Orang tua adalah orang yang paling tulus menyayangi anaknya. Mereka rela melakukan apa saja agar anaknya selamat, cerdas, dan sukses. Namun terkadang orang tua lupa batasan antara ‘rela’ dengan ‘tega’. Sebelum kamu menjadi orang tua, pelajari dulu 6 kesalahan fatal di bawah ini:

1. Memberi Nama yang ‘Keren’

Ternyata Dia Beneran Ada via pbs.twimg.com

Orang tua ingin anak-anak punya nama keren, tidak standar, dan bahkan kebarat-baratan. Nama pribumi seperti ‘Adi’, ‘Bahri’, ‘Cahyo’ dan lain-lain dinilai sudah ketinggalan zaman dan nggak perlu digunakan lagi. Tapi berdasarkan penelitian, anak yang tumbuh dengan nama biasa dan populer cenderung menjadi warga yang patuh hukum di kemudian hari. Sebliknya, nama seperti ‘Alec’, ‘Ivan’, ‘Ernest’ dan semacamnya cenderung dekat dengan pelanggaran hukum saat mereka dewasa nanti. Hal ini disebabkan nama aneh dan tidak biasa yang mereka miliki rentan menjadi bahan olok-olok.

Maka, pertimbangkan lagi nama anak yang sudah kamu siapkan agar buah hati tidak mengalami kesulitan dalam kehidupannya.

2. Mengajarkan Anak Untuk Memilih Teman

Pilih-pilih teman via dadvsspawn.com

Advertisement

Karena takut terpengaruh teman, orang tua berpikir anak remajanya harus menjauh dari teman-temannya yang merokok, pengguna narkoba, atau penggemar porno. Orang tua mengajarkan anaknya untuk menutup mata dan nggak peduli sama sekali bahwa kegiatan yang negatif seperti itu selalu ada di kehidupan sosial.

Niat orang tua memang baik sih, tapi penelitian membuktikan bahwa anak yang lebih banyak bergaul pada usia 12-13 tahun lebih mudah menyesuaikan dirinya di masyarakat dibandingkan anak yang membatasi dan menjauhi diri dari pergaulan. Mereka bisa memahami dan menerima kalau perbedaan itu ada. Dan mereka lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

Mengajarkan anak menjadi diri sendiri tidak menjamin anak kamu tumbuh menjadi jenius. Mereka malah susah berbaur dan nilainya menurun tiap tahun. Melarang anak melakukan hal-hal negatif memang wajib dilakukan orang tua. Tapi ingat, yang dijauhi itu kegiatannya bukan orang-orangnya.

3. Menyekolahkan Anak Terlalu Dini

Jadi Professor dalam 11 Tahun via 1.bp.blogspot.com

Kamu pernah ‘kan lihat anak usia balita sudah mengenal bahasa Inggris jauh sebelum dia memahami bahasa Indonesia? Orang tua berpendapat pendidikan harus secepatnya diberikan kepada anak-anak mereka. Tapi pendidikan seperti apa dulu. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap lembaga PAUD, apakah mereka butuh pelajaran SD di usia 4 tahun?

Studi di Inggris menemukan bahwa anak yang sudah mulai bersekolah sebelum menginjak usia 6 tahun berpeluang di-D.O. ketika duduk di bangku kuliah. Mereka kurang pede dan mudah gelisah menghadapi masa depan karena ditekan untuk terbiasa kompetitif sejak usia dini.

Sebaiknya anak seumuran gitu dibiarkan menjadi anak-anak. Bermain dan belajar sesukanya, mengembangkan kemampuan motorik dan kognitif layaknya anak berusia 4-5 tahun.

4. Don’t Talk to Strangers

Jangan Bicara Sama Sekali via www.drewlitton.com

Kasus-kasus pelecehan terhadap anak yang merebak di Indonesia membuat kita prihatin. Orang tua akan lebih berhati-hati bahkan kalau sampai perlu melarang anaknya berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal. Karena orang tua berpendapat di dunia yang penuh kecurigaan ini kita tidak pernah tahu niat baik/jahat yang dimiliki seseorang.

Namun Professor Sue Scott dari University of Durham berpendapat bahwa doktrin yang berlebihan soal menjauhi orang asing dapat membuat anak kamu menjadi xenophobia (takut atau benci terhadap orang asing, via Merriam-Webster). Anak-anak semestinya diajarkan untuk waspada terhadap orang asing, bukan curiga lalu ketakutan. Lagi pula, kebanyakan penculikan/pelecahan anak-anak malah dilakukan oleh orang yang mereka kenal dan dekat dengan keluarga.

Cara pandang orang tua dalam melihat orang asing dan berperawakan berbeda harus segera diubah. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin anak mungkin anak kamu tumbuh menjadi seorang rasis dengan prasangka yang buruk.

5. Membanjiri Anak Dengan Pujian

Puji jika dia sudah berusaha keras via i.huffpost.com

Penelitian yang dilakukan Columbia dan Stanford University menemukan bahwa anak yang terlalu sering dipuji akan akan percaya bahwa kecerdasan dan talenta adalah bawaan lahir, bukan dua hal yang mestinya mereka asah dan kembangkan lagi. Akibatnya, mereka menjadi pemalas dan nggak mau kerja keras untuk meraih prestasi akademik. “Kata Mama Papa, aku ‘kan luar biasa hebat. Buat apa aku capek-capek bikin PR?”

Ketika nilai rapor mereka menurun, anak-anak jadi nggak pede di depan temannya. Makanya, ajarkan anak kamu akan pentingnya kerja keras, motivasi, dan usaha dalam mengembangkan diri.

6. Memberi Tontonan ‘Edukatif’

Lakukan Interaksi Langsung via 4.bp.blogspot.com

Pada usia 1 tahun, orang tua berharap anak (baca: bayi) mereka menyerap sebanyak mungkin pengetahuan dan ilmu. Tidak cukup dari buku dongeng, bayi dicecoki dengan tontonan ‘edukatif’ seperti Baby Einstein, Barney & Friends, atau Dora The Explorer.

Sebuah penelitian dari University of Washington menunjukkan kalau bayi, berusia sekitar 1 tahun, yang menonton Baby Einstein malah hanya mendapat sedikit ilmu dari tayangan ini. Kosakata yang mereka miliki lebih sedikit dibanding dengan bayi seumuran yang belajar dari orang tua.

Adegan dan gambar dalam video edukasi berjalan dengan tempo yang cepat. Tiap detik bayi disuguhi dengan kata baru yang tidak sempat mereka kenali. Akibatnya, bayi hanya mampu menyerap sedikit ilmu karena mereka belum bisa memproses interaksi virtual secepat orang dewasa.

Jika ingin anak mempelajari sesuatu, bacakan mereka buku anak-anak diselingi dengan interaksi langsung. Jangan pikir meletakkan mereka di depan TV akan menyelesaikan segalanya!