Perjuangan R. A. Kartini sebagai tokoh yang memopulerkan emansipasi wanita, tampaknya masih belum begitu ampuh bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan, masyarakat dunia pun demikian. Masih ada batasan bagi pria dan wanita dalam berbagai hal. Tak terkecuali posisi atau peran dalam sebuah tahta kepemimpinan. Banyak pro dan kontra mengenai hal ini, bahkan hal ini sudah dianggap wajar.

Nah, sebenarnya kenapa sih, masih ada aja fenomena pertentangan seperti ini? Apakah wanita memang tak berhak mendapatkan perannya sebagai pemimpin, paling tidak menjadi yang berpengaruh di dalam kehidupan bermasyarakat? Untuk lebih jelasnya, simak ulasan dari Hipwee Boys berikut ini!

 

 

Belum lama ini, ada korban meninggal akibat protes keras yang dipicu rencana penambahan kuota untuk wanita di pemerintahan Nagaland, India

Protes keras dari warga setempat. via www.hindustantimes.com

Advertisement

Awal Februari lalu, ada protes keras yang terjadi di daerah Nagaland, India, akibat adanya penambahan kuota perempuan hingga 1/3 kursi di instansi pemerintahan lokal. Dari pembakaran kendaraan-kendaraan pemerintah, pemblokiran jalan, hingga jatuh korban meninggal dua orang, mereka menentang kebijakan tersebut.

Memberikan alokasi untuk perempuan akan mencoreng aturan-aturan adat yang telah lama ada. – K. T. Vilie dari Komite Aksi Suku-suku Nagaland

Betapa sedih melihat kenyataan tersebut. Masih banyak orang yang begitu konvensional memandang peran wanita. Sementara di Indonesia sendiri, pada 2004 lalu, pemerintah telah menambahkan kuota untuk wanita agar bisa berperan dalam dunia perpolitikan Indonesia sebesar 30 persen. Bukan angka yang besar memang, tapi hal ini menunjukkan bahwa peran wanita sudah mulai diperhitungkan sebagai wakil dari jutaan masyarakat yang heterogen.

 

 

Masih banyak pria yang nampaknya belum bisa menerima bahwa dalam beberapa hal wanita memang lebih jago

Pria merasa terkalahkan. via v.men

Ini merupakan faktor psikologis dari pria atas wanita, yang kini tak bisa dilepaskan dari kebudayaan. Di samping itu, ada banyak hambatan yang menjadikan wanita sulit untuk naik menjadi pemimpin. Dalam buku Melly G. Tan (1991), Perempuan Indonesia Pemimpin Masa Depan, Ibrahim menjelaskan ada lima penghambat atas wanita tersebut.

Pertama dari fisiknya yang dikodratkan untuk mengandung, melahirkan, merawat anak, dsb. yang bukan takdir untuk pria. Kedua, hambatan teologis, artinya masyarakat percaya wanita adalah pendamping pria, diciptakan sebagai pelengkap pria, dan diciptakan dari tulang rusuk pria. Ketiga adalah hambatan sosial budaya, yang memberikan stereotip pada wanita bahwa mereka adalah makhluk yang lemah dari berbagai segi. Mereka diidentikkan dengan aktivitas kerumahtanggaan. Yang terakhir adalah hambatan historis, yang mencakup masalah pembenaran atas masa lalu wanita yang tidak memiliki kemampuan untuk berkiprah selayaknya pria.

Dari sinilah muncul lagi anggapan bahwa wanita tak akan bisa menjadi pemimpin sebab memiliki peran ganda yang tak bisa disepelekan. Wanita harus membagi prioritasnya, antara pekerjaan dan masalah rumah tangga yang mencakup anak-anak dan suami. Pandangan yang membuat masyarakat semakin yakin bahwa wanita tak akan sanggup memegang kendali kepemimpinan, meski sebenarnya mereka memiliki potensi yang cukup besar.

 

 

Padahal kalau berbicara soal kepemimpinan, gender seharusnya berada di nomor terakhir sebagai pertimbangan

Tak butuh gender untuk pemimpin. via merahputih.com

Ya, kalau sudah berbicara soal kepemimpinan, tak seharusnya gender turut serta dijadikan sebagai kambing hitam. Pada dasarnya, mencari seorang pemimpin harus bisa lepas dari prejudice gender. Ini terlalu konvensional sebagai masyarakat yang katanya sudah modern dan melek teknologi. Sebab tugas utama pemimpin adalah membawa awak kapalnya menuju sebuah tujuan dengan visi dan misi yang matang. Apalah arti gender, kalau pemimpin tak bisa bertanggung jawab atas bawahan dan tujuannya?

 

 

Sebagai bukti, coba cari saja di buku-buku sejarah, hingga Google. Sudah banyak daftar wanita hebat yang berperan sebagai pemimpin di bidang apapun

Ellen Johnson Sirleaf saat menerima Nobel perdamaian 2011 lalu bersama kompatriotnya. via www.cbc.ca

Tak perlu diragukan lagi, peran wanita dalam berbagai bidang sebagai pemimpin sudah bisa banyak ditemukan di belahan dunia manapun. Meski porsinya belum sebanyak pria. Tapi dengan adanya mereka, kita tak perlu lagi meragukan kompetensi mereka dalam memengaruhi banyak orang. Seperti Megawati Soekarnoputri yang menjadi wanita pertama yang memimpin Indonesia, Ellen Johnson Sirleaf yang menjadi presiden wanita pertama di Benua Afrika, dan sebagainya.

Kalau kita membicarakan gender untuk sebuah tampuk kepemimpinan, jelas tidak akan ada habisnya. Bagaikan benang panjang nan kusut yang sulit terurai. Seyogyanya, yang diperlukan baik pria maupun wanita adalah mengasah keterampilan dan pengembangan diri yang baik sebelum menjadi seorang pemimpin. Bukankah tujuan dari adanya pemimpin adalah untuk membawa semua orang menjadi lebih baik sesuai targetnya?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya