Terkadang sebuah perasaan cinta ialah sesuatu hal yang tabu untuk sebagian orang, banyak dari mereka yang merasa ini adalah sesuatu hal yang sangat personal dan ingin selalu di tutup-tutupi. Namun suatu saat pasti akan ada masanya dimana perasaan itu akan mendorongmu untuk mengeksploitasi dan memvisualisasikannya kepada seseorang itu.

1. Mungkin berawal dari sebuah kekaguman maupun hanya sekedar selayang pandang.

Mungkin hanya ini pikirku, Perasaan ini yang tadinya tidak pernah ada di relung, Seperti cahaya lilin yang tiba-tiba menerangi kegelapan. Ya ,mungkin seperti itulah sebuah perasaan muncul. Perasaan itu muncul ketika kita merasakan sebuah keelokan maupun sebuah hal yang menurut diri ini asing namun seketika itu mampu menghanyutkan jiwa dalam rasa syahdu.

Aku bisa saja menyukai banyak hal, namun beda hal nya dengan yang banyak itu hal ini begitu spesial. Namun ada juga kalanya, perasaan itu muncul hanya dari seberkas cahaya, yang tiba-tiba jatuh ke bumi, sesuatu hal yang sekejap namun memberikan sebuah daya magis dan mampu menghipnotis mata hingga terngiang selalu setelahnya.

Sama halnya dengan sebuah senyuman yang aku tangkap dengan kedua pupil ini, bak seperti panah cahaya yang masuk ke kerongkongan dan menembus dada, meskipun hanya sekejap dan kita bukan siapa-siapa namun yaa begitulah adanya.

2. Ada maupun tiada keberadaanya selalu sama.

Advertisement

Keberadaannya bukan sebuah hal yang bisa membuatnya berhenti memakai rasa, begitu pula bersamanya tak pula bisa mematikan rasa. Seperti hujan ketika ia datang dan membawa sejuta nikmatnya, aku hanya bisa terpana, karena hanya itu waktu yang berharga bersamanya. Tak pula kemarau kerontang, kelembaban hujan selalu rindu untu menanti ulang.

Itu buka lisan berkata, relung selalu terlihat sama, meski tiada aksara disana aku masih bisa mengeja.Masih terngiang di ingatanku ketika kita berdua bersama berselang senyum dan canda, meskipun terkadang pembicaraan hanya omong kosong jenaka, aku tetap terpana dengan segala pembicaraannya. Tidak ubahnya ketika ia meninggalkan sejuta kenangan nya di sini tidak hanya di kota ini, namun juga jauh di dalam relung hati, namun akhirnya itu kembali lagi.

Ya Tuhan aku masih bersyukur memiliki segala ini, mungkin dirimu menciptakanya hanya sebagai penyemangat dan inspirasi hidup, ataupun arti lainnya yang aku tak mampu menerjemahkannya. Siapapun dia kini keberadaanya selalu sama, seolah telah melebur menjadi satu dan sudah tak ada terjemahannya lagi untuk sebuah arti yang bisa aku mengerti.

3. Mengenalnya begitu mudah, tak berarti bersamanya begitu ringan.

Begitu mudah hati ini untuk bisa menerimamu, begitu pula begitu murah senyumanku bila kita saling mengenal. Meski kadang kita belum bisa meraba apa dan siapa kamu maupun aku, itu tidak lagi sebuah halangan untuk melepas segala canda dan tawa.

Entah berawal dari mana dan sejauh mana perasaan itu datang, seolah kita tak menyadari kedatangannya seperti hembusan angin semilir, kita hanya bisa merasakan dan menikmati sapuannya. Bukan semacam spesial maupun istimewa lebih terkesan apa adanya, hanya saling memberi dan menerima bila mau, tanpa sebuah alasan.

Begitu mudah merasa dekat dengannya, karena aku merasa rindunya hati membuatnya dekat, namun terkadang terasa jauh, karena sebenarnya kita memang jauh. Kau tau bagaimana sebuah rasa akan timbul bila aku bersama denganmu ? Aku merasa seperti biji-bijian yang jauh di dalam tanah yang akan bersemi dan memiliki sebuah kehidupan ketika rintik hujan menembus humus dan melumuri seluruh tubuhku dengan basahnya kehidupan. Namun tak pernah terbayang ketika bersama denganmu akan seringan ketika mengenalmu.

Aku menyadari sesuatu hal yang besar, hal yang menjadi sebuah dinding pemisah diantara kita. Sekeras apapun aku mencabik, maupun menghantam dinding itu, untuk selamanya tidak akan pernah runtuh bahkan tak akan ada siapapun yang perduli masalah itu, dan aku sadar kekuatanku tak akan berbanding bila dihadapkan dengan hal semacam itu.

Hanya kekuatan harapan dan doa yang bisa aku harapkan, semoga Tuhan menganugerahkan sesuatu, maupun memberiku kekuatan untuk bisa menembus dinding kokoh di depan ku ini, meskipun aku juga tak pernah tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi selama ini di sebagian lain dinding pemisah ini. Bahkan aku tak tahu kamu masih ada di sana, ataupun sudah tiada.

4. Dia adalah bagian dari kehidupanku.

Entah mengapa perasaan ini selalu merujuk bahwa ia adalah salah satu bagian dari kehidupanku. aku merasa siapapun itu apabila dia telah datang ke dalam sanubari dan berada di sana untuk sebuah hitungan waktu, ialah sudah menjadi salah satu dari bagian kehidupanku.

Mungkin.. suatu saat yang ada di dalam itu akan membuat mu merasa bahagia, atau mungkin suatu saat sedih, maupun kecewa karenanya juga pasti ada, aku selalu berfikir bahwa semua itu tidak lebih dari sebuah fenomena alam pada umumnya. Kita hanya tinggal mengikuti kemana arah nahkoda berlayar, abaikan saja apa itu prasangka, nikmati saja perjalanan ini, yang mungkin tidak akan selalu mulus.

5. Rela memberi, rela menerima, dan rela bila ia harus pergi.

Ketika semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk mengarungi lautan kehidupan ini, tak pelak pasti akan selalu menemukan banyak hal, baik berupa kesenangan muapun kesedihan, dari sanalah kamu mengetahui dan menjawab segala bisikan hati dan gejolak jiwa, terkadang Tuhan pun Ikut bersama dan merangkul kita untuk menunjukkan sebuah arti tak terbatas dari sebuah kehidupan yang diberikan Nya kepada kita.

Apapun itu di dunia ini bukanlah sesuatu yang akan abadi kita hanya bisa berusaha untuk mewujudkan Harapan… harapan kita, maupun harapan orang lain yang memiliki berkeyakinan sama dengan kita. Perasaan itu akan terjaga ketika tidak akan ada paksaan, dan dibiarkan melayang menunjukkan kemana sebuah tujuan akan berawal.

Perasaan ini berarti rela memberi untuk nya, memberikan hal-hal yang membuatnya bahagia, memberikan semangat, memberikan kekuatan, memberikan harapan, dan lain-lainya bukan karena keinginan yang lain namun karena hanya sebuah alasan dari keinginan hati untuk sebuah kerelaan.

Begitupula terimalah apa yang menjadi karunianya, terimalah seperti ketika kamu mengaguminya, terimalah dengan semua perasaan terbuka, dan sebuah kebanggan karena tak lain apa yang kamu terima itu adalah sebuah sebab akibat dari kemuliaan perasanmu untuk rela memberi. Dan semua itu cepat atau lambat, mau atau tidak mau, suka maupun tidak suka akan datang waktunya sebuah perpisahan.

Perpisahan tidak melulu sebuah kesedihan, tidak pula melulu sebuah pemutus harapan, perpisahan hanya salah satu sebuah fase akhir dari sebuah siklus kehidupan. Relakanlah bila memang ia harus pergi, walaupun ia pergi semua kenangan dan perasaanya masih akan kita bawa itulah harta warisan yang kita miliki peninggalannya.

Lepaskan segala khidmad dengan saling merelakan tida hal selain kebaikan. Bersyukurlah dengan apa yang sudah pernah kau miliki, dan bersyukurlah dengan apa yang pernah menjadi bagian hidup mu, karna semua tidak ada yang kebetulan, dan semua tidak akan ada yang sia-sia.