Berlagak bicara politik nih, pertanyaan yang mengiang-ngiang di kepala sejak beberapa bulan lalu adalah “Apa yang terjadi dengan orang-orang Amerika Serikat sampai sembarang megalomaniak seperti Donald Trump bisa menjadi seorang kandidat presiden yang serius? Dari gambaran film-film Hollywood, ada banyak manusia unggul di negara kiblat sosial-politik dunia itu, kenapa yang dicalonkan menjadi orang nomor satu adalah seperti ini? Bahkan, selain dinilai punya masalah dengan watak, Trump juga terkesan tidak cukup cerdas untuk menjadi karakter pemimpin antagonis yang keren dalam sebuah naskah cerita. Lalu, apakah ini lelucon?”

Entah, tapi lelucon ini berkembang menjadi drama horor-komedi sejak Trump akhirnya resmi menjadi presiden Amerika Serikat ke-45 pada 8 November 2016 kemarin. Kini, orang Amerika Serikat mulai kelabakan serta bingung mencari penyebab dan kambing hitam dalam negara mereka sendiri. “Itu kan pilihan warga Amerika Serikat sendiri,” tukas Sukijah, pedagang minuman yang mangkal di Museum Vredeburg, Yogyakarta. Ya benar, mau menyalahkan siapa? Tapi mungkin kali ini kita sebagai orang asing yang suka menatap mereka dari kejauhan (meski pasti kena dampaknya juga) bisa sedikit ikut urun pendapat:

Pertama, kita harus mulai berhenti mengglorifikasi Amerika Serikat sebagai negara maju dan super power

captain america via www.newstatesman.com

Jangan terlalu silau dengan nama besar Amerika Serikat yang dicitrakan dengan sangat gemilap. Faktanya, seperti halnya negara lain, hanya sekian persen juga dari warganya yang punya intelektualitas atau pemahaman sosial politik budaya yang maju atau progresif. Masih banyak yang belum paham atau peduli dengan pentingnya toleransi beragama, emansipasi gender, atau pengurangan global warming.

Populasi mereka juga terdiri dari banyak orang-orang yang masih sibuk memperjuangkan kesejahteraannya sendiri, bergelut dengan kesulitan ekonomi yang meraung-raung. Sebagian lainnya bahkan merupakan khalayak yang merasa terganggu dengan imigran atau kaum muslim terkait isu terorisme dan lain sebagainya. Diduga keras orang-orang yang mungkin belum sempat baca buku sejarah dan mengerti bahwa tanah mereka memang tanah imigran inilah yang jadi penyumbang suara terbesar bagi Trump. Mereka yang disebut oleh media massa sebagai orang-orang pedesaan, kulit putih kelas pekerja, atau “bukan lulusan universitas” ini punya segudang alasan untuk memilih Trump dibanding sang kompetitor, Hillary Clinton.

Kemenangan Trump ini mungkin adalah cerminan kegagalan pemerintahan Amerika Serikat, terutama di era Obama

Advertisement

Trump vs Obama via abcnews.go.com

Selain tentu beda partai, ada banyak hal lain yang membuat Trump bagai antitesis dari Obama. Mantan presiden berkulit hitam ini dikenal punya atensi dengan keragaman, perbedaan, dan pembelaan minoritas (walau hasilnya tak seindah kelihatannya). Sementara Trump justru selow saja menunjukan sikap abai dan cenderung alergi dengan emansipasi-emansipasi semacam itu. Jika Obama berambisi menjadikan Amerika Serikat sebagai pemimpin dunia yang bersahabat, Trump mengumbar iktikad menjadikan negara pimpinannya itu sebagai bangsa yang arogan, individualis dan kaya raya. Nah, yang terakhir ini kuncinya.

Periode pemerintahan Amerika Serikat sebelumnya banyak berbaku hantam dengan krisis ekonomi. Kendati konon momen paceklik ini sempat diselamatkan oleh Obama, namun tetap tak terhitung jumlah warga Amerika Serikat yang hidup bagai kaum papa. Kebutuhan ini yang coba dijawab oleh Trump. Ia menjanjikan banyak perubahan di aspek ekonomi, baik secara kepentingan global ataupun domestik. Trump tak terlalu menggubris superioritas kekuasaan politik, atau hegemoni citra yang membuat Negeri Paman Sam selama ini disebut sebagai polisi dunia. Mungkin ia ingin mengaplikasikan tips suksesnya menjadi orang tajir bukan kepalang ke Amerika Serikat: kurangi mengurusi urusan orang lain, pokoknya perkaya diri sendiri.

Mujur, Trump mendapat lawan yang ideal bagi karakternya. Hillary Clinton terlalu membosankan

Hillary Clinton via www.bostonherald.com

David Boaz, seorang pengamat politik dari sebuah organisasi penelitian kebijakan publik AS mengungkapkan bahwa Hillary Clinton dan Donald Trump merupakan pasangan kandidat presiden paling tidak populer sepanjang sejarah AS. Tidak populer di sini dalam artian banyak warga yang merasa keduanya bukan kandidat yang baik. Alhasil, logika “terbaik dari yang terburuk” yang jadi acuan memilih.

