Kemampuan menulis tidak datang begitu saja. Tidak ujug-ujug dimiliki para penulis kondang sekalipun. Ia — skill menulis — perlu diasah, tiap hari tiap waktu. Menulis bukan urusan bakat, pula bukan ihwal keturunan yang kerajaannya dapat mudah diwariskan.

Ia harus dilatih, terus menerus, apapun yang terjadi. Jangan tunggu mood, karena mood dapat diciptakan. Usah ditunggu inspirasi datang, karena dengan menulis, kamu akan menebar inspirasi untuk sesama.

Tapi baiklah, jika sebagai mahasiswa butuh trigger, pemantik semangat agar bersedia tingkatkan skill menulis, berikut setidaknya ada 13 alasan skill menulis mesti diasah. Agar hidupmu tidak selamanya susah, hanya andalkan selembar ijazah.

1. Menulis adalah sebuah sarana aktualisasi diri, karena kita dapat mengabadikan hasil dari akal pikiran kita.

Pencapaian aktualisasi diri via http://praswck.com

Dengan menulis kita akan mencapai salah satu tahapan tertinggi sebagai manusia. Manusia dikaruniai akal pikiran dan hati nurani untuk menimbang segala sesuatu. Nah, kemampuan menulis akan mampu merekamnya, mengabadikannya, mencari solusi atas kebuntuan dan pelbagai manfaat lainnya. Alasan pertama ini akan menuntun kita pada alasan kedua.

2. Dengan menulis, kamu bisa menuangkan gagasanmu sekaligus berbagi inspirasi dengan banyak orang.

Menuangkan ide gagasan pada tulisan. via http://barahloxxx.beon.ru

Gagasan yang ada di kepala dan benak kita tidak hanya bersarang dalam diri semata. Ia akan berkembang, beranak pinak, memberikan inspirasi bagi yang lain andai diubah menjadi satu tulisan.

Advertisement

Coba bayangkan, kamu nggak akan pernah menyangka berapa banyak orang yang baca tulisanmu. Ia melewati lintasan sejarah, ruang, dan waktu.

3. Jika kamu menulis, itu berati kamu sedang mengabadikan dirimu sendiri.

Seperti RA Kartini. via http://mutiararahmah.com

Pernahkah kamu sadar, dengan menulis itu sama saja mengabadikan diri sendiri? Betapa banyak nama-nama ulama yang telah wafat ratusan tahun silam namun masih melekat abadi hinga detik ini? Alasannya karena mereka menulis ratusan kitab yang menjadi rujukan umat.

Atau contoh yang lain, RA Kartini yang menulis surat-surat untuk sahabat pena di Belanda, dan kelak menjadi sebuah buku. Atau Chairil Anwar, yang terus memesona dengan puisi puitisnya. Itu semua dialami oleh para penulis.

Ya, hanya para penulis yang mampu mengabadikan namanya di pusaran sejarah. Ingat, orang boleh pandai setinggi langit, namun jika ia tidak mau menulis, ia akan hilang ditelan sejarah.

4. “Membaca sejarah memang penting, tapi membuat sejarah jauh lebih penting.”

KH Wahid HAsyim. via https://luaydpk.wordpress.com

Ini bukan kata-kata saya, melainkan dari tokoh bangsa KH Wahid Hasyim — ayahanda Gus Dur. Dan para penulis memang ditahbiskan sebagai pembuat sejarah. Sejarah serupa ada di genggamannya.

Ia yang menggerakkan pena, membagi ide, mengusung wacana, dan mengenalkannya pada dunia. Tak heran, seorang penulis dikenal tak memiliki rasa takut sedikit pun. Termasuk kepada penguasa.

5. Pena itu jauh lebih mematikan daripada pistol. Karena melalui tulisan kita bisa mengungkapkan sebuah kebenaran.

Ini dia yang ngenalin Ngeri-ngeri Sedaap! via http://forum.detik.com

Konon Napoleon Bonaparte tidak takut dengan seribu pasukan musuh plus senjata lengkap. Namun ia mudah ketar-ketir hanya saat berhadapan dengan satu orang yang membawa pena.

Betapa banyak pejuang pena yang mesti mendekap di penjara, merasakan dinginnya sel, jauh dari keluarga tercinta hanya karena ia menulis. Tetapi ketika kita bisa menyampaikan sebuah kebenaran, mengapa mesti ragu untuk menuliskannya?

6. Masih jaman unjuk rasa? Ah, Basi! Unjuk rasio dong!

Demonstrasi via http://pekanews.com

Nah, pascademonstrasi 1998 unjuk rasa di jalanan mulai kehilangan ruhnya. Diki-dikit demo, malah menjauhkan hakikat demonstrasi dengan rakyat yang dibelanya. Silakan kamu datangi penjual makanan di pinggir jalan, pedagang kaki lima, monggo bikin survei kecil-kecilan. Pasti jawaban mereka sudah enek liat parade demonstrasi. Peluang terjadinya kerusuhan cukup besar.

Apapun alasannya, kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Ia hanya akan menambah rentetan masalah baru. Tentu hal ini berbeda jauh jika diganti dengan aktivitas menulis. Ya, kamu menyampaikan aspirasi melalui tulisan-tulisanmu.

7. Lagipula, dengan menulis kamu akan merasakan sebuah kepuasan batin yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya.

Saat membaca namamu sebagai nama penulis, baik itu di media massa cetak maupun online, pasti hatimu akan gembira sejadi-jadinya. Perasaan akan ringan melayang, membumbung ke langit yang biru. Saya sendiri mengalaminya.

Dulu 19 Mei satu dasawarsa silam, tulisan pertama muncul di SKH Kedaulatan Rakyat — koran lokal di DIY. Judulnya: Refleksi Hari Kebangkitan Nasional. Tiga hari tiga malam penulis senyam-senyum sendiri, persis seperti orang gila. Kok bisa ya dimuat? Pertanyaan ini terus terngiang hingga ada orang yang mengenal penulis.

8. Namamu juga bisa dikenal oleh banyak orang, dan kamu pun bisa memiliki banyak pembaca setia.

Doi bisa kenal kamu nanti via http://anggaru.wordpress.com

Ini mungkin termasuk narsisisme politik pribadi. Tapi tak apalah, narsis sah-sah saja sepanjang untuk hal-hal positif. Namamu akan dikenal orang. Semakin banyak tulisanmu yang muncul, entah itu di ragam media mana pun, akan semakin banyak orang yang familiar dengan namamu.

Selebritis dunia maya sekarang tidak hanya artis yang wira-wiri di sinetron yang kian hari kian menjemukan. Justru mereka para blogger yang aktif menulis, kini menjadi seleb dunia maya yang ditunggu jutaan pembaca.

Coba kamu bayangkan, jika namamu muncul di surat kabar dengan oplah 100 ribu eksemplar dan 5 persen saja yang baca nama berikut tulisanmu, sudah berapa jumlahnya? Niscaya dengan menulis, kamu akan jadi sosok yang dikenal di kampus. Buktikan aja!

9. Keahlianmu menulis juga bisa jadi daya tarikmu. Kamu jadi terlihat lebih menarik di mata gebetanmu, lho!

Eh, ada yang penasaran via http://megapolitan.harianterbit.com

Sudah barang tentu dengan menjadi artis intelektual, si dia yang memang kamu taksir akan semakin penasaran denganmu. Ini poin penting yang teramat sayang dilewatkan. Kamu bakal dikenal sebagai mahasiswa intelek, pintar, luar biasa, dan spesial. Pokoknya beda dari yang lain. Lalu, tunggu apa lagi?

10. Tanpa sengaja, skill menulismu itu juga bisa jadi shock therapy yang mematikan bagi orang di sekitarmu.

Lihat, pasti bakal syok deh.. via http://www.publimetro.com.mx

Waduh, masak iya menulis bisa dijadikan sebagai shock therapy? Iya, apalagi kalau kamu membaca tulisanmu sendiri yang dimuat di koran, majalah atau media lainnya, lalu berjalan di depan dosen yang jarang nulis. Wah, dosen pasti tersindir habis tuh! Dosen bakal malu, dan syukur-syukur mau ikuti jejakmu.

11. Mahasiswa yang piawai menulis tak jarang mendapatkan bonus nilai bagus dari dosen!

Nilai bagus Bro! via http://www.moneymagpie.com

Tak jarang para dosen di PT menjanjikan nilai bagus bagi mahasiswa yang berhasil menembus koran. Mengingat persaingan untuk menembus dunia persilatan kepenulisan penuh dengan tetesan air mata. Tentu ini peluang sekaligus tantangan buat kaum yang menamakan dirinya sebagai agen perubahan sosial.

Ayo, jangan berpuas diri berada di puncak menara gading. Mari ikut perhatikan nasib bangsa kita. Betapapun sederhananya sumbangsih pemikiran kita. Kalian mau ikut komentar tentang beras atau akik palsu ya tidak jadi soal.

Dengan menulis, berarti kita ikut andil menyelamatkan negara juga kantong kita! Tunggu dulu, kantong kita? Maksudnya apa ya? Simak alasan selanjutnya!

12. Siapa bilang menulis itu nggak menguntungkan? Menulis sama artinya dengan mendulang honor untuk diri sendiri.

Tuh…lumayan kan? Buat modal nikah. via http://news.okezone.com

Dengan menulis, artinya kamu bener-bener kerja produktif. Kerja yang menghasilkan. Satu tulisan di media massa lokal diganjar ratusan ribu rupiah. Di media nasional, bisa tembus jutaan rupiah. Itu baru artikel berwujud opini, resensi, atau suara mahasiswa. Belum jika kamu berhasil nulis buku gurih, enak dibaca dan bermutu.

Banyak yang bakal klepek-klepek membaca tulisanmu. Satu eksemplar buku, tiap penulis akan memperoleh fee atawa royalti 10 persen dari harga buku. Coba hitung deh, andai 1 eks bukumu dibanderol Rp 25 ribu (saja), sementara naik cetak 3x dengan sekali cetak 2 ribu eks buku, berapa royalty yang kamu raih? Yup, 15 juta rupiah…lumayan buat modal nikah, bro... cieeeee….

13. Hidup tak selalu mengandalkan selembar ijazah. Dengan modal skill menulis, kamu bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada ijazah.

Jangan hanya andalkan ini ya via http://jfkoernia.wordpress.com

Kamu akan mudah sekali patah saat menemui kenyataan hidup jauh dari apa yang kau impikan sebelumnya. Berebut mencari lapangan pekerjaan bagi lulusan sarjana, ibarat kepastian yang tak dapat ditunda. Tapi apakah bekerja hanya bagi mereka yang duduk manis di kantor saja? Tentu tidak.

Dengan menulis, kamu bisa meraih pendapatan sendiri. Kamu bisa tampil mandiri. Tak perlu buang gengsi. Di saat yang lain bersusah payah, ikut tes kesana kemari, kamu tetap tampil tenang penuh wibawa.

Terus berusaha produktif, meningkatkan kemampuan diri, dengan terus belajar dan berkarya, niscaya kamu tak lagi menganggap ijazah adalah penentu kiamat.

Dengan 13 alasan di atas, siapa sih yang akan menolak dirimu? Sudah mandiri, punya pendapatan sendiri, miliki pengetahuan luas, dan piawai memacak tulisan? Aduhhh….

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.