat dengan perjuangan dan sikap hidup yang tak kalah menarik. Jika kalian ingin menjadi penulis sekaliber Aan Mansyur, apa yang telah dilakukan Aan bisa kamu terapkan. Alasan yang tepat untuk tetap menulis karena menulis adalah cara paling mujarab menyembuhkanmu dari luka, mengabadikan namamu dalam sejarah. Jika benar demikian, nama Aan Mansyur pun akan abadi bersama karya-karyanya. Semoga tulisan ini menambahkan ketertarikanmu menjadi seorang penulis.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya