Mungkin sudah banyak orang yang membicarakan hal ini. Seperti apa sih wanita seharunya berpakaian? Well, itu kembali kepada keyakinan masing-masing wanita. Namun, apakah dalam konteks sosial keyakinan wanita itu bisa dianggap mewakili society kita?

Secara kasar ada dua kubu jenis pakaian yang dipakai oleh wanita. Pertama kubu tertutup dan kedua kubu terbuka. Nah, apakah society Indonesia memang benar-benar bisa diwakili oleh kedua kubu tersebut. Atau, jangan-jangan tidak ada satupun jenis pakaian dari kedua kubu yang mampu mewakili society Indonesia.

Tentu saja pakaian wanita adalah hak prerogative masing-masing, namun kita tidak bisa mengesampingan peran laki-laki pada perkembangan pakaian wanita. Pertanyaannya adalah mana gaya pakaian yang pas dengan laki-laki Indonesia? Apakah yang kerukupan seperti orang Timur Tengah atau yang sering telanjang kayak negara-negara barat?

Kubu tertutup bilang bahwa pakaian wanita harus tertutup untuk menjaga mereka dari nafsu laki-laki

Nggak gini juga kalee! via www.abc.net.au

Well, tidak ada salahnya berpakaian tertutup dan justru hal ini malah baik. Tapi saat alasan yang dipakai adalah nafsu laki-laki, apakah iya semua laki-laki Indonesia sehornian itu? Artikel ini tidak mempermasalahkan tentang idiologi agama, hanya saja jika sebuah pakaian ditempatkan sebagai pengaman nafsu laki-laki, bukankah hal itu akan sangat diskriminatif?

Advertisement

Pertama, nafsu pria itu urusan kita masing-masing, bukan urusan wanita. Kerumitan nafsu laki-laki tidak bisa dikaji dan dihakimi hanya dengan satu keyakinan saja, apalagi hanya dengan sebuah gaya busana.  Harusnya nafsu laki-laki dilihat sesuai konteksnya. Memang ada laki-laki yang super hornian, dan memang ada juga laki-laki yang cukup mampu mengendalikan nafsunya. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita tidak mengambil keputusan dengan bentuk totaliter seperti itu. Memang benar kehati-hatian adalah hal baik dan pakaian tertutup ini semata-mata hanya untuk lebih berjaga-jaga dari nafsu pria. Namun, di dalam konteks sosial, kehati-hatian itu jangan sampai disalahgunakan sebagai senjata untuk memancung fakta sosial bahwa tidak semua laki-laki selalu ingin meniduri wanita yang lewat di depannya. Laki-laki tidak sebinatang itu. Di dalam budaya kita yang konon katanya sangat tertinggal dan perlu diselamatkan oleh budaya arab dan barat pun, laki-laki Indonesia tidak pernah digambarkan sekurang ajar itu.

Kubu terbuka bilang bahwa berpakaian adalah hak wanita dan kalau pria sampai horni ya itu mereka aja yang aneh

Nggak bisakah pakai kaos biasa aja? via thesun.co.uk

Well, kami paham benar dengan hal ini. Idiologi feminis yang bilang bahwa tubuh wanita bukanlah objek buat kaum pria adalah hal yang memang benar adanya. Namun, semua ideologi harus mengikuti konteks sosial yang ada di masyarakat. Apakah mungkin kita melakukan custom jawa di Amerika, tentu saja itu akan terlihat tidak tepat.

Contoh aja gini, apakah tepat pakai pakaian yang super terbuka dan makan di warung mi ayam misalnya. Disana ada banyak orang yang tidak paham feminisme. Bukannya merendahkan, namun ideologi ini memang belum populer di Indonesia dan sudah sepantasnya orang-orang yang menganutnya beradaptasi dengan budaya Indonesia yang memang tidak pernah mengenal budaya wanita setengah telanjang jalan-jalan di tempat umum. Pertanyaanya adalah apakah untuk menjadi wanita yang melek terhadap kesetaraan gender si wanita itu harus setengah telanjang kemana-mana? Nggak juga ‘kan?

Kenapa kita semua tidak berbusana dengan anggun, nggak harus kelewat tertutup dan tidak harus setengah telanjang

Ini lho anggung kayak cewek Indonesia via dreamtoflyhigh.files.wordpress.com

Ayolah kita saling mendekat. Nggak perlu berpakaian yang kelewat terutup sampai matanya aja nggak kelihatan. Itu sudah sebuah pelecehan kepada kaum pria. Apa semua pria ingin nidurin cewek di depannya? Nggak juga kan. Di sisi lain, jangan setengah telanjang juga. Kalian pikir nggak ada kah laki-laki yang memerkosa orang yang lewat di jalan. Ada!

Oleh karena itu mari kita saling mendekat dan menjadi kaum tengah. Kata kuncinya adalah anggun. Kata ini adalah kata asli Indonesia yang mugkin paling bisa mewakili gaya busana wanita dalam konteks “budaya timur”. Lihatlah kebaya jawa. Bagi beberapa orang ini mungkin seksi dan mungkin karena orang-orang itu memang nafsuan sih. Namun, coba lihat keanggunannya. Pakaian ini menutupi hampir seluruh tubuh, namun aura perempuan masih sangat kental muncul. Bukannya bilang kebaya paling bagus namun pakaian itu adalah contoh keanggunan. Tidak terbuka, namun masih tetap mampu menunjukkan keanggunan si pemakaianya.

Yang suka setengah telanjang mbok ya dikurangi. Seksi tidak harus telanjang. Yang suka tertutup mbok ya jangan berlebihan sampai matanya aja nggak kelihatan, sewajarnya aja sih. Nggak semua pria Indonesia ingin memerkosa kamu kok. Ayo saling mendekat dan menjadi Indonesia. Bukan kerukupan ataupun telanjang, namun anggun, seperti Indonesia.

PS: Artikel ini tidak membahas keyakinan agama, jadi jangan dibelokkan seperti seolah-olah menistakan keyakinan agama siapapun dan dijadikan alasan untuk memaki-maki, ya. Jangan jadi masyarakat feodal yang marah dulu nanti diskusinya belakangan. Ayo jadi orang Indonesia yang tidak takut pada dogma kuno dan perkembangan. 😀

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!