Siapa bilang kuliah di luar negeri selalu enak? Orang yang bersekolah atau kuliah di luar negeri sering dianggap wah oleh sebagian besar orang. Mereka dianggap keren karena bisa menaklukkan ketatnya persaingan untuk mendapatkan kursi di universitas luar negeri. Mereka juga dianggap punya hidup enak karena sering jalan-jalan di tempat keren dan “Instagramable” yang seringkali tempat semacam itu tidak dijumpai di Indonesia. Namun, tahukah kamu kalau sekolah di luar negeri tidak melulu enak, berikut beberapa di antaranya.

1. Culture shock

Culture shock adalah keadaan di mana seseorang kaget dengan lingkungannya yang baru, dikarenakan adanya perbedaan budaya, kebiasaan, dan peraturan dari lingkungan tempat tinggal sebelumnya. Buat mahasiswa yang berkuliah di luar negeri, culture shock itu hampir pasti dialami. Lingkungan baru, teman-teman baru, tetangga baru, sistem baru, dan mungkin juga kebiasaan baru. Bayangkan misalnya, kita yang semula hidup serba santai di Indonesia, datang ke halte bus molor setengah jam pun masih ada bus yang datang, tiba-tiba diharuskan untuk beradaptasi dengan sistem di luar negeri di mana bus datang tepat waktu, terlambat 3 menit saja kita akan ketinggalan bus.

Juga ketika apa-apa dilakukan online. Seperti membayar parkir kendaraan, membayar tiket bus, kereta api, dan lain sebagainya, bahkan hingga belanja kebutuhan sehari-hari. Masyarakat sana yang lebih teratur, juga mungkin membuat kita sedikit banyak kagok mengatur waktu. Kalau selama di Indonesia, dosen telat 5 menit dianggap biasa, jangan harap itu terjadi di negara-negara yang sistem pendidikannya sudah maju, karena dosen di sana selalu on time bahkan sering datang lebih awal dari mahasiswanya.

Yang tidak kalah sulitnya adalah beradaptasi dengan makanan di sana, yang seringkali sangat berbeda dengan makanan Indonesia. Kalau tidak teratasi, dan mahasiswa yang bersangkutan tidak kunjung bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dia mungkin akan cenderung menutup diri dan merasa kesepian. Jika dibiarkan berlarut-larut hal ini bahkan bisa mengarah ke depresi.

2. Homesick

Advertisement

Tantangan berkuliah di luar negeri berikutnya dalah homesick. Homesick biasanya dikaitkan dengan perasaan jauh dari rumah dan keluarga, serta harus beradaptasi dengan teman-teman, guru, dan tetangga baru. Yang sekolah di luar negeri juga pasti merasakan yang namanya rindu dengan segala sesuatu tentang Indonesia, lingkungannya, orang-orangnya, makanannya, dan sebagainya.

Berbeda dengan orang Indonesia yang sering berbasa-basi, orang sana mungkin terkesan irit senyum dan tidak mau ikut campur urusan orang lain, namun bukan berarti mereka tidak peduli lho. Mereka akan dengan senang hati menolong, sekalipun kita tidak meminta. Dan karena sekeliling kita dipenuhi orang asing, kita akan merasa sangat senang begitu menjumpai sesama mahasiswa Indonesia. Begitu halnya dengan makanan. Saking jarangnya makanan khas Indonesia, jangan heran jika menjumpai sambal atau tempe goreng bisa menjadi kebahagiaan luar biasa bagi mahasiswa Indonesia di sana.

3. Sistem kuliah yang sangat berbeda

Suasana kelas di kampus luar negeri via http://2.bp.blogspot.com

Tidak seperti kuliah di Indonesia yang mempunyai sistem di mana 8 hingga 10 mata kuliah ditempuh dalam waktu satu semester. Di luar negeri umumnya, ada sekitar 3 hingga 4 mata kuliah yang harus ditempuh dalam waktu satu semester atau trimester. Tapi jangan salah karena meskipun “hanya” 3 atau 4 mata kuliah yang harus ditempuh, tiap mata kuliah memiliki 15 hingga 20 kredit atau sks. Jika dihitung, beban sksnya lebih banyak daripada di Indonesia.

Penugasan sebagian besar berupa “paper” dan ketika ujian pun, mahasiswa diwajibkan untuk menulis essay beberapa halaman dalam waktu yang ditentukan, bukan hanya sekadar jawaban singkat hasil dari hafalan. Tantangan lainnya adalah, bahasa yang digunakan adalah bahasa asing, minimal bahasa Inggris, sehingga mahasiswa dituntut untuk mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan baik, jika ingin bisa mengikuti kuliah dengan lancar. Selain itu, sistem perkuliahannya juga sangat berbeda. Mahasiswa dituntut untuk aktif dalam diskusi dan memberikan pendapatnya.

Meskipun kemandirian, keaktifan, dan inisiasi sangat dibutuhkan, bukan berarti mahasiswa tidak boleh bertanya ya, justru sebaliknya, mahasiswa sangat dianjurkan bertanya untuk hal yang tidak mereka ketahui. Jika tidak mengerti, maka guru atau dosen akan dengan senang hati membantu. Umumnya, mereka juga mengerti bahwa yang mereka ajar adalah mahasiswa internasional, sehingga mereka bisa menyesuaikan diri untuk misal tidak menjelaskan terlalu cepat, sehingga apa yang diterangkan bisa dicerna. Mungkin yang juga agak kagok adalah hubungan antara dosen dan mahasiswa di sana seperti hubungan dengan teman, sehingga jangan kaget jika mahasiswa tidak perlu memanggil “miss” atau “mr”, melainkan langsung namanya saja.

4. Harga kebutuhan yang sangat mahal

Harga kebutuhan pokok di luar negeri via http://1.bp.blogspot.com

Karena nilai tukar rupiah, maka kita akan merasa jika harga kebutuhan di negara tempat kita studi mahal, bahkan kelewat mahal jika dibandingkan dengan harga di Indonesia. Misalnya untuk harga sayuran yang bisa kita dapatkan dengan harga 3 ribu rupiah seikat di Indonesia, biasanya dibanderol $2-$3 dollar di sana, yang tentunya berlipat-lipat mahal. Yang paling terasa tentu akomodasi. Jika di Indonesia kita sudah bisa menyewa kamar indekos mewah dengan 9 juta per tahun, di sana uang sewa bisa mencapai sekitar 2 juta rupiah seminggu dengan kamar yang biasa-biasa saja.

Belum lagi seringkali, listrik, internet, dan gas terpisah yang jika diakumulasi tentu akan jauh lebih mahal. Untuk akomodasi yang unfurnished atau tidak datang dengan perabotan, kita akan lebih ribet lagi, karena akan disibukkan dengan membeli ini itu yang seringkali menelan biaya yang tidak sedikit. Biaya transportasi juga menjadi momok mahasiswa di sana, meskipun untuk mahasiswa seringkali ada potongan atau “concession”. Mengingat harga kebutuhan di luar negeri rata-rata lebih mahal dari Indonesia, buat kamu yang ingin bersekolah di luar negeri hendaknya menyiapkan modal yang cukup dan menabung sejak dini. Solusi yang terbaik tentu dengan menggunakan beasiswa yang sekarang semakin banyak ditawarkan.

5. Pergaulan yang lebih bebas

Pergaulan yang lebih bebas via http://ichef.bbci.co.uk

Ini juga harus kamu waspadai. Hidup sendiri di negara yang mungkin lebih liberal bisa menggoda kamu untuk melakukan yang nggak-nggak. Di sini tugas kamu buat mengontrol diri sendiri. Misalnya karena kamu muslim dan tidak boleh minum-minuman keras, kamu berhak menolak ajakan teman kamu buat “party”. Jangan karena ingin ikut-ikutan dan ingin merasa keren, kamu lalu ikut ajakan temanmu tanpa dipikir terlebih dahulu.

Juga karena banyak orang baru dengan latar belakang yang sangat berbeda. Waspada itu harus untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi waspada bukan berarti selalu curigaan ya, intinya kita tetap ber positive thinking sembari tetap hati-hati. Intinya, sosialisasi boleh, malah harus, namun jangan lupa untuk tahu batasnya.

Dari gambaran di atas jelas bahwasanya untuk kuliah di luar negeri banyak yang harus dipersiapkan, mulai dari biaya, kemampuan akademik, mental, dan lain sebagainya. Buat kamu yang benar-benar ingin kuliah di luar negeri, jadikan tantangan tersebut sebagai motivasi tambahan buat kamu, untuk lebih semangat, dan membuktikan kalau kamu bisa lebih mandiri dan survive, dan raih segala kesempatan yang ada karena kesempatan sekolah di luar negeri tidak akan datang dua kali.