Broken home atau keretakan dalam rumah tangga adalah sebuah peristiwa yang tidak diinginkan namun sebuah jalan tengah untuk mengusaikan masalah agar tidak lebih runyam. Pertengkaran orangtua, tidak jarang menjadikan anak sebagai korban dalam kehidupan ini. Perceraian seperti pil pahit yang sulit dilupakan rasanya. Sesak di dada, sakit di tenggorokan, dan melelahkan jiwa. 

Berikut ini adalah peristiwa yang dialami berikut sifat yang terbentuk dengan sendirinya di jiwa anak korban Broken Home karena keadaan memaksa mereka:

 

1. Kuat

i'm strong women

i'm strong women via http://thumbs.dreamstime.com

Dalam kehidupan sehari-hari, anak korban broken home sering mendengarkan pertengkaran orangtua dan mengetahui pihak yang salah dari salah-satunya. Misalkan ayah selingkuh dan tidak pernah memberi uang saku pada anak-anaknya. Seorang anak menjadi terbiasa kuat untuk menapak kehidupan yang sulit ini.

Di saat teman-teman mempunyai hal-hal yang diinginkan yaitu keluarga bahagia, kecukupan financial, anak broken home melangkah pasti dengan niat yang bulat untuk mencari kehidupan secara mandiri baginya, karena otomatis peran salah satu orangtua sudah tidak berfungsi.

2. Hidup kami memang susah, tapi kami tidak butuh dikasihani.

Kami tidak butuh dikasihani

Kami tidak butuh dikasihani via http://cdn-2.tstatic.net

Hidup sebagai anak korban broken home memang sangat susah. Kami kadang mempunyai trauma masa lalu, tentang orangtua yang sudah tidak peduli pada kami. Apalagi di usia yang belasan tahun atau dalam hitungan angka tunggal, kami sudah makan dengan lauk seadanya, susah bayar sekolah, dan dicemooh orang lain. Sesekali ada orang yang kasihan, kami cukup kuat untuk menghadapi hidup.

Semua kehancuran dalam kehidupan kami adalah pelajaran berharga agar di masa depan. Kami tidak melakukan kesalahan seperti kesalahan orangtua kami. Bukankah anak tidak salah dalam peristiwa perceraian? Namun kami selalu jadi korban yang ditarik-tarik kedua belah pihak.

Terkadang, banyak orang yang baik hati, jauh lebih baik dari orangtua kami yang mengulurkan bantuan kepada kami, agar kami bisa meraih mimpi. Hal itulah yang kami butuhkan, bukan rasa kasihan. Seolah-olah kami manusia yang tidak mempunyai apa-apa. Kami masih mempunyai semangat yang tinggi untuk membanggakan nusa dan bangsa.

3. Bersikap dewasa dalam menghadapi masalah.

Dewasa dalam menghadapi masalah

Dewasa dalam menghadapi masalah via http://wp.production.patheos.com

Kami sering melihat orangtua kami sudah tidak akur lagi setelah bercerai. Kami juga sering mendengar saling menjelekkan dari kedua belah pihak dan hanya kami yang tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Kami jadi semakin dewasa karena keadaan menuntut kami melakukan hal itu. Sesekali, kami melerai orangtua kami saat bertengkar.

Saat orangtua kami menikah lagi, kami juga menjadi lebih dewasa untuk mengikhlaskan apapun yang terjadi. Karena kami sebagai anak juga suatu saat akan pergi meninggalkan kalian orangtua kami, untuk mencari kebahagiaan kami sendiri.

4. Selektif dalam memilih pendamping.

Pendamping hidup

Pendamping hidup via http://www.gilerkentang.com

Karena pahitnya hidup sudah berkali-kali dirasakan anak broken home. Sendirian di rumah, gigit jari melihat ayah atau ibu teman yang sangat baik, mempunyai keluarga yang utuh, financial yang memadai, kasih sayang yang utuh, dan sebagainya, kami menjadi lebih selektif dalam memilih pasangan agar kami tidak merasakan kegagalan lagi. Kami sudah cukup mengalami hal ini sekali dan berharap agar mendapatkan cinta sejati sebagai ganti kehidupan yang tidak lengkap.

Kadang, ada orangtua dari calon pendamping kami yang mempermasalahkan seperti apa keluarga kami. Menjadi anak korban broken home, membuat kami jadi pihak yang tereliminasi. Kami bukanlah orang yang bisa dipandang sebelah mata seperti itu. Jika keluarga calon kami tidak merestui, kami siap menanti pasangan yang lebih baik yang bisa menerima kami dengan tangan terbuka dan semua ini juga bukan salah kami.

5. Melakukan apa saja sendiri pun kami sudah terbiasa.

Alone by my self

Alone by my self via http://i1083.photobucket.com

Saat di rumah, kami sering sendirian karena orangtua kami sudah tidak satu rumah lagi. Di kesendirian, kami kadang masih menggenggam kesedihan itu. Kami akui, kami sering menangis atau bersedih saat kesepian melanda. Tapi di sisi lain, kami bisa menerima bahwa ini adalah yang terbaik dan kami pasti jadi lebih kuat untuk menguatkan orang lain di sekitar kami. Kami kuat bertahan sendiri dan kami lebih kuat dalam menguatkan orang yang kami sayang. 

Karena kami tahu betul rasanya kehilangan orang yang kami sayangi. Dengan memberi kasih sayang, kami merasakan hidup kami lebih lengkap. Mendapatkan kebersamaan dan keluarga baru

6. Pekerja keras dalam meraih mimpi.

Mimpi kami segudang

Mimpi kami segudang via http://gambarterlucu.terupdate.net

Mimpi adalah satu-satunya tujuan hidup bagi anak korban Broken Home. Dengan mimpi, kami berharap masa depan yang lebih cerah. Hidup kami yang menyakitkan, susah, penuh cobaan, membuat kami harus bekerja keras meraih mimpi kami. Tak jarang, kami terlihat jarang tidur demi mencari IPK tinggi atau kurang tidur karena mengerjakan skripsi.

Kami juga sangat bijak dalam mengeluarkan uang saat teman-teman bisa membeli apapun dari uang orangtua. Kami memilih hidup pas-pasan.

Untukmu yang mempunyai kerabat, teman, kekasih, atau suami/istri dari korban Broken Home, sayangilah mereka apa adanya. Jadilah orang yang menyayanginya apa adanya. Berikan mereka pelukan, genggaman erat di tangannya, dan temani hidupnya. Karena kami juga sama seperti kalian. Kami juga akan selalu menyayangi kalian yang selalu menguatkan kami.

 

 

Untukmu, anak Broken Home, jangan patah semangat kawan. Kamu tidak sendirian. Banyak yang memiliki kisah yang sama dengan kita. Ingatlah, luka masa lalu kita, luka kita sekarang. Jadikan itu pelajaran agar tidak terjadi lagi luka yang lain yang bisa menyatiki kita lagi. Tetap semangat dan berikan yang terbaik! Pilihlah jalan yang baik untuk meraih puncak kesuksesan dan jangan pernah memilih jalan yang jelek karena kalian bisa tersesat atau terjun ke jurang.

Semangat dan berdoa kepada Tuhan untuk masa depan yang lebih baik.