Tak bisa dipungkiri bahwa setiap orang pasti melewati berbagai fase dalam hidupnya, termasuk ketika mereka menjalani kehidupan di usia pertengahan 20 tahun. Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa fase ini merupakan fase tersulit karena di usia tersebut orang mulai dihadapkan pada keputusan-keputusan besar yang akan berpengaruh terhadap masa depan mereka. Jika sebelumnya orangtua masih terlibat dalam setiap pilihan, kali ini kita harus mulai belajar berani mengambil risiko sendiri. Di masa ini pula seseorang akan mulai meraba-raba jati dirinya, apa sebenarnya yang diinginkan dalam hidup, dan lain-lain.

Tingkat kedewasaan yang semakin bertambah juga turut berpengaruh terhadap hubungan yang sedang dijalin seseorang. Jika hubungan pacaran zaman SMA lebih banyak bersenang-senang, sebaliknya, hubungan di usia 24 tahun ke atas perlahan harus mulai diubah orientasinya. Pilihannya ada di tangan masing-masing orang yang menjalani hubungan tersebut. Terlepas dari kesepakatan akan menikah di usia berapa, sebaiknya sih kalian sudah mulai mampu menentukan apakah hubungan tersebut memang serius, atau tidak sama sekali.

1. Di pertengahan 20 tahun kamu harus mulai menata kehidupan jangka panjang dan memutuskan apakah pasanganmu layak dipertahankan

Kehidupa jangka panjang harus terencana

Dimulai dari kenyataan bahwa di usia krusial ini kamu sudah harus mulai menata masa depan. Kepalamu akan dipenuhi dengan target-target, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Apa saja yang akan kamu lakukan 1 tahun ke depan, 2 tahun, 5 tahun, bahkan hingga 10 tahun. Bisa dibilang sih perjalananmu baru mulai di usia tersebut.

Nah, ketika kamu menjalin hubungan dengan seseorang di usia ini, sudah saatnya kamu menyertakan pasanganmu itu ke dalam setiap target hidupmu ke depan. Hidupmu bukan lagi hanya tentang kamu, tetapi juga tentang kamu dan dia. Karena bagaimanapun kamu akan menghabiskan sisa hidupmu bersamanya. Tapi jika menurutmu dia tidak layak menemanimu meraih target-target tersebut atas dasar pertimbangan-pertimbangan tertentu, lebih baik sih sudahi saja.

2. Semakin mendekati usia ideal pernikahan, kalau merasa tidak bisa bersatu buat apa dilanjutkan?

Advertisement

Kalau tak bisa bersatu, kenapa diteruskan?

Sisa umur yang semakin berkurang hendaknya juga dapat menjadi alasan untuk segera menentukan mau dibawa kemana hubungan kamu dan dia. Jangan sampai karena merasa belum yakin, kalian jadi mengulur-ulur waktu dengan memberi kesempatan pada pasangan untuk berubah menjadi seperti yang kamu harapkan. Tidak ada yang bisa menjamin kapan hal tersebut bisa terjadi.

Nah kalau sudah begini kamu sendiri yang akan rugi. Tiba-tiba umur sudah semakin bertambah hingga menjelang 30 tahun, tapi tak kunjung ada kepastian juga. Siapa tahu di saat kalian sibuk dengan pasangan yang tak kunjung berubah, ada orang lain yang lebih cocok bersanding dengan kalian? Nggak mau ‘kan kalau sampai rugi waktu.

3. Di usia tersebut sudah saatnya kamu bertanya pada diri sendiri, apakah kamu dan pasangan benar-benar bisa saling menerima satu sama lain

Sudah bisa menerima satu sama lain? via nouba.com.au

Memang sih tidak ada orang yang sempurna. Setiap individu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pacaran cinta monyet sih rasa-rasanya gampang banget merasa ilfeel terhadap pasangan. Tapi ketika menjalin hubungan di usia dewasa, kamu harus mulai belajar tak hanya menerima kelebihannya saja tetapi juga kekurangannya. Posisikan diri ketika sudah menikah dan suatu hari pasangan melakukan sesuatu yang menurut kalian adalah kekurangannya, apakah kalian benar-benar bisa menerimanya? Pun sebaliknya, apakah pasangan benar-benar tidak mempermasalahkan kekuranganmu sendiri?

4. Kalau kamu dan pasangan termasuk orang dengan banyak mimpi, pastikan kalian akan saling mendukung untuk mewujudkan

Ada mimpi yang harus diperjuangkan bersama

Bicara soal mimpi, setiap individu pasti memiliki mimpi yang berbeda-beda. Begitupun kamu dan pasangan. Salah satu tolok ukur hubungan dua insan dikatakan berhasil jika keduanya bisa saling mendukung satu sama lain. Dengan begitu kamu dan dia tidak akan terbebani dengan larangan ini-itu.

Di usia yang semakin mendekati usia ideal menikah, agaknya kamu sudah harus saling terbuka dengan mimpi-mimpi masa depan satu sama lain. Tanyakan juga pada pasangan apakah mereka setuju dengan keinginanmu tersebut. Jika memang mereka keberatan, bicarakanlah baik-baik, ‘kan kalau bisa diambil jalan tengah mengapa tidak? Tapi jika sudah berkali-kali dibicarakan namun tetap tidak ada titik temu, buat apa dilanjutkan, toh jalan kalian berbeda.

5. Menentukan pilihan mau dibawa kemana hubunganmu juga akan membuatmu belajar berani mengambil risiko

Bersama menjalani kehidupan via www.oklifecoaching.com

Terlalu menggampangkan hubungan terlebih jika sudah memasuki usia krusial menikah, secara tidak langsung bisa membuat kamu menjadi orang yang kurang bertanggung jawab. Itu juga akan membuat kalian jadi mudah menggampangkan hal lain. Padahal semakin bertambah usia, kamu akan semakin sering dihadapkan pada keputusan-keputusan penting. Kalau tidak berani mengambil risiko, mau sampai kapan kamu terus bertahan di zona nyaman? Biar bagaimanapun, hidup itu pilihan, termasuk hubungan percintaan.

6. Menjalin hubungan serius juga dapat menjadi ajang kamu belajar membagi waktu dan menentukan prioritas

Happy couple via www.slrlounge.com

Kehidupan ketika menikah seringkali menuntut kita untuk pintar-pintar membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan orangtua. Dengan menganggap seseorang adalah bagian dari masa depan kalian, tentu secara tidak langsung akan membantumu belajar memilah-milah mana yang perlu dinomorsatukan, mana yang tidak. Sehingga ketika sudah menikah, kalian tidak akan kaget ketika harus membagi waktu 24/7-mu.

Nah gimana? Sudah siap menentukan pilihan dengan segala risikonya? 🙂

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya