Hey, kau yang lebih suka mengerami rindu.

Kamu yang asyik mengeram rindu via genius.com

Saat para pujangga menjadikan rindu sebagai andalan untuk diluap-luapkan dalam syairnya, tapi bagimu ini hanya sebatas rasa yang cuma bisa dinikmati sendirian.

Kamu tidak pernah merasakan indahnya berpegangan tangan dan manisnya sapaan mesra. Tak peduli sekuat apa tanda yang berusaha kamu luapkan ke udara, ia tak pernah terbaca oleh orang yang selama ini kau cinta.

Ada masa kamu ingin menyerah begitu saja. Tapi rasa cinta dalam dada selalu menggelegak begitu kuatnya. Rasa perih karena diacuhkan telah kamu akrabi sedemikian rupa, meski jujur terkadang kamu ingin berteriak keras-keras karena merasa sudah setengah gila. .

Pada malam-malam panjang kamu bayangkan betapa indahnya jika cinta ini mendapatkan balasan. Andai tangan kalian bisa saling menemukan, berikatan, lunas sudah semua perjuangan.

Tapi hidup terus berjalan, dan cintamu tetap saja terpinggirkan. Anehnya kamu dengan ikhlas menjalani tanpa banyak keluhan.

Seperti proses jatuh hati padanya yang tak pernah direncanakan, cintamu padanya betah lama-lama bertahan : tak bisa ditinggalkan

Jatuh terhempas via karmajello.com

Tak sedikit orang-orang terdekat yang mengejarmu dengan berondongan pertanyaan. Wajar saja, bagi mereka tindakanmu sudah di luar akal sehat. Melihatmu kasmaran tak ada ujungnya menyisakan tanda tanya besar,

“Apa yang membuatmu jatuh sedalam itu? Apa yang bisa ia berikan padamu?”

Dihadapkan pada pertanyaan lugas macam itu kamu hanya bisa menggeleng ringan tanda tak tahu. Dia tak begitu tampan, otaknya juga tak cemerlang cenderung pas-pasan, mencintaimu sepenuh hati pun jelas tak bisa ia lakukan.

Pertanyaan selanjutnya muncul lagi,

“Kenapa tidak hengkang dan berhenti? Apa yang sesungguhnya kamu cari?”

Kamu ingin menjawab selama ini kamu mencari kehangatan, ketenangan, nyamannya pelukan setiap rasa lelah datang. Tapi mulutmu kelu, jawaban macam itu tak sanggup terlontar dari bibir tipismu. Bersamanya kamu seperti pendaki gunung yang kehilangan arah tujuan dalam sebuah pendakian. Hanya dua pilihan yang bisa dilakukan: bertahan, atau menunggu tim SAR datang menyelamatkan.

Atas nama cintamu padanya kamu memilih opsi pertama. Meskipun harus kedinginan, kelaparan lantaran menipisnya bahan makanan, meringkuk menahan nyeri yang sudah merasuk ke dalam gigilan tulang — persetan! Selama rasa hangat di dada itu ada, kamu merasa sanggup bertahan.

“Ini adalah cinta paling ajaib yang pernah kamu rasa. Tanpa perlu banyak alasan di baliknya, semua kekurangan dan tingkah lakunya membuatmu tak ingin berhenti jatuh cinta. “

Bersamanya kamu pernah menjelma jadi makhluk paling tulus sedunia. Selama dia bahagia — kamu rela melakukan apa saja

Perhatian dengan sukarela via horoscopes.lovetoknow.com

Untuk jangka waktu yang tidak singkat dalam hidupmu kamu pernah jadi pemerhati media sosial nomor satu. Setiap bangun pagi tanganmu dengan gesit masuk ke bawah bantal, menemukan ponsel demi mengamati kegiatannya yang terlewat karena kau tinggal tidur semalaman.

Kegiatanmu hari itu baru bisa dimulai dengan tenang setelah melihatnya datang tanpa sedikitpun kekurangan. Semangatmu timbul setelah puas mengamatinya dari kejauhan. Diam-diam kamu jadi terbiasa memastikan kebahagiaannya, membaca tanda di balik berbagai jenis tawa yang terukir di bibirnya. Ah, apakah cinta memang membuat orang jadi demikian perasa?

