Pada dasarnya sudah jadi sifat alami manusia kalau suka bernostalgia. Mengenang hal-hal yang dulu pernah kamu lakukan waktu kecil memang menarik, ya. Kini mungkin kamu sudah jadi anak gaul yang serba bisa. Tetapi dulu waktu kecil, ada nuansa klasik yang pernah kamu lalui sebagai bagian dari generasi 90-an.

Waktu itu terasa sederhana. Santai sekali. Masuk jam 7 pagi dan pulang jam 12 siang, itu saat kamu di SD. Selain rutinitas dengan durasi yang sama, 7 nuansa kehidupan ini tentu pernah kamu rasakan waktu bersekolah di tahun 90-an dahulu :

 

1. Nanya PR ya lewat telepon saja

Kalau telepon rumah sudah digembok, telepon umum jadi penyelamat.

Kalau telepon rumah sudah digembok, telepon umum jadi penyelamat. via http://Antarfoto.com

Ingatkah siapa teman sekelasmu yang paling sering kamu telepon?

Biasanya menelepon untuk menanyakan PR sih hanya jadi alasan. Setelah 1-2 kalimat bertanya soal PR, giliran gosip yang akan mulai kalian perbincangkan. Gosipnya juga bervariasi. Mulai dari bapak guru yang galak, teman sekelas yang uang jajannya banyak, sampai asisten umum sekolah yang suka menjahili teman-temanmu.

Dasar anak-anak ! Jiwa gosipnya mulai terasah sedari kecil.

2. Kalau terpaksa, ya sudah telepon saja gurumu !

Tak seperti menelepon teman, menelepon guru rasanya amat segan.

Tak seperti menelepon teman, menelepon guru rasanya amat segan. via http://Hipwee.com

Yang lebih eksis dalam memberikan nomor telepon rumah biasanya ibu guru, bukan bapak guru. Nomor telepon rumah tersebut sebenarnya enggan kamu sentuh kalau tidak dalam keadaan darurat. Ketika tak ada teman yang bisa kamu andalkan untuk bertanya materi ulangan, mau tak mau satu dari kamu harus maju dan mengangkat gagang telepon.

“Halo, se... lamat sore.”

“Halo...”

“Bisa bicara dengan Ibu Nani?”

“Ya. Dengan siapa, nih?”

“Bu, ini Dodi mau tanya ulangan IPA besok.”

“Kenapa, Nak?”

“Hmm... materi angiospermae ini besok masuk ke ulangan juga ya, Bu?”

“Iya, dong. Dari halaman 25 sampai 57 pokoknya. Udah dicatet di buku tugas kan tadi?”

Glek, kamu pun hanya bisa menelan ludah kemudian japri dengan teman sekelasmu. Semua dilakukan via telepon rumah.

3. Dahulu belum ada internet, cuma potongan kertas koran yang jadi andalan

Saat tak butuh, kamu abaikan. Saat genting, Ibu tukang nasi uduk yang kamu kejar.

Saat tak butuh, kamu abaikan. Saat genting, Ibu tukang nasi uduk yang kamu kejar. via http://Malesbanget.com

Kalau dahulu kamu diberi tugas untuk mencari suatu informasi, biasanya bapak ibu gurumu akan menugaskan kamu membuat kliping. Ya, kliping dari potongan-potongan koran. Mulailah sore itu kamu berburu koran-koran tak terpakai. Berburu di rumah tukang donat kampung sampai ke basecamp tukang nasi uduk !

Ibu tukang nasi uduk langgananmu sudah paham kalau kamu mulai mesem-mesem di depan pintu rumahnya. Kamu pasti ingin mengobrak-abrik tumpukan koran yang sudah ia siapkan untuk berjualan esok hari.

Sungguh berbeda dengan zaman sekarang, ya. Tinggal ketik-ketik sedikit lalu tekan tombol enter, voila... informasi yang dibutuhkan langsung tersaji di depan mata. Semua hanya dengan jarimu, bukan dengan bantuan ibu tukang nasi uduk.

4. Catatan itu ya dicatat di buku, bukan difoto dengan ponsel pintar

Dengan rajin mencatat, kamu melatih kekuatan jari--jemarimu.

Dengan rajin mencatat, kamu melatih kekuatan jari--jemarimu. via http://Solopos.com

Selepas bapak ibu guru rampung mencatat materi pelajaran di papan tulis, sudah jadi kewajibanmu untuk menyalinnya dengan sigap di buku catatan. Kadang-kadang kamu tertinggal saat mencatat sampai harus meminjam buku catatan teman.

“Mega, pinjem buku catetan IPS, dong. Gue nyatetnya ketinggalan, nih.”

“Enggak, ah. Gue gak mau minjemin elo. Kemaren catetan Bahasa Indonesia gue pas elo bawa pulang masa besoknya udah belepotan kecap manis.”

Takjubkah kamu melihat murid SD zaman sekarang punya smartphone lebih canggih daripada punyamu?

Wah, murid SD kini tentu lebih kekinian darimu. Apalagi mereka yang bersekolah di sekolah yang mahal. Materi pelajaran yang ada di LCD atau papan tulis tinggal difoto saja dengan kamera smartphone beresolusi tinggi. Mereka tak perlu sibuk mengejar-ngejar teman sekelas yang isi catatannya rapi dan mudah dibaca. Betapa beruntungnya kau, Dik!

