Sebenarnya kamu tidak butuh terlalu banyak hal di dunia. Punya sahabat yang bisa diajak ngobrol kapan saja, punya kamar nyaman dan kebebasan untuk ngopi-ngopi enak tanpa harus khawatir keuangan seret sebelum akhir bulan semestinya sudah membuatmu cukup puas sebagai manusia.

Tapi kita-kita ini peminta yang ulung. Penuntut yang handal. Rasanya masih saja ada yang kurang kalau belum menemukan dia yang klik dan bisa jadi partner menghadapi kerasnya dunia.

Akhirnya kita berlomba-lomba menetapkan kriteria calon pendamping. Mau yang tampan, yang mapan, yang bisa diandalkan.

Ah….padahal ditengah semua kriteria yang ada, sebenarnya cukup 1 kriteria saja yang harus dipunya. Asal punya 1 kriteria ini, maka dia memang layak jadi pendampingmu sampai tua.

Pastikan dia mau diajak berjuang. Hidup akan lebih mudah bersama dia yang tidak mudah patah arang

Bersama dia yang tidak mudah patah arang, hidup akan jauh lebih mudah via www.shutterstock.com

Advertisement

Kehidupan pasca mengubah aku dan kamu menjadi kita tidak akan semudah dan semulus yang dikira. Urusan seremeh membeli telur dan menyiapkan nasi bisa memicu pertengkaran. Gas habis atau iuran air yang belum terbayar bukan tak mungkin berubah jadi Perang Dunia ketiga.

Sebelum mantap membersamai seseorang lihat dulu apakah dia memang mau diajak berjuang. Apakah dia mau diajak membangun hidup sama-sama dari nol. Dari tidak punya apa-apa, sampai memiliki segalanya yang penting bagi kalian berdua.

Kamu mesti yakin dia mampu menyimpan keluhan. Ungkap kesulitan tidak akan mudah diumbar

Ungkapan kesulitan tidak mudah dia umbar via www.shutterstock.com

Curhat dan berbagi kesulitan tentu bukan jadi hal yang haram dilakukan. Dia tetap butuh sahabat yang bisa memberikan saran. Bercerita pada Ibu atau Kakaknya jelas meringankan beban. Namun lihat dan amati betul-betul bagaimana semua cerita ini dipaparkan.

Apakah cerita dan keluhan hanya disampaikan pada mereka yang bisa dipercaya? Atau dia malah mengumbarnya lewat sosial media dan berbagai saluran yang ada?

Hidup tidak akan lebih mudah setelah kalian bersama. Cerdik menjaga keluhan, mengatur frekuensi supaya tidak mengumbar keburukan di depan orang — membuat hubungan yang kalian jalani jauh lebih nyaman.

Mudah mencari dia yang mencintaimu. Berhentilah pada dia yang bisa menguatkanmu

…berhenti pada dia yang menguatkanmu via www.shutterstock.com

Kalau cuma mencari orang yang bisa tetap mencintaimu meski sedang menyebalkan atau tetap menciummu walau kamu sedang flu, maka mudah saja pastinya. Toh kalian memang sudah terhubung dalam frekuensi yang sama.

Jangan berhenti pada dia yang bisa mencintaimu. Alih-alih mencari dia yang mencintaimu apa adanya, berhentilah pada dia yang bisa menguatkanmu. Dia yang bisa bilang, ‘Bangun ah! Kamu nggak sepantasnya gulung-gulung meratapi kegagalan. Masih banyak yang harus diperjuangkan.’

Dia yang dengan tegas bisa marah-marah di depanmu karena mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Lalu berkata, ‘Kamu itu terpelajar. Kok bisa tidak bersetia pada kata hati?’

Hidup setelah resepsi tidak butuh cinta ala-ala princess di film drama. Kamu butuh dia yang tegar, tabah, dan menguatkanmu tanpa diminta.

Ujungnya, semua mengerucut pada dia yang berhati besar. Dia yang punya ketangguhan tapi juga sabar

Dia yang punya ketangguhan. Tapi juga sabar via www.shutterstock.com

Yang langka dari calon-calon jodoh kekinian adalah menemukan seseorang yang berhati besar. Dia yang tangguh, mampu menguatkan, namun juga sabar.

Hatinya yang besar seperti bendungan yang menyelamatkan. Egomu adalah air bah yang mesti ditanggulangi. Sifatmu yang keras kepala tak ubahnya banteng yang perlu ditaklukkan dengan seni.

Berhenti pada dia yang berhati besar membuatmu menemukan pendampingan yang menenangkan. Di dalamnya kamu akan merasa aman. Tidak ada transaksi hitung-hitungan soal siapa salah, siapa benar — karena dia mengerti cinta selalu penuh pengampunan.

Namun hatinya yang besar juga selalu melecutmu untuk berjuang. Dia tak pernah mau kamu puas hanya dengan keadaan sekarang.

Saat sudah menemukan seseorang yang berhati besar, kamu layak berhenti. Lupakan soal standar-standar lain yang selama ini kamu miliki. Peluk, rengkuh, lalu ajak dia mulai menjalani.