Ketulusanmu pun tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Kamu ada, seutuhnya-sepenuhnya-hanya untuk dia. Pernah ada momen orang yang kamu cintai sepenuh hati flu berat hingga mengangkat kepala bisa membuat tubuhnya penuh keringat. Di titik terendahnya itu sedikit pun kamu tak mau berjingkat, sebisa mungkin ingin selalu lekat.

Saat itu kamu sedang disibukkan dengan tugas besar sebagai syarat kelulusan — harus mendekam berhari-hari di studio agar selesai sebelum tenggat yang ditetapkan. Kamu letih luar biasa, tapi demi dia kamu rela jadi pesakitan lebih lama.

Sebelum berangkat ke kampus kamu akan mampir terlebih dahulu, memastikan perutnya tak kosong sebelum minum obat yang pahitnya membuat dahi berkerut itu. Kemudian kamu bertolak ke kampus, membenamkan kepala dalam desain maket yang seperti tak ada ujungnya: dengan bayangan muka pucatnya di pelupuk mata. Jam makan siang tiba — dengan waktumu yang terbatas jumlahnya kamu kembali lari demi mengantarkan penganan untuknya.

Lelah? Tentu saja. Tapi apa yang lebih penting dari kebaikan dan kebahagiaanya? Urusan dan rasa lelahmu bisa menunggu nanti, dialah yang kini harus menempati prioritas tertinggi.

Sebesar itu pengorbananmu — dia membalasnya dengan timpalan datar yang mencipta sembilu. Oh Tuhan, kau pikir sekuat apa hatiku?

Cinta bertepuk sebelah tangan via wallpaperscraft.com

Sebagai manusia biasa kamu tentu punya keinginan agar bisa dibalas cintanya dalam takaran sewajarnya. Ringannya bantuan kau harap bisa kembali dalam bentuk hangatnya perhatian. Kau bukakan pintu-pintu kemudahan, agar ia dengan ikhlas mengalungkan syal berisi percik-percik perasaan.

Tapi yang kau dapat sangat jauh dari harapan.

Perhatianmu dibalas dengan ucapan terima kasih sekadarnya.

Pengorbananmu dibayar lewat seulas senyum seadanya.

Dengan ringan ia selipkan tangannya di genggaman yang lain, tanpa peduli pada pendampingan  yang sudah kau berikan.

Ingin rasanya kamu berteriak sembari memaki Dia di atas sana,

“Tuhan, kau pikir aku Bunda Teresa yang hatinya lapang tiada dua? Tuhan, sungguh aku cuma manusia.”

Kamu tahu Tuhan mendengar. Tapi perasaan itu terus saja berpendar.

Sesungguhnya tak ada kata adil dalam permainan ini. Tapi anehnya hatimu tak kunjung mau berhenti. Logikamu seakan hengkang, pergi, tak bisa dipanggil kembali

Cinta bertepuk tangan kadang gak pakai logika via wallpoper.com

Kamu bukan orang bodoh yang tak bisa menghitung untung-rugi. Sungguh dirimu sadar diri sudah jadi pecundang dalam permainan ini, tapi kali ini logika seakan bebal untuk dipanggil kembali.

Cinta tetap saja membuatmu betah bertahan di tempat yang sama meskipun dia tidak menganggapmu ada. Kau tidak merasa dirugikan saat dia tidak membalas kebaikan yang telah kau lakukan.

Seberapapun kerasnya teman-teman menyarankanmu untuk menyerah, kau tidak pernah kehilangan akal untuk membuat dirinya jatuh cinta dengan berbagai cara. Doamu tak henti-henti tertuju untuknya, agar Tuhan berkenan membukakan sepetak ruang bernama cinta.

Tak kau indahkan rasa. Kau lupakan semburat luka yang makin mewarnai lapangnya dada. Asal dia bisa mencintaimu dalam takaran yang sepadan, apapun yang ia lakukan — kamu tak akan keberatan.

Coba kau tilik lagi hatimu. Berapa banyak lagi gulir luka yang mau kau ciptakan di situ? Tak sadarkah selama ini kau sudah membuang waktu?

Menunggu dia yang gak kunjung datang via www.iwilltalk.com

Mari kita tilik lagi bersama, apakah selama ini cintamu sudah dibalas dengan sepadan olehnya yang kau perjuangkan sedemikian rupa? Jujurlah pada dirimu, kesampingkan sejenak semua perasaanmu.

Tak inginkah kamu mendapat pelukan di akhir hari yang panjang? Tak lelahkah kamu berjuang tanpa mendapatkan hasil yang sepadan?

Akuilah sakitnya hatimu saat kasih itu hanya dibalas dengan ala kadarnya. Menangislah sesukanya, luapkan segala perasaan yang selama ini hanya bisa terendap di dada.

Kamu cukup sempurna untuk merasa bahagia, kenapa hingga kini kamu masih saja memperjuangkan cinta yang tak jelas ke mana ujungnya?

Sampai kapan kau mau menunggu? Bukankah waktumu terlampau berharga untuk dihabiskan di ruang tunggu yang auranya hanya biru dan abu-abu?

Kau mencintainya, setengah mati. Boleh saja, tak ada dosa bagimu untuk jatuh cinta. Tapi haruskah kau terus jatuh cinta pada dementor yang membuatmu tak pernah merasakan bahagia?

Di luar sana masih banyak orang yang rela meletakkan kakinya di kepala demi bisa melihatmu bahagia. Tak inginkah sekali ini kau menyerah, untuk mencoba cinta yang tak lagi membuat lelah?

Pasangan yang saling mencintai via www.morethanmary.com

Kau yang sibuk memastikan dia baik-baik saja. Kau yang rela melewatkan acara kesayangan hanya karena ingin mendengarkan dia bercerita. Kau yang selalu mencintainya tanpa syarat apa-apa, sesekali akan merasa hilang ingatan bahwa cinta bukan rasa untuk dinikmati sendirian. Jika kini ditanya, ingatkah kau atas rasa cinta yang sebenarnya?

Bukan kesal karena sampai sekarang masih saja tidak ada perubahan. Tapi harusnya kamu cukup realistis untuk tidak jadi budak perasaan. Tanpa harus mengorbankan banyak hal tanpa ada perubahan yang nyata, bukankah berganti arah mencari dia yang mau diajak bekerja sama akan membuatmu lebih cepat mendapatkan cinta yang selama ini ditakdirkan? Karena siapa tahu, selama ini kau hanya menutup mata — tak peduli dengan mereka yang ada di luar sana.

Setelah berjibaku dengan perjuangan yang tak ada ujungnya, terkadang kau juga butuh perhargaan atas setia yang sudah kau lakukan tanpa perlu diminta. Kemasi kopermu, ikhlaskan hatimu. Cinta baru itu kini menunggu.

Melepaskan dia yang selama ini kau cintai setengah mati memang tidak mudah. Namun yakinilah cinta baru itu sedang menunggumu dengan sabar — demi sebuah akhir yang lebih indah

Cinta yang indah adalah cinta yang saling melengkapi via www.highreshdwallpapers.com

Kita memang tidak bisa memilih pada siapa cinta akan jatuh, tapi kita bisa membentuknya sedemikian rupa agar cinta menjadi tak salah arah.

Kau, yang sudah  bertahun-tahun lamanya menunggu balasan, tapi tidak pernah membawa hasil yang signifikan. Berhentilah menyalahkan keadaan yang membuatmu jatuh begitu dalam. Bagaimanapun dari situasi ini kau pernah belajar ‘kan? Untuk tulus mencintai seseorang, memberikan semua yang kamu punya demi kebaikannya– tanpa perlu memperhitungkan untung-rugi di baliknya.

Berterima kasihlah atas perasaan timpang yang sudah membentukmu jadi dewasa. Tapi tolong jangan lupakan dirimu sendiri, hargai hati dan perasaanmu yang selama ini sudah terlalu lama menahan ngilu.

Apakah kau lupa, bahwa masih ada akal yang bisa membuatmu meraba-raba tentang cinta mana yang patut untuk diperjuangkan lebih banyak?

Kini saatnya untuk berfikir ulang, apakah kau ingin menghabiskan masa hanya menjadi seorang yang bertepuk sebelah tangan? Atau ingin bergerak dan menemukan dia mencintaimu dalam takaran sepadan?