Lantas, bayangkan kamu adalah bagian dari mereka yang masih banting tulang berjibaku dengan persoalan finansial. Sementara itu, kamu punya kesempatan memilih di antara dua opsi pemimpin:

Kandidat pertama adalah sosok yang kurang punya indikasi untuk menciptakan perubahan dari situasi terkini. Selain muncul dari partai yang sama dengan pemimpin sebelumnya, sosok ini justru tersandung skandal korupsi, sebuah penyakit klasik pejabat negara yang identik dengan rendahnya kesejahteraan masyarakat.

Di sisi seberang, kandidat kedua adalah orang yang terbukti sukses di bidang ekonomi (walau untuk dirinya sendiri). Selain itu, ia banyak menawarkan program-program yang menjual mimpi-mimpi perubahan nasib. Oh, dia adalah orang yang rasis dan bermasalah dengan tabiatnya….. tapi kan “Bodo amat, yang penting ia bisa memberi saya makan”.

Begitulah manusia…

Masalah kita bukanlah Trump, melainkan Hillary, tukas sutradara sekaligus aktivis bernama Michael Moore–dikutip dari Tirto.id. Hillary seperti simbol stagnasi. Partai Demokrat yang semestinya lebih berciri progresif justru belakangan malah mengusung semangat status quo. Di sisi lain, Partai Republik yang konservatif justru tampak lebih bergelora, terutama ketika Trump berulangkali menunjukan sikap memberontak dan ngeyel dengan keinginan partainya. Selagi Hillary tak mampu menonjolkan niatan kontribusi akan perubahan, Trump banyak melontarkan janji-janji yang radikal.

Bicara moral, perilaku buruk seperti rasis, seksis, atau merendahkan perempuan secara simbolik adalah cacat yang tak banyak dipahami oleh masyarakat akar rumput. Bukan bermaksud merendahkan, namun kita bisa menemui kasus-kasus seperti seksis atau rasisme sehari-hari tanpa terlihat seperti sebuah masalah di Indonesia. Lain dengan cela milik Clinton berupa kasus korupsi yang merupakan musuh bersama masyarakat. Mulai dari sosialita sampai ibu-ibu posyandu sadar betul bahwa korupsi adalah perbuatan nista. Bagi mayoritas warga Amerika Serikat, dosa Trump lebih manusiawi dibanding dosa Clinton.

Hillary juga tidak punya sisi yang menjual. Kendati bukan faktor utama yang menentukan, tapi bagaimanapun pemilu adalah ajang berdagang sosok. Hillary adalah politikus dengan citra pasaran. Membosankan. Kompromi sana dan sini, jilat sana dan sini bagai bunglon untuk mencari dukungan sebanyak-banyaknya. Misalnya, ia dulu menolak pernikahan sesama jenis, namun tiba-tiba beralih membela demi mendapatkan dukungan dari orang-orang yang disudutkan oleh sikap homofobia Trump. Alhasil, Hillary menjadi kandidat yang sulit dipercaya. Menurut Associated Press yang dilansir dari Beritasatu.com, banyak calon pemilih di masa kampanye menganggap Hillary sebagai “sosok politik moderat yang suka melakukan kesepakatan demi kepentingan perusahaan dan berpihak pada Wall Street demi memperoleh sumbangan kampanye”.

Sementara itu Trump justru punya personalitas dan kepribadian yang seksi untuk dijual. Selain reputasinya sebagai pebisnis raksasa, ia juga punya aura selebriti, arogansi, dan bakat flamboyan yang sensasional, mengantarkannya menjadi figur komikal yang menembus banyak media budaya populer. Karakternya yang lugas dan doyan ngomong sekenanya justru kadang membuat orang lebih percaya padanya dibanding Hillary Clinton yang diam-diam terkesan penuh intrik. Bahkan, bukan tidak mungkin jika banyak media massa yang secara tidak sengaja ikut mengampanyekan Trump. Selain tentu membuatnya tenar, upaya mencari sudut pandang yang menarik dari sosok Trump seringkali berujung rasionalisasi atau pembenaran akan sikap-sikapnya. Pencitraan ataupun bukan, kemenangan Jokowi di pemilu 2014 lalu membuktikan keuntungan dari kandidat pemimpin yang punya citra mudah dikenang seperti Trump.

Padahal, sebenarnya apa yang ditawarkan oleh Trump pun rasanya hanyalah janji-janji semu. Namun, ya namanya udah frustasi

Trump sejatinya nampak tidak menguasai kejelasan rencana-rencananya sendiri. Banyak program-programnya yang mengawur dan tidak jelas eksekusinya. Namun, hidup adalah perjudian, itu yang dipegang oleh rakyat Amerika Serikat sekarang. Apalagi jika mereka sedang terlunta-lunta. Tidak ada pilihan lain, daripada memilih Hillary yang hanya akan berakhir memperpanjang usia krisis. Jadi, jika masih bingung kenapa negara adikuasa yang digambarkan punya orang-orang cerdas seperti Tony Stark (Iron Man) hingga Bruce Wayne (Batman) ini bisa secara sadar memilih Donald Trump sebagai pemimpinnya, bisa jadi sebenarnya Amerika Serikat hari ini hanyalah kumpulan orang-orang yang frustasi.

Hmm.. yah begitulah, analisis ini mungkin juga lahir di bawah pengaruh rasa frustasi akan hujan deras yang tak kunjung reda #curhat, bisa jadi tidak akan seakurat ramalan The Simpsons yang sudah diungkapkan sedari 16 tahun silam: