Di tahun 2012, publik sempat heboh karena kematian seorang remaja berusia 15 tahun bernama Amanda Todd. Gadis yang masih abg ini diduga menjadi korban bullying, sehingga membuatnya depresi dan bunuh diri. Untuk lebih lengkap ceritanya bisa dibaca di cyberbullying.org.

Kasus di Indonesia mengenai bullying dan fenomena hater yang menghakimi salah seorang public figure menjadi sorotan akhir-akhir ini. Di era 2014, media massa sempat dihebohkan dengan penyebaran foto tak senonoh Presiden Jokowi dan Ketua Umum Partai PDIP Megawati Soekarno Putri. Setelah ditelisik lebih lanjut, pelaku merupakan seorang penjual sate yang tidak memiliki motivasi politik ataupun mengenal Jokowi dan Megawati secara personal. Dia melakukannya hanya iseng.

Ingat juga sayembara Deddy Corbuzier terhadap orang yang menghina Jessica di medsos. Pelaku sempat ciut nyalinya diancam Deddy Corbuzier, dia juga tidak segarang penghinaannya. Mengapa ini bisa terjadi? Beberapa penelitian terbaru di Amerika melaporkan, ada perubahan kepribadian pengguna medsos ketika berinteraksi di internet. Seorang ahli psikologi dari Inggris bernama John Suller, melakukan penelitian mengenai alasan mengapa seseorang menjadi penghina, pembenci di media sosial. Berikut beberapa alasan yang dikemukakan:

 

1. Adanya pemisahan identitas diri

Ketika berinteraksi di dunia nyata, kita memiliki norma dan aturan yang mempengaruhi cara kita bersikap. Cara berbicara kita dengan guru, orang tua, teman atau pacar tentu saja berbeda. Kita memikirkan apakah ucapanku pantas dikatakan untuk saat ini? Kita bertanggung jawab atas identitas diri dan citra diri kita di depan orang lain. 

Namun di dunia maya kita menjadi 'anonymous', kamu tidak mewakili siapapun dan kamu bisa menjadi siapapun yang kamu mau. Kamu tidak bertanggung jawab dengan identitasmu saat ini, toh kamu bisa menjadi seorang pengamat politik tanpa ada orang yang menanyakan pengalaman bekerjamu di dunia politik. Bisa menjadi ahli agama tanpa ada yang mempermasalahkan tingkat pendidikanmu dan siapa gurumu. 

Fenomena ini disebut dissociative anonymity. Ketika berinteraksi di medsos, seseorang melepaskan identitasnya di dunia nyata. Makanya tidak heran, ketika seseorang mengunggah pesan jahat dan penghinaan di medsos, ketika ditanya secara langsung, dia tidak mengakui perbuatannya.  

2. Karena kamu tak terlihat (invisibility)

Ketika berbicara dengan orang lain secara langsung, keadaan dirimu langsung diamati, seperti penampilanmu, gerakanmu, ekspresi wajah, dan intonasi suara. Di dunia nyata, ekspresi seseorang, gestur, dan intonasi suara dapat memperlihatkan suasana hati seseorang. Kamu bisa menebak, apakah dia sedang bercanda atau marah.

Tapi hal ini tidak terjadi di dunia maya, tidak ada yang tahu suasana hatimu saat itu, ekspresi wajahmu ataupun perilakumu saat itu. Karena tidak ada yang melihat atau lebih jelas tak terlihat, kamu tidak menyadari apakah unggahanmu menyakitkan ataukah mendapatkan persetujuan dari orang lain. Kamu menganggap internet adalah tempat aman menuangkan ekspresi kita, kamu menganggap tak ada yang mengenalmu, jadi kamu merasa aman dengan kiriman atau curhatanmu. 

3. Umpan balik yang lamban

Cyberbullying

Cyberbullying via https://www.youtube.com

"Hei, bajumu keren banget. Cocok banget buat kamu".

"Thanks ya. Ini buatan sendiri lho". 
 

Di dunia nyata, percakapan dengan orang lain terjadi secara langsung. Ketika kamu memuji seorang teman, dia akan menerima pujian dengan membalas balik atau merendah. Di dunia nyata terjadi umpan balik percakapan secara langsung, namun di dunia maya umpan balik apabila kamu mengunggah pesan, temanmu mengomentari 1 menit kemudian atau bisa jadi 1 bulan kemudian. 

Ketika kamu mengunggah suatu pesan, kamu tidak punya niatan bahwa pesan itu memprovokasi banyak orang. Kamu hanya tidak suka dengan salah seorang teman medsosmu, entah apa yang membuatmu tidak suka. Lalu kamu menulis saja, 1 jam kemudian kamu baru menyadari bahwa pesanmu mengandung muatan kebencian ataupun penghinaan. 

Di saat konflik medsos terjadi karena pendapat kita diserang oleh orang lain, kamu segera mengabaikan pesan tersebut dengan cara menghapus pesan tersebut. Kamu pikir keadaan ini aman, namun sayangnya pesanmu telah di-retweet oleh orang lain atau di-screen shoot.

4. Jangan terlena di dunia maya

Punya banyak followers di Instagram ataupun Twitter? Punya banyak teman di Facebook? Setiap postingan mendapatkan banyak like dan komentar, apakah itu membuatmu bangga? Dunia internet menawarkan tempat perlindungan aman yang menawarkan mimpi-mimpi bagi penggunanya. Apakah kiriman seseorang di medsos merupakan kejadian sebenarnya? Bisa iya dan bisa tidak, atau bisa jadi hanya khayalan semata. 

Dengan cara kamu mengirim postingan muatan kebencian, hinaan terhadap satu tokoh, apakah kamu akan dikatakan pemