Ketika waktu berjalan terlampau cepat

Lantas memisahkan kita tanpa disadari

Hingga pada akhirnya tak ada yang lebih tangguh dari kekuatan doa

Berharap bisa menembus dimensi yang berbeda ini

Ayah, kehadiranmu terasa begitu singkat di hidupku

 

1. Saat aku terlahir kedunia, dirimu seketika menjadi lelaki pertama yang aku kenal.

Lelaki pertama yang kukenal

Lelaki pertama yang kukenal via http://www.zdravasrbija.com

Ayah. Begitulah aku memanggilmu sejak saat itu hingga kini dan bahkan selamanya. Dirimu adalah lelaki pertama yang aku kenal begitu raga lemah ini tiba di dunia. Bersama ibu, kita sungguh menjalani kehidupan yang bahagia seperti kisah negeri dongeng.

Pelukan hangat guna menenangkan tangisku, kecup manja yang terkadang membuatku geli, hingga jemari kekarmu yang selalu ada untuk menggelitiki tubuh mungil bayimu ini tak pernah luput mengiringi setiap langkah awal kehidupanku. Ayah, aku yakin dirimu adalah satu-satunya lelaki yang takkan pernah membiarkanku terluka sedikitpun.

2. Larutnya malam bukanlah alasanmu untuk tidak membuatku tersenyum.

Ayah membuatku tersenyum

Ayah membuatku tersenyum via http://www.yosbeda.com

Seiring berjalannya waktu aku tumbuh semakin besar, dirimu semakin terpacu untuk mencari nafkah lebih gencar demi memenuhi segala kebutuhan serta keinginan malaikat kecilmu yang nakal ini.

Aku yakin semua yang engkau lakukan adalah yang terbaik untukku, meskipun telah banyak waktumu tersita untuk pekerjaan, berkelumit dengan sejumlah tekanan, hingga hari-hari penuh peluh yang kau lewati, namun tak pernah sekalipun engkau tampakkan dan keluhkan segala yang dirasa.

Kepulanganmu saat larut malam selalu kutunggu dan kunanti, kepulanganmu yang kadangkala disertai sebungkus makanan ringan atau mainan selalu mampu membuatku tersenyum. Namun ayah, sesungguhnya kepulanganmu dengan selamat disertai ukiran senyum bibirmu lah yang selalu aku nantikan setiap harinya.

3. Hingga tiba saatnya semua berubah. Ayah engkau berusaha begitu keras.

Tak pernah ada manusia yang ingin sakit. Begitupun aku, namun semua yang kau lakukan begitu keras ayah. Saat tubuhmu yang dulu gagah perkasa kini ambruk di gergoti penyakit, hatiku tak sanggup menerima segala kesedihan dan kecemasan ini. Laksana mendapat tamparan keras yang bertubi-tubi, ayah maafkan diriku yang tak mampu menjagamu dengan baik.

Aku ingin engkau selalu sehat ayah, hari ini, besok, tahun depan dan selamanya. Aku ingin ayah selalu ada untukku dengan tubuh yang tetap sehat, untuk menyaksikan saat aku wisuda ataupun saat aku akan menikah kelak. Ayah, kutahu dirimu adalah sosok yang tangguh dan selalu bisa menghadapi segalanya, bahkan engkau lebih kuat dibandingkan para super hero dalam dongeng. Ayah, teruslah berjuang untuk sehat!

4. Setangguh apapun karang, akhirnya runtuh pula. Jika tuhan akhirnya memiliki rencana yang lebih indah untukmu, kucoba ikhlas.

kucoba ikhlas

kucoba ikhlas via http://www.kaskus.co.id

Waktu kebersamaan ini terasa begitu singkat ayah. Rasanya baru kemarin raga ini terlelap dipangkuanmu. Namun kini ternyata tuhan ingin mengambilmu dari pelukku dan ibu lebih cepat. Aku sadar bahwa tuhan jauh lebih menyayangimu dariku maupun ibu, Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah untuk mu.

Ayah, selamat jalan, kami ikhlas melepasmu terbang menuju pangkuan sang khalik. Namun izinkan aku menangis sekejap untuk bisa mengenangmu dengan lebih tegar selamanya. Ayah, aku dan ibu akan selalu menyanyangimu.

5. 5. Aku akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh sepertimu agar bisa menjaga ibu selalu.

Sepeninggalmu, aku berusaha untuk menjadi teman hidup terbaik bagi ibu. Aku dan ibu harus saling berpegangan dan berangkulan untuk meneruskan jalan kehidupan walau kini tanpamu.

Keadaan membuatku dan ibu terus belajar mengenai makna kehidupan serta mengambil hikmah dari setiap hal manis maupun hal pahit yang dialami. Kini kami sudah jauh lebih tenang.

Ayah, percayalah malaikat kecilmu dan kekasihmu kini telah tumbuh menjadi pribadi tangguh lebih dari yang kau bayangkan.

6. Kini doa menjadi satu-satunya alat komunikasi denganmu, aku percaya tuhan maha mendengar.

Ayah, walau ragamu tak lagi di sisi, walau kita tidak lagi berpijak pada bumi yang sama, dan walau kini kita telah berbeda dimensi, aku percaya di suatu tempat sana doa dan harapan tulus kami akan selalu sampai padamu melalui tuhan.

Ayah, tetaplah tersenyum di pangkuanNya. Tunggulah kami yang kini sedang mengantri untuk menjadi sepertimu, menanti panggilan itu karena sesungguhnya yang berjiwa pasti akan merasakan pergi. Semoga kita bisa dipertemukan lagi di surgaNya.

“Kepergianmu membuatku mengerti bahwa rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Namun kepergianmu pun mengajarkan bahwa tuhan selalu ada untuk mendengarkan segala doa dan harapan.”