Sampai ketemu bulan depan. Baik-baik ya

Bagi para pejuang jarak, perpisahan terasa sangat nyata. Seakan kita hanya diizinkan bersama dalam kurun waktu tertentu saja, lalu ada saatnya kita harus rela melepas genggam jemarinya. Para pejuang jarak seperti kita juga akrab sekali dengan rasa sedih ketika hari perpisahan semakin dekat. Atau rasa cemas yang berlebihan ketika tanggal pertemuan di depan mata.

Sementara ketika ada jeda yang memisahkan, jarak jelas tak bisa dielak. Menyibukkan diri selalu menjadi agenda nomor satu ketika kita dan dia kembali dipisahkan oleh ratusan atau bahkan ribuan kilometer. Semua kita lakukan hanya demi bisa membunuh waktu. Karena waktu seakan selalu menjadi musuh besar bagi para pejuang jarak. Perhitungannya seringkali banyak merugikan ketimbang menguntungkan.

Selalu butuh kesabaran ekstra untuk menanti sebuah pertemuan. Ada perjuangan di setiap prosesnya

Butuh kesabaran ekstra menanti pertemuan via www.logancoleblog.com

Kita yang saat ini dipisahkan dengan pasangan oleh jarak yang membentang, paham betul bahwa menanti waktu bertemu adalah hal yang paling tidak inginkan dilewati. Waktu terasa melambat berkali-kali lipat dari biasanya. Sehari tak lagi terasa 24 jam, tapi lebih dari itu. Menuju akhir pekan terasa seperti menuju akhir bulan. Kita bahkan kadang merasa waktu tak bergerak sama sekali.

Advertisement

Menanti waktu bertemu tak ubahnya perjuangan di setiap prosesnya. Ada akumulasi rindu yang tak dapat terhitung lagi berapa banyak jumlahnya. Ada debaran perasaan untuk menanti hari dimana untuk memandang parasnya setelah sekian lama berpisah. Kita dan dia tak ayal seperti dua sepasang kekasih yang baru saja merajut kisah. Selalu ada degub kencang di dada setiap pertama kali bertemu setelah perpisahan.

Kita hanya sering tak punya kesabaran untuk menantikan hari itu

Menanti pertemuan berarti harus menjalani hari dimana otak tak bisa lagi diajak kompromi

Menjalani hari dengan otak yang tak bisa diajak kompromi via www.logancoleblog.com

Selalu ada hari-hari dimana kita merasa kesepian tanpanya

Segala macam kecemasan dengan mudahnya merajai pikiran, yang sebelumnya baik- baik saja. Bagaimana jika pertemuan ini batal terjadi, bagaimana jika mendadak jadwalnya berubah dan dia harus membatalkan pertemuan, serta masih banyak ‘bagaimana jika’ lainnya yang terpikirkan. Kita tiba-tiba berubah menjadi pribadi yang penuh dengan kekhawatiran tepat menjelang hari pertemuan yang sudah direncanakan.

Menjalani hari dengan otak yang tak lagi bisa diajak kompromi sudah cukup khatam kita rasakan. Rasanya ingin hibernasi hingga dalam sekejap saja sudah tiba di waktu pertemuan dengannya. Seandainya kita punya mesin waktu, hari-hari dimana kita harus sendiri dan kesepian tanpanya ingin rasanya dilewati begitu saja.

Sementara waktu bersamanya terasa seperti kilatan cahaya. Tak terasa dan tiba-tiba hilang begitu saja

Waktu bersamanya terasa seperti kilatan cahaya via www.logancoleblog.com

Ketidakadilan ini tak berhenti sampai disitu. Ketika kesabaran akhirnya terbayar dengan pertemuan yang selalu kita nantikan, kebersamaan dengannya seakan hanya sekedar numpang lewat saja. Kecepatannya seperti kilatan cahaya, tidak terasa namun tiba-tiba akan hilang begitu saja.

Momen bersamanya, setiap detik jelas begitu berharga. Hingga kita tak mau kehilangan setiap bagiannya. Tak ada yang lebih berharga, selain memperhatikan mimik mukanya saat dia dengan semangatnya bercerita tentang hari-harinya di perantauan. Atau memeluk erat tubuhnya saat kalian bersama menghabiskan sore. Walau tanpa banyak kata, kita sudah cukup merasa mendapatkan segalanya. Asalkan ada dia.

Kalau saja waktu bisa dihentikan sementara. Karena kita hanya ingin bahagia.

Hati harus kembali berderak saat sentuhannya masih terasa, namun perpisahan yang sekian kalinya sudah di depan mata

Ada rasa yang tak bisa dijelaskan saat perpisahan di depan mata via www.logancoleblog.com

Lagi-lagi kita harus kembali dikuasai rasa cemas, saat sentuhannya masih jelas terasa namun perpisahan yang sekian kalinya menunggu untuk dihadapi. Sedih juga bukan lagi kata yang tepat untuk menjelaskan campur aduknya perasaan kita yang akan ditinggalkan sekali lagi.

Namun alih-alih merengek meminta dia tetap tinggal, kita seringkali memaksa terlihat tegar. Lewat kalimat “Hati-hati ya” yang selalu kita ucapkan menjelang keberangkatannya. Dari kalimat sederhana ini, kita seakan ingin menyampaikan banyak hal. Namun harapan untuknya agar dia tetap menjaga diri disana lebih kuat dibandingkan harapan-harapan lainnya.

Hati rasanya berderak, namun kita harus lebih kuat dari jarak

Semestinya ada satuan waktu baru bagi para pejuang jarak. Berkali-kali lebih lambat saat bersama dan berkali-kali lebih cepat saat rindu perlu dituntaskan

Semestinya ada satuan waktu baru via www.logancoleblog.com

Dari semua hal yang para pejuang jarak telah lalui, selalu ada keinginan yang meski terasa tak mungkin namun tak pernah bosan diharapkan bisa terwujud. Semestinya ada satuan waktu baru bagi kita, pejuang jarak. Kita butuh waktu yang berjalan lebih cepat saat kita menanti sebuah pertemuan. Sementara kita ingin waktu melambat dari biasanya saat sedang bersama dia.

Kita hanya perlu cukup waktu untuk menuntaskan rindu. Kita perlu menggenggam tangannya sedikit lebih lama, memeluk hangat tubuhnya sebentar lagi saja, dan memuaskan diri untuk menatap sorot matanya yang penuh makna. Kita butuh itu semua.

Namun selagi waktu tak bisa diutak-atik, biarkan kita membuat rindu ini lebih bermakna. Sembari menunggu waktu pertemuan berikutnya.

Hati-hati disana. Sampai bertemu secepatnya.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!