Kelebihan adakalanya lahir justru dari ketiadaan atau hal-hal yang absen. Kelebihan lemak di tubuh misalnya, ada kalanya lahir dari ketiadaan pacar yang memberimu kado ulang tahun berupa timbangan beras ~

Pun begitu Christoper Nolan. Tentu kita tidak peduli dengan lemak di badannya, tapi sutradara bertangan dingin asal Inggris ini sebelumnya selalu dikenal dengan karya-karya film yang berbobot dan superior. Plot yang rumit, drama yang berjubel lika-liku, twist yang masuk bergantian, dan kekayaan elemen cerita lain, semuanya pampat dalam film-filmnya seperti The Prestige, Memento, Inception, Trilogi Dark Knight, atau Interstellar. Adalah hal baru tatkala di filmnya terbarunya yang bertajuk Dunkirk, Nolan sengaja mengurangi ‘muatan’, dan hasilnya tak kurang memukau.

Dalam Dunkirk, Nolan memang tetap menggunakan sesuatu yang memaksa otak kita lebih berfaedah untuk menikmati filmnya, yakni metode penceritaan via tiga perspektif berdasar lokasi dan momen berbeda: tanah, air,dan udara. Ketiganya dibingkai sedemikian rupa untuk nantinya bertemu di satu titik alur yang sama. Lagi-lagi sesuatu yang progresif, namun jangan puyeng dulu. Eksperimen lain yang lebih penting dari Nolan di film ini adalah dengan menghindari beberapa hal tipikal yang hampir selalu ada di film-film perang berlatar Perang Dunia. Pada akhirnya absennya unsur-unsur itulah yang membuat Dunkirk memikat dibandingkan deretan film sejenis.

Jadi apa saja hal yang tidak ada dan ternyata memang tidak perlu ada di Dunkirk? Simak!

1. Amerika Serikat dan kemenangannya

Tentara sekutu via www.digitaltrends.com

Advertisement

Film perang Hollywood dan militer Amerika Serikat laksana film Indonesia dan Reza Rahadian. Seakan-akan bisa menimbulkan fitnah kalau tidak dipertemukan.

Bukan pengetahuan baru jika film sudah digunakan sebagai medium propaganda politik Amerika Serikat jauh sejak sebelum anak-anak muda Indonesia masih dipaksa beriman ke film Pengkhianatan G30S PKI. Langganan Hollywood adalah film perang dengan set Perang Dunia atau Perang Vietnam. Amerika Serikat biasanya ditampilkan sebagai protagonis dan jadi pemenang perang, terlepas apa hasil sebenarnya di lapangan. Ya suka-suka mereka sih, salah sendiri kamu yang percaya ~

Untungnya, di film Dunkirk dijamin tidak ada tentara atau bendera Amerika Serikat, apalagi Reza Rahadian.

Set sejarah di Perang Dunia 2 yang diangkat Nolan kali ini memang adalah peristiwa “Miracle of Dunkirk”. Pada bulan Mei di tahun 1940, sebagian tentara Blok Sekutu (Inggris, Perancis, Kanada, Belgia) dipukul mundur oleh tentara Jerman pimpinan Adolf Hitler hingga tersudut di pesisir pantai sebuah kota pelabuhan bernama Dunkirk di wilayah Perancis Utara. Pertempuran tak lagi sepadan, pembantaian massal bisa terjadi jika sisa ratusan ribu tentara sekutu ini tidak segera diselamatkan. Akses yang logis bagi mereka untuk menyelamatkan diri adalah laut lepas menuju daratan Inggris yang hanya berjarak 45 kilometer. Malang tak dapat ditolak, alam tidak berpihak. Pesisirnya terlalu dangkal dan membuat kapal-kapal militer besar justru kesulitan untuk beroperasi, sehingga harapan justru bersandar pada transportasi oleh kapal-kapal kecil milik warga sipil.

Winston Churchill selaku Perdana Menteri Inggris pun memerintahkan seluruh kapal untuk membantu evakuasi. Akhirnya lebih dari 300 ribu nyawa tentara berhasil diselamatkan lewat ratusan kapal. Ups, ini bukan spoiler karena kisah ini bisa didapat semudah-mudahnya di sumber-sumber literatur sejarah. Lagipula bukan fakta ini kekuatan film Dunkirk.

2. Adegan-adegan heroik

Pelabuhan Dunkirk via screenrant.com

Namanya cerita perang, mungkin memang terasa kepalang tanggung kalau berakhir tanpa pemenang. Biar mantap, perlu ada kisah kepahlawanan juga di dalamnya. Dunkirk pun punya, tapi kadarnya sangat kecil. Sekadar pembuat lega penonton. Jelas tidak sampai berlebihan ala Hacksaw Ridge atau Captain America (Ini juga masuk film Perang Dunia lho).

Pendekatan realistis dipakai Nolan. Emosi dikuras bukan dari sentimentil drama melainkan lewat potret situasi perang yang sedekat mungkin dengan aslinya. Film ini membuat penonton seperti tiba-tiba diturunkan di medan perang langsung. Nihilnya tokoh utama membuat kita tak bisa menaruh harapan pada karakter manapun di film ini. Semua karakter punya potensi yang sama untuk mati. Jangankan jadi pahlawan, pulang selamat saja entah.