5. Masih soal catatan, yang dicatat gurumu di papan tulis

Seakan bertemu harta karun kala melihat kapur tulis warna-warni.

Seakan bertemu harta karun kala melihat kapur tulis warna-warni. via http://Id.aliexpress.com

Papan tulis itu tak pernah absen dari pandanganmu. Setiap pagi bapak ibu gurumu akan menuliskan tanggal hari itu di pojok kiri atasnya. Papan tulis yang paling sepuh adalah papan tulis berwarna hijau tua yang berpasangan dengan kapur tulis. Dengan kapur tulis yang debunya begitu heboh, setiap hari bapak ibu guru, kamu atau temanmu menulis di permukaan papan tulis.

Rasa girang tak terkira kalau menemukan kapur warna-warni di dalam kotaknya. Di waktu istirahat, tak jarang kamu asyik mencorat-coret papan tulis atau ubin dengan kapur warna-warni. Semua tentu saja tanpa seizin gurumu.

Soal kekunoan yang kini mulai berlalu itu, sekarang guru sudah menggunakan papan tulis putih dengan spidol. Bahkan yang lebih istimewa lagi, menggunakan LCD untuk memutar slide materi pelajaran yang sudah disiapkan. Semuanya berwarna-warni penuh ilustrasi, tak seperti papan tulis kapur putih yang usang dan penuh partikel debu.

6. Musim kemarau membuatmu sibuk kipas-kipas, benar kan?

Kalau ada benda ini, serasa terkena hembusan angin surga.

Kalau ada benda ini, serasa terkena hembusan angin surga. via http://Ragambingkisan.com

Sekitar tahun 90-an sampai awal 2000-an itu pendingin ruangan (AC) masih jarang ditemui di sekolah. Ruang guru pun belum dilengkapi AC, apalagi ruang kelas. Alhasil, kamu pun jadi sering kipas-kipas manja di kelas. Apapun yang bentuknya lembaran kamu gunakan untuk berkipas ria. Mulai dari buku pelajaran, buku catatan, papan untuk ujian, atau kertas ulangan teman sebangku.

Murid-murid perempuan punya cara yang lebih elegan untuk menghalau rasa panas di musim kemarau. Biasanya murid perempuan sudah menyiapkan kipas plastik untuk digunakan di kelas. Bentuknya sangat beragam, dengan gambar-gambar tokoh kartun yang lucu. Tak heran deh kalau kipas sakti ini sering jadi rebutan dengan murid lelaki yang berniat meminjamnya. Atau lebih tepatnya “menggunakan secara paksa”.

7. Kamu berhalangan masuk sekolah? Tenang! Orangtuamu akan kirim surat. (Sebenarnya kasih surat, bukan kirim surat)

Zaman dahulu, keterampilan menulis surat patut dikuasai semua orangtua murid.

Zaman dahulu, keterampilan menulis surat patut dikuasai semua orangtua murid. via http://Tersenyumlah.com

“Kepada Yth.

Ibu Nani

Di Tempat

 

Bersama surat ini, saya Ibu dari Dodi ingin memberitahukan kalau Dodi berhalangan masuk sekolah. Hari ini Dodi demam tinggi, dan dia merasa tak kuat mengikuti pelajaran di sekolah. Saya harap Ibu dapat memaklumi keadaan Dodi. Mohon bimbingan Ibu bila nanti Dodi sudah sehat dan siap bersekolah kembali.

 

Salam Hormat,

Lilis

(Ibu Dodi)”

Ya pokoknya kurang lebih isi suratnya begitu deh, ya. Tetapi sekarang jelas berbeda. Karena Ibu masa kini sudah punya kontak chat dengan bapak ibu guru di beragam aplikasi chat. Mengabar kalau anaknya berhalangan sekolah cukup via chat dulu, sementara surat baru menyusul keesokan harinya. Mungkin saja isi chat-nya begini :

“Selamat sore, Bu Nani. Lagi sibuk gak, nih? hehehe”

“Selamat sore, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?”

“Gini, Bu. Saya mau ngabarin kalo Dodi besok gak bisa masuk sekolah. Dodi atitt demam... (pake emoticon muka cedih)”

“Oh, ya udah, Bu. Besok bawa aja surat izinnya, ya. Semoga Dodi cepet sembuh. Eh, Bu... Running Man episode terbaru udah ada blom, sih? Mau dong Bu kalo udah ada.”

“Wah udah ada tuh Running Man. Nanti saya kasih file-nya, ya.”

 

Kemudian orangtua dan guru malah asyik bergosip cetar membahana dan salah fokus. Ehem, tapi tidak semuanya begitu kok. Ini hanya sekadar candaan saja. Sebab masih banyak bapak ibu guru yang mahir menjaga privasi dan wibawa di depan murid dan orangtua murid.

Mau kekinian atau kekunoan, pokoknya setiap kehidupan bersekolah pasti mengukir memori istimewa di otak dan hatimu, ya. Kamu tinggal senyum-senyum saja saat mengingatnya. Ah, masa kecil memang sesuatu yang tidak biasa. Selamat bernostalgia !