Pernah nggak sih sebelum menikah para lelaki mikir kalau kelak ketika mereka menikah nanti mereka harus ngebantuin istrinya ngurus anak juga? Gak peduli kamu memang udah kerja seharian, itu bukan alasan untuk menghindar mengurus anak loh. Apalagi yang namanya anak kan tanggung jawab bersama. Jadi wajarlah kalau para suami harus ngebantuin ngurus anak juga.

Pemikiran yang salah jika ibu lah yang harus mengurus anaknya terus. Memang sih ibu wajib mengurus anaknya tapi ayah juga punya andil penting juga, lho. Karena bagaimana pun sebuah rumah tangga itu dibangun oleh seorang istri dan suami. Jadi sangat wajar untuk saling membantu. Penasaran kan apa saja alasan suami mengapa harus ngebantuin istri dalam mengurus anak? Berikut ini ulasannya...

1. Sebagai orang tua, berilah kasih sayang yang seimbang. Nggak mau ‘kan kalau anakmu nanti kekurangan kasih sayang?

Bayi dalam gendongan seorang ayah via http://zero.intikali.org

Tahu gak sih anak-anak yang juga dekat dengan ayahnya ternyata mempunayi percaya diri yang lebih. Kasih sayang ayah dan ibu sebenarnya saling melengkapi, sehingga keduanya memang gak bisa dipisahkan. Kalau seorang suami peduli dengan anaknya, harus dong mengurus anak juga, karena mengurus anak bersama istri kamu gak cuma akan menjali hubungan baik dengan anak. Istri kamu juga akan jadi meleleh lihat suaminya mau bersusah payah ikut mengurus anak.

2. Sadari bahwa istrimu bukan robot! Dia juga bisa kesal, lelah dan berada dalam mood yang kurang baik

Perempuan robot via https://pixabay.com

Mengurus anak seharian bukan perkara remeh, lho. Apalagi kalau anaknya bener-bener nggak bisa diam dan bikin ulah sana sini, sedangkan sang ibu harus mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Nggak heran lho kenapa banyak ibu yang mudah memukul atau memaki anaknya. Ketika mereka suka penat dan lelah, maka mereka akan emosi dan hal itu nggak bisa dikontrol, akhirnya tersalurkan lewat jalan yang salah.

Kalau sudah begini kasihan si anak kan? Apalagi anak-anak yang sering menerima kekerasan fisik maupun verbal akan menjadi pribadi yang kurang ceria bahkan bisa menjadi orang yang kasar.

3. Pekerjaan rumah itu takkan ada habisnya, sedangkan anakmu nanti butuh perhatian yang tak terukur banyaknya

Advertisement

Orang tua perhatian terhadap anak via https://pixabay.com

Kalau kamu nggak pernah bantuin ibumu di rumah, pasti nggak tahu deh kalau pekerjaan rumah itu sangat melelahkan dan membosankan. Tiap hari perkejaan yang sama dan nggak ada habisnya. Piring sudah dicuci ada lagi piring kotor. Nah loh, capek gak sih kayak gini terus? Dan beberapa ibu rumah tangga terkadang ingin pekerjaan rumahnya selesai agar saat suami pulang, semua pekerjaan rumah sudah beres dan bisa bercengkraman dengan suami dan anak.

Sayangnya kalau pekerjaan rumah dibarengi dengan mengasuh anak, akan sulit selesai. Kalau sang ibu terlalu fokus mengerjakan pekerjaan rumah bisa saja si anak akhirnya terbengkalai dan nggak mendapatkan kasih sayang yang seutuhnya. Jadi cobalah mengatur waktu bersama istrimu agar bisa sama2 mengasuh anak dengan baik. Syukur-syukur kalau bisa menyewa asisten rumah tangga.

4. Sebagai suami kamu harus tahu, anak yang cerdas dan bahagia berasal dari ibu yang bahagia pula

Anak tertawa bahagia via https://www.pexels.com

Bagaimana pun juga anak memang lebih dekat kepada ibu, sehingga perasa anak apalagi masih bayi. Ya, bakalan terpengaruh dengan suasana hati sang ibu. Coba deh kamu perhatikan. Kalau istri kamu mood-nya lagi jelek, perhatikan si anak. Yakin deh si anak akan bertingkah yang menyebalkan juga atau bahkan rewel menangsi terus. Itulah kenapa anak yang bahagia berawal dari ibu yang bahagia juga. Kalau bisa memang istri selalu dalam mood yang baik. Kalau gak ya jangan kelamaan badmood-nya.

5. Saking pentingnya peran ayah dalam mendidik anak, al-Qur’an pun menyinggungnya

Pentingnya ayah mengajak ngobrol anaknya via https://www.pexels.com

Bagi kamu yang beragama Islam, kamu akan menjumpai bagaimana peran ayah ini sangat penting dalam mendidik anak. Di al-Qur'an ada beberapa percakapan antara anak dan ayahnya. Yang pertama adalah percakapan antara Nabi Ibrahim dan anaknya yaitu Nabi Ismail. Nabi Ibrahim pun tidak serta merta memaksa Nabi Ismail untuk menuruti tuntutan wahyu Alloh untuk mengurbankan Nabi Ismail, namun dengan cara bertanya.

Yang kedua, adalah percakapan Nabi Yusuf dan ayahnya, yaitu Nabi Ya'qub mengenai mimpi bintang dan bulan yang sujud pada Nabi Yusuf. Dan yang ketiga adalah kisah Luqman al-Hakim yang menasehati anaknya tentang tauhid dan berbakti pada kedua orang tua.

Dari sana kamu bisa mengambil hikmah bahwa peran ayah ini sangat penting dalam pendidikan anak. Terutama dalam pendidikan moralnya.