3. Adegan berdarah-darah

Ledakan yang riil via www.gizmodo.com.au

Karena perangnya bukan cuma perang netizen di akun Lambeturah, jelas ada adegan orang terbunuh. Namun, sudah dipastikan tidak akan memuaskan jenis penonton yang haus darah. Tak ada detail kontak senjata yang cenderung sadis. Dunkirk fokus dan intens pada efek ketegangan yang menjalar memacu jantung.

Jika kamu beranggapan film perang itu film yang cowok banget karena punya adegan berdarah-darah, maka bisa jadi kamu lebih suka nonton Twilight.

4. Latar belakang tokoh

Fionn Whitehead via www.rogerebert.com

Kebanyakan film perang diawali dengan introduksi latar belakang karakternya, perihal alasan sang tokoh menjadi tentara hingga urgensi tokoh untuk bisa kembali hidup-hidup dari perang, salah satu triknya dengan memperkenalkan karakter kekasih atau keluarga yang menunggu penuh penantian di kampung halamannya. Penokohan umumnya memang penting bagi narasi apapun, termasuk demi membuat penonton turut berharap-harap cemas terhadap keselamatan tokoh-tokoh di dalamnya.

Cukup bernyali bagi Nolan kemudian untuk memangkas kebutuhan ini. Sejak adegan pembuka, kita sudah diantar ke medan perang dengan rombongan karakter yang cuma dikenalkan nama depannya. Impaknya memang kita akan sulit untuk menikmati, bahkan sekadar membedakan masing-masing karakter dalam adegan yang cepat berpindah-pindah. Kita berhadapan dengan tokoh-tokoh yang seakan tak punya identitas. Di atas panggung perang, mereka semua sama: ingin selamat.

5. Musuh

Royal Airforce via www.landmarkcinemas.com

Macam mana pula ada film perang tanpa musuh? Oke, pihak antagonisnya jelas adalah tentara Nazi. Namun, jika punya daya ingat, kamu akan sadar jikalau sosok tentara Nazi itu tak pernah ditunjukkan. Yang ada hanya desing dan lesatan peluru-peluru, pesawat yang lalu lalang dengan suara meneror disertai jeblukan-jeblukan bom. Bahkan, identitas tentara Nazi atau Jerman itu sendiri terhitung langka disebut.

Sebuah praktik magis lain dari Nolan yang sukses membangun rasa takut tanpa memerlihatkan sosok ancamannya secara visual. Bahkan, kita bisa resah hanya dengan melihat para tentara antri masuk kapal penyelamat atau menyantap roti dengan terburu-buru. Mungkin musuh sesungguhnya adalah Hans Zimmer, komposer musik latar sinema kondang asal Jerman dengan aransemen orkestra yang merayu adrenalin. Saking signifikannya peran gubahan Zimmer, kita bisa sempat berpikir jangan-jangan justru visualnya yang mengiringi musiknya.

Kamu laik mengagumi bagaimana ada anak manusia bisa bercerita dalam medium sinematik dengan teknik eksekusi dan eksperimentasi secanggih ini. Apalagi Nolan bersikeras menciptakan ini semua dengan memaksimalkan efek-efek buatan non-komputer. Lewat Dunkirk, Nolan memaklumatkan dirinya sebagai virtuoso di ranah sinema.

Namun, pendekatan Nolan ini mengorbankan tipe penonton yang menggemari eksplorasi realisme sosial dari keterkaitannya terhadap konteks riilnya di dunia nyata. Dengan sengaja Nolan memang meminimalisir konteks sosial politik yang mengiringi peristiwa Dunkirk yang bersejarah ini. Padahal sesungguhnya ada banyak fakta historis dan politis yang menarik diungkap, termasuk perdebatan soal keputusan Hitler untuk menyetujui langkah pembatalan serangan pamungkas terhadap para tentara sekutu itu yang seharusnya sudah jadi makanan empuk. Pasukan Jerman kala itu memang sempat ragu-ragu atas kondisi dan pasokan pasukannya. Keputusan ini dipandang sebagai salah satu kesalahan terbesar Hitler lantaran akhirnya memberi waktu bagi ratusan ribu nyawa tentara sekutu ini untuk mempersiapkan strategi-strategi evakuasi. Belum lagi pergulatan Winston Churcill untuk menentukan kebijakan-kebijakannya juga berharga untuk dikulik lebih.

Pada akhirnya memang Nolan punya opsinya sendiri. Dengan sengaja menanggalkan identitas tokoh-tokohnya, mungkin Nolan hendak mengatakan bahwa ini relevan untuk siapapun dan di manapun. Siapapun kamu dan siapapun musuhmu (entah tentara Nazi, Israel, atau apesnya ya malah militer negara sendiri), perang itu seperti neraka… dan tidak akan ada pesta seks di sana, begitu ‘kan kata ustaz Syamsuddin.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya