Dalam berkarya, sah-sah saja, kok, jika dalam proses pembuatannya terinspirasi oleh karya lain. Saking sahnya, ngak jarang, lho, seniman-seniman ahli yang mengatakan bahwa no art is original atau tidak ada karya seni yang orisinal. Semua karya seni, pastinya terinspirasi oleh sesuatu. Bisa karya seni lainnya, disiplin di luar seni, bahkan alam sekitar pun bisa jadi inspirasi dalam pembuatan suatu karya.

Memang, sih, banyak seniman yang nggak ragu-ragu menyampaikan bahwa dalam berkarya itu seseorang harus “mencuri”. Tetapi, jangan sampai berlebihan juga. Bisa-bisa kalian dianggap plagiat bahkan kalian bisa diseret ke ranah hukum! Nah, karya-karya sastra Indonesia di bawah ini, memiliki kemiripan yang nggak bisa dicuekin begitu saja, dengan karya-karya di luar negeri. Hayo, kira-kira penulisnya hanya sekadar terinspirasi atau melakukan plagiat, ya?

1. Ayahku (Bukan) Pembohong (Tere Liye) vs Big Fish (Daniel Wallace)

Ayahku (Bukan) Pembohong via http://nisyatullaena.blogspot.com

Saat Ayahku (Bukan) Pembohong diterbitkan, tidak sedikit pembacanya yang menemukan banyak kemiripan antara novel karya Tere Liye tersebut dengan novel Big Fish karya Daniel Wallace. Kedua novel tersebut memang sama-sama bercerita tentang seorang anak yang tumbuh besar dengan dongeng-dongeng dari Ayahnya. Dongeng-dongeng ayahnya terdengar sangat tidak masuk akal, sampai akhirnya Ayah kedua tokoh utama meninggal, dan si tokoh utama pun menyaksikan bagaimana dongeng-dongeng dari Ayahnya selama ini ternyata merupakan cerita nyata. Kedengarannya mirip, kan?

Tere Liye pun menyatakan bahwa ia tidak pernah membaca atau pun menonton Big Fish sebelumnya. Tere Liye hanya mengatakan bahwa ceritanya terinspirasi dari artikel yang pernah ia baca atau film-film yang pernah ia saksikan. Kira-kira, ini plagiat bukan ya?

2. “Dodolitdodolitdodolibret” (Seno Gumira Ajidarma) vs The Three Hermits (Leo Tolstoy)

The Three Hermits via http://citydesert.wordpress.com

Advertisement

Eits, bukan, ini bukan dodolitdodolitdodolibret yang lagu anak-anak itu! Dodolitdodolitdodolibret merupakan cerpen tulisan sastrawan Seno Gumira Ajidarma yang dimuat di harian Kompas. Dodolitdodolitdodolibret menuai kontroversi karena kemiripannya dengan cerita The Three Hermits karya Leo Tolstoy. Kedua cerita menceritakan tentang seorang tokoh agama, yang menganggap bahwa tanda seseorang memiliki ilmu agama yang tinggi adalah saat orang itu mampu berjalan di air. Kedua tokoh agama ini tidak kunjung bisa berjalan di air, namun karena mereka merasa bahagia, mereka berpendapat bahwa ajaran agama mereka memang benar. Tetapi, tidak semua orang dapat mengerti ajaran si tokoh agama. Di akhir cerita, si tokoh agama pulang berlayar ke rumahnya, disusul oleh orang-orang yang berjalan di air, sambil memohon minta diajarkan lagi karena mereka sudah lupa ajaran si tokoh agama.

Banyak sastrawan ahli mengkritik cerita Seno Gumira Ajidarma yang dianggap melakukan plagiat terhadap cerita Leo Tolstoy. Seno Gumira Ajidarma pun tidak mengelak bahwa ceritanya mungkin terinspirasi dari banyak cerita lain. Waduh, gimana tuh?

3. The Jacatra Secret (Rizky Ridyasmara) vs The Da Vinci Code (Dan Brown)

The Jacatra Secret via http://rosmensucks.wordpress.com

The Jacatra Secret karya Rizky Ridyasmara menceritakan tentang seorang ilmuwan yang berusaha memecahkan kode iluminati dan freemason yang menurutnya, terpetakan pada tata kota provinsi DKI Jakarta. Pembaca buku ini merasa bahwa buku ini memiliki banyak kemiripan dengan buku-buku Dan Brown, seperti The Da Vinci Code. Kemiripan ditemukan pembaca pada tokoh-tokoh, alur cerita, dan tema umum kedua cerita. Baik The Jacatra Secret maupun The Da Vinci Code mengisahkan tentang tokoh utama seorang simbolog, yang ditemani seorang wanita cantik dan pintar. Kedua tokoh pun sama-sama berusaha memecahkan kode rahasia yang ada sangkut pautnya dengan iluminati dan freemason.

Sampai saat ini sih, penulis belum pernah menemukan pernyataan Rizky Ridyasmara tentang buku yang ia tulis. Namun, Ridyasmara ternyata dulunya pernah mengulas buku The Da Vinci Code. Hmm, bisa jadi si penulis hanya sekadar terinspirasi, ya?

4. Sangkuriang vs Oedipus Sang Raja

Oedipus Rex via http://youtube.com

Wah, sekarang kita berpindah ke cerita rakyat, nih! Kalau dipikir-pikir, cerita Sangkuriang dan Oedipus Sang Raja memang memiliki banyak kemiripan. Sangkuriang dan Oedipus sama-sama bercerita tentang seorang anak yang menikahi ibunya. Ditambah lagi, Sangkuriang dan Oedipus sama-sama membunuh Ayahnya sebelum akhirnya “menikahi” ibunya. Secara alur cerita sih, emang berbeda. Tetapi, inti dari kedua cerita ini memang terdengar sama. Para ahli sastra pun tidak sedikit yang membicarakan kemiripan antara kedua cerita. Namun, karena kedua cerita ditulis jauh pada masa berbagi informasi masih sulit, kayaknya nggak mungkin deh, si penulis cerita saling mencontek cerita satu sama lain?

5. Infinitely Yours (Orizuka) vs Hello Stranger (Banjong Pisanthanakun)

Infinitely Yours via http://goodreads.com

Infinitely Yours tulisan Orizuka ternyata memiliki kemiripan dengan film Hello Stranger yang diproduksi oleh Banjong Pisanthanakun! Kedua cerita menceritakan tentang sepasang laki-laki dan perempuan yang bertemu saat tengah tur ke Korea Selatan. Keduanya pun mengalami serangkaian cerita saat tengah tur di Korea Selatan, sampai mereka pun saling jatuh cinta. Baik novel Infinitely Yours dan film Hello Stranger juga menggunakan latar belakang tempat-tempat di Korea Selatan yang pernah dijadikan tempat shooting drama-drama Korea Selatan.

Orizuka membantah bahwa tulisannya menjiplak film Hello Stranger. Ia bahkan menyatakan terkejut saat menonton film Hello Stranger dan menemukan banyak kemiripan dengan ceritanya. Kalau menurut penulis, sih, mungkin kedua cerita mirip karena sama-sama muncul di tengah booming demam Korea. Bisa jadi, ya?

Sepertinya kemiripan pada karya memang tidak bisa terelakkan. Banyak faktor yang menjadikan satu karya mirip dengan yang lainnya. Tetapi, yang pasti, di dunia ini memang tidak mungkin ada karya yang orisinal! Apakah karya tersebut memang plagiat atau hanya tidak sengaja mirip, boleh jadi pembaca sendiri lah yang menentukan.