Setelah mencari tau berbagai model parenting yang menurut penulis oke bangetkayaknya bagus banget nih buat dishare. Nggak cuma buat yang udah jadi ibu-ibu aja, mommy-mommy muda, dan perempuan-perempuan muda yang udah siap nikah juga mesti banget tau, kira-kira model parenting yang gimana sih yang cocok buat anak-anak kita nanti?

Nah, ini ada beberapa tips parenting yang penulis bisa simpulkan dari sebuah buku parenting yang kece abis, buku "Happy Little Soul" karya ibooknya Kirana, Ibu Retno Hening. (Kirana memang manggilnya "ibuk" pakai k huehue)

Yuk dicek~

1. Kesabaran itu Penting!

Waktu Kirana masih sakit eksim via http://instagram.com

Dalam bukunya, Ibuk menceritakan perjuangannya dan Kirana dalam menghadapi masalah-masalah awal saat Kirana lahir. Begitu banyak kisah haru yang Ibuk ceritakan ketika harus terbangun sepanjang hari ketika Kirana sakit eksim, kulitnya yang sensitif ketika alerginya kambuh mudah sekali untuk berdarah ketika digaruk. Ibukpun hanya manusia biasa yang pernah mengalami khilaf.

Jika Ibuk merasa kesal karena Kirana yang nggak mau nurut, maunya garuk-garuk, bangun tengah malam, Ibuk bisa sampai menangis atau marah-marah ke Kirana. Penulis ingat sekali bagaimana Ibuk dinasehati oleh Ibuknya Ibuk (kalau kata Kirana, hehe).


"Kirana itu kan baru di dunia ini, wajar kalau dia belum ngerti apa-apa. Kita sebagai yang sudah lama di dunia, yang harus sabar dan ngalah" begitu kalau kata Ibuknya Ibuk


Advertisement

Dari situlah Ibuk mulai belajar bersabar dengan kesabaran yang indah. Meskipun kurang tidur, meskipun capek. Tapi Ibuk selalu berusaha bersabar dan berbahagia. Ibuk selalu berpikir "Tidak pernah merasa sangat dibutuhkan, kecuali oleh Kirana", jadi Ibuk selalu happy tiap lihat Kirana. Dan kesabaran inilah yang menular dan menurun kepada Kirana, makanya kalau Ibuk suka marah, Kirana pasti bilang "Ibuk jangan marah-marah, Ibuk harus happy, kalau Ibuk marah, Kirana sedih". So cuteee!

Inilah yang mungkin sering dilewat oleh banyak Ibu di luar sana, kesabaran yang kita lakukan, yakinlah pasti akan menular kepada anak yang kita didik. Makanya, calon-calon ibu selanjutnya, nih. Harus banyak belajar bersabar yaa, karena anak itu lebih mudah belajar dengan meniru ketimbang mendengarkan.

2. I'm Special!

Kirana mulai membaik via http://Instagram.com

Selain mengajarkan kesabaran seperti yang sudah dibahas sebelumnya, hal yang tidak kalah pentingnya adalah mengajarkan untuk mencintai diri sendiri. Kirana yang sudah dibawa ke dokter sana dokter sini, klinik sana klinik sini, pakai segala macam krim akhirnya mulai membaik. Panjang perjuangannya Ibuk dan Kirana, dan tidak habis sampai di sini, sakit kulitnya Kirana ini mudah kambuh kalau Kirana makan makanan yang menimbulkan alerginya.

Banyak ibu di luar sana yang ketika anaknya sakit, lalu melarang makan makanan yang menjadi pantangan dengan begitu keras. Namun Ibuk ini berbeda, dia menyampaikan kepada Kirana dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tujuannya sama, menjaga. Tapi caranya berbeda, perbedaan cara yang terlalu jauh ini bisa menimbulkan efek yang berbeda pada anak, tentunya. Kalau Kirana menanyakan kenapa Kirana tidak boleh makan tomat, maka Ibuk menjawab dengan bijak.


"Nak, ngga apa-apa ya kalau Kirana nda boleh makan tomat? Nda apa-apa kan? Kirana kan masih bisa makan sayuran lain, masih bisa makan nasi, eskrim, kentang, strawberry. Nda apa-apa kan Kirana? Kirana kan spesial nak"


Dan efeknya, luar biasa! Kirana tumbuh menjadi anak yang mencintai dirinya dan kekurangannya. Ada salah satu video yang diupload oleh Ibuk, di dalamnya Ibuk bilang kenapa Kirana rambutnya gitu? Kirana kok pesek? Dan ledekan lainnya. Kirana menjawab dengan sangat happy kalau itu semua karena Kirana spesial.

3. Penuh Kasih Sayang

Kirana ngajakin salaman, tapi Aliyanya ngga mau via http://instagram.com

Salah satu kisah di buku "Happy Little Soul" yang menurut penulis paling berkesan itu ketika Kirana bermain bersama temannya, dan Kirana lagi rese. Temannya mau pinjam mainan apa saja, sama Kirana tidak diperbolehkan. Ibuk ketika melihat hal ini, setelah temannya pulang, Ibuk bertanya pada Kirana.


"Kirana, tadi Kirana main, tapi nda mau minjemin mainan ya ke temennya? Kenapa Kirana nda mau minjemin? Kirana lagi main juga ya? Tapi tadi Andinnya jadi sedih tuh kalau nda dipinjemin. Lain kali Kirana minjemin mainan lagi mau ya?


Selembut itu Ibuk menyampaikan pada Kirana, dan Kirana pun mengerti. Kirana menjawab.


"Ibuk, Andin tadi sedih ya buk? Lain kali Kirana pinjemin mainan ya buk. Biar Andin nda sedih, biar Andin happy"


Begitulah tabiat Ibuk dan Kirana, saling mempercayai dan mendengarkan. Ibuk percaya untuk bicara pada Kirana tidak perlu dengan berteriak atau meninggikan nada suara. Karena dengan suara yang lembut pun Kirana pasti mengerti, meskipun mengertinya tidak langsung di saat itu juga. Nah, nanti kalau jadi ibu, jangan galak-galak ya!

4. Sama-sama Manusia

Kirana happy selalu via http://instagram.com

Di bukunya, Ibuk banyak menceritakan bagaimana Ibuk selalu mengajak Kirana berkomunikasi bahkan sejak masih di dalam kandungan. Ketika Kirana sudah lahir, Ibuk makin giat mengajak Kirana berkomunikasi, meskipun sebenarnya, ya Kirana juga belum tentu mengerti, sih.

Tapi Ibuk percaya kalau suatu saat, hal ini bisa berefek baik untuk Kirana. Ibuk senantiasa mengajak Kirana berbincang, sehingga Kirana termasuk pesat dalam perkembangan berbicaranya ketimbang anak-anak seusianya.

Ibuk selalu mengajak Kirana berdiskusi sebelum mengambil keputusan untuk Ibuk maupun untuk Kirana sendiri. Ibuk juga percaya bahwa untuk melarang, mencegah, memperingatkan, memerintahkan, tidak harus dengan kasar, karena anak-anak, juga manusia.

Anak-anak juga manusia sebagaimana orang dewasa, pasti mereka, sebenarnya mengerti apa yang disampaikan oleh orang dewasa. Sehingga Ibuk selalu menyampaikan sesuatu kepada Kirana melalui cara-cara yang membuat Kirana tidak malah melawan dan membangkang.

Contohnya saja ketika Kirana ingin membeli mainan yang menurut Ibuk kurang ada manfaatnya, Ibuk akan menyampaikan kepada Kirana dengan baik dan tanpa janji palsu.


"Nak, nanti kita main yang lain aja ya di rumah ya nak? Main boneka mau? Atau main masak-masakan? Kalau mainan yang itu, nda usah ya nak. Nda apa apa kan? Kirana nda sedih kan?"


Kirana biasanya akan menurut dan menjawab "Okey Ibuk, nanti kita main yang lain aja ya di rumah". Dan hal ini berpengaruh kepada Kirana, Kirana menjadi terbiasa dan bijaknya Ibuk, menurun juga kepada Kirana. Misalkan saja waktu itu Kirana ditanyakan oleh Ibuk, apakah mau mainan yang ditunjuk. Lalu Kirana menjawab "Nda usah aja buk nda apa apa. Kirana udah punya mainan yang kayak gitu di rumah. Nanti kita main yang lain aja ya buk di rumah".

Bagaimana sikap Ibuk memperlakukan Kirana ini akhirnya berefek luar biasa pada Kirana, Kirana tumbuh menjadi anak yang happy dan memperlakukan orang dengan baik sebagaimana Ibuk memperlakukan Kirana dengan baik pula. Patut dicontoh deh!

5. Intinya : Mendidik Dengan Cinta

Jangan ngiri, lho~ via http://instagram.com

Yang dapat disimpulkan dari Ibuk ini adalah parenting ini adalah bukan ajang menjadi superior, mendominasi, atau berkuasa di atas ketidakberdayaan anak. Tapi parenting ini adalah bagaimana menumbuhkan rasa cinta antara anak dan orang tua. Bagi Ibuk, setiap melihat Kirana, artinya jatuh cinta lagi dan lagi. Seindah itu parenting bagi Ibuk, menumbuhkan kepercayaan satu sama lain.

Menumbuhkan perasaan kasih dan sayang, menumbuhkan empati dan selalu saling membuat happy. Bagi Ibuk dan Kirana, parenting juga berarti sama-sama berjuang. Anak berjuang karena mereka baru di dunia ini, masih beradaptas terhadap dunia ini yang pada beberapa waktu sebelumnya tempat mereka tinggal sangat nyaman dan bebas kehausan.

Dan ketika sudah di dunia, mereka hanya bisa menangis jika mereka butuh sesuatu, itulah perjuangan anak. Pun Ibuk juga berjuang, tentang bagaimana pola tidur yang sangat terganggu, kurang istirahat, lelah sepanjang hari dan lain-lainnya.

So, Ibuk adalah teladan yang bagus juga untuk diaplikasikan model parentingnya. Penuh cinta dan kasih sayang! :)