Awal mengenalmu masih mampu membuatku menyisakan ruang di hati, walau mungkin sudah pudar dalam ingatanmu. Interaksi awal antara kita dulunya memang tidak bermula dari senyum-senyum malu. Hanya percakapan biasa saja. Namun setelah itu, berbicara denganmu jadi hal yang menyenangkan karena kita bisa berbincang tentang apa saja. Aku mulai sering memikirkanmu.

Apa daya, belum ada label “kita” dari hubungan yang sudah terjalin cukup dekat ini. Sekadar teman? Janggal, karena perbincangan kita sudah tak mengarah pada hal kekanakan. Sepasang kekasih? Kurang pas. Batas aku-kamu yang berdiri dengan kokohnya, menjadi penghalang besar untuk diresmikan menjadi “kita”.

Maukah kamu berusaha bersama denganku untuk berjuang menaklukan restu dari semesta dan seisinya, agar definisi “kita” ini bisa menjadi jawaban akhir nantinya?

Karena kenyamanan tak datang tiba-tiba, kedekatan ini sudah terpantik sejak lama entah kapan

Awal yang tak terduga via unsplash.com

Tak ada yang tau sejak kapan rasa rindu berkepanjangan ini bersemayam. Yang masih kuingat sampai saat ini adalah, pertemuan “kita” yang tidak sengaja dan dibuat kebetulan oleh Tuhan ini tak menyisakan kesan mendalam. Tiba-tiba, rasa nyaman datang tanpa diundang.

Advertisement

Obrolan kita yang awalnya sekadar memperbincangkan perkara tugas-tugas kuliah dan pekerjaan, tetiba mulai menanyakan hal-hal pribadi lainnya. Yang membuatku bingung, keadaan punya caranya tersendiri untuk mendekatkan aku dan kamu yang awalnya hanya sebatas teman. Harus diakui, hubungan kita sudah diwarnai dengan perasaan-perasaan lain yang lebih dari sekadar teman.

Interaksi kita seringnya menimbulkan pertanyaan. Walau ingin jujur, tapi yang saat ini bisa ku akui kita hanya berteman

Dia siapamu? Kamu siapanya? via unsplash.com

Menghabiskan waktu bersamamu adalah saat yang paling kutunggu. Duduk-duduk di teras rumah sambil bercengkerama menikmati senja sudah jadi rutinitas tak terlewatkan saat kesibukan tidak mengganggu. Tak jarang, banyak yang menanyakan tentangmu kepadaku. Tak banyak jawaban yang bisa aku lontarkan mengenai status pertemanan lebih kita ini.

“Teman. Ya, hanya teman.”

Bukan mudah mengatakan satu kata yang bertolak belakang dengan kondisi perasaan. Hanya kita yang tau sedalam apa hubungan yang sedang kita jalin. Tapi apa daya, hanya hati yang berontak mengenai status ini. Untuk menjadikan lebih serius, sepertinya belum ada kesempatan untuk memperjelas.

Andai bisa tidak memendam terlalu lama. Dari aku dan kamu menjadi “kita”, bukankah terasa lebih menenangkan?

Kita bisa tak lagi saling memendam via unsplash.com

Banyak yang bilang, jika sudah terlanjur nyaman, status bukanlah sebuah perkara yang harus dibesar-besarkan. Kamu dan aku pun pernah membenarkan hal ini. Tapi, bukankah nantinya akan ada salah satu dari kita yang merasa mengingkari isi hati? Lambat laun, kepastian status hubunganlah yang akan menang.

Jika kita meluangkan waktu untuk merenung sejenak, akankah lebih menyenangkan jika aku dan kamu yang masih berjalan sendiri-sendiri, berubah menjadi “kita”? Tak muluk-muluk, status sebagai kekasih yang saling mengisi akan cukup memberikan kita ketenangan.

Definisi “kita” akan membukakan jalan menuju restu Tuhan, keluarga, dan semesta. Pelan-pelan, karena akan butuh waktu lama

Menanti izin Tuhan, orangtua, dan semesta via unsplash.com

Ketika hubungan  dengan label “kita” sudah dapat dipastikan, akan banyak keajaiban yang akan mengikuti. Aku percaya, meminta restu dari Tuhan, orangtua, dan semesta adalah serangkaian hal yang harus dituntaskan. Menyegerakan untuk mendefinisikan hubungan kita akan lebih baik. Karena untuk mengunduh restu mereka, akan dibutuhkan waktu yang cukup lama.

Pernahkah terlintas di benakmu? Semakin lekas aku dan kamu memulai tahap yang sudah satu tingkat lebih serius dari sekadar teman ini, akan semakin banyak waktu yang kita miliki untuk bergelut dalam mengusahakan restu. Banyak-banyaklah memanjatkan doa kepada Tuhan, agar kesempatan menyakinkan orangtua bisa dilancarkan. Lalu kamu dan aku yakinlah, semesta akan mendukung dengan sendirinya.

Jika hati kita sudah mantap, usaha dan langkah ini akan terasa ringan. Dukungan semesta adalah yang kita pinta di atas segalanya

Kita 🙂 via unsplash.com

Bukannya memaksamu untuk buru-buru menyudahi hubungan tanpa status ini. Lambat laun, pertanda keseriusan ini akan semakin terpantul jelas. Setelah definisi sudah terlabeli, perasaan yang selama ini disembunyikan ini akan menemukan jalannya untuk tidak lagi menghalangi hari.

Tidakkah kau juga ingin merasa lega?

Ada jalan baik yang terbuka lebar di depan kita untuk semakin memantapkan keputusan di masa depan. Segala usaha yang berat pun akan terasa lebih ringan dan dilancarkan. Tak banyak harapan yang aku gantungkan. Untuk saat ini, mungkin aku bisa menunggu saat untuk mengambil keputusan terbaik sebelum kita benar-benar terjadi. Semoga kamu juga begitu.