Cintailah seseorang yang kamu cintai sekedarnya saja. Karena boleh jadi ia akan menjadi orang yang paling kamu benci.

Dan  bencilah pada seseorang sekedarnya saja, karena boleh jadi ia akan menjadi orang  yang paling kau cinta ~ Ali Bin Abi Thalib.

Saya selalu suka dengan kutipan di atas, sangat sederhana tapi memiliki makna yang sangat mendalam, walau kadang pengaplikasian di kehidupan nyata sangatlah amat sulit. Pada kesempatan kali ini izinkan saya untuk berbagi sedikit cerita tentang Istiqomah dalam penantian. Mungkin banyak teman-teman juga sedang dalam proses berhijrah dan belajar istiqomah. Termasuk istiqomah dalam penantian seseorang yang akan menjadi imam kelak.

Berhijrah memang mudah, yang sulit adalah istiqomah.  Ah kadang saya menyesal kenapa baru diusia 23 tahun saya baru benar-benar berserah diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Betapa saya memiliki masa lalu yang kelam, masa muda saya? Ya masa muda saya mungkin hanya dihiasi dengan kemaksiatan dan jauh dari perintah Allah. Tapi apakah saya bisa mengulang waktu? Tentu jawabanya tidak. Untuk itu yang perlu dilakukan hanyalah bertaubat dan terus memperbaiki diri, bermuhasabah dan terus merasa bodoh agar terus belajar untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

1. Selalu ada yang namanya sebab akibat

Selalu ada sebab dan akibat via http://daunbuah.com

Ya, sebelum saya benar-benar memutuskan untuk semakin mendekatkan diri dengan-Nya, saya hanyalah manusia bodoh yang senang bermaksiat. Saya sering kali melepas jilbab yang saya kenakan, membuka aurat di depan orang-orang, tak jarang pula meninggalkan sholat, berpacaran dan masih banyak lagi dosa-dosa yang tiap hari saya lakukan. Saya seperti makhluk sombong yang lupa dengan yang Maha Pencipta, saya jatuh cinta dengan nikmat duniawi. Namun Allah yang Maha Penyayang menarik semua nikmat dunia itu, Dia jadikanya saya terjatuh dan bangkit kembali untuk mengingat-Nya. Saya tersadar ternyata Allah cemburu karena aku lebih mencintainya ciptaan-Nya dibandingkan Dia yang Maha Pencipta. Dari proses jatuhnya saya itu lah saya mulai merengek, meminta dan memanja kepada Allah, sehingga saya sadar bahwa Allah mengambil semua itu karena yang demikian itu tidak baik untuk saya. Maka nikmat Tuhan manakah yang saya dustakan?

2. Manusia kotor yang penuh dosa

Ampuni aku ya Allah via http://mauhub.wordpress.com

Apakah teman-teman lantas berpikir saya sekarang sudah hijrah dan menjadi manusia yang suci? Oh tentu tidak, saya hanyalah makhluk kecil yang masih penuh dosa. Hanya saja saya sedang berjuang untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Pelan-pelan mulai saya tinggalkan hal-hal yang demikian tadi. Pelan-pelan mulai saya tutup aurat walaupun belum syar’i sesuai dengan syariat Islam. Saya masih menggenakan kemeja dan celana setiap kali bekerja, entahlah saya belum berani mengulurkan jilbab panjang dan gamis longgar untuk ke kantor. Rasanya segan dengan orang-orang kantor. Ah lagi-lagi saya masih mementingkan duniawi 

3. Godaan itu selalu datang

godaan syetan via http://embunpagi.com

Advertisement

Dalam proses hijrah ini tak jarang godaan itu datang seperti trend fashion yang hits, kadang terlintas ah pakai pakaian yang mini dan fit in body kelihatan lebih fresh dan muda ya. Tapi buru-buru saya hilangkan pikiran-pikiran kotor itu, saya sudah berniat dan saya harus konsisten. Kadang ada juga rasa malu ketika sudah memakai pakaian yang menutup aurat tapi cara bicara saya dan gaya banyolan saya masih ceplas ceplos. Ahh bukanya wanita yang baik sudah pasti menutup auratnya. 

4. Terus belajar untuk menjadi lebih baik

Terus belajar via http://gambarlucu.com

Sesungguhnya ketika semakin dekat dengan Sang Pencipta hidup ini akan terasa lebih ringan walaupun ujian selalu datang. Terus merasa bodoh agar terus mencari ilmu dan terus belajar. Menjadi manusia yang lebih baik dan terus lebih baik, bukankah jodoh adalah cerminan kita?! Seandainya saat ini kita sedang memperbaiki diri, insya Allah jodoh kita pun sedang melakukan yang sama. Bersabarlah wahai sahabat. 

5. Ikhlas Menjalani

Sebagai manusia biasa pasti sering kali saya berpikir, kenapa Allah belum menjawab doa-doa saya. Lagi-lagi saya mengeluh. Saya baru sadar, Allah akan memberikan apa yang terbaik bagi saya, bukan apa yang terbaik menurut saya. Sesungguhnya sebagai manusia biasa kita sudah sepatutnya bersyukur dengan apa yang Allah berikan. Tetap ikhlas menjalani apapun yang sudah ditakdirkan. Yang terpenting adalah terus berubah ke arah yang lebih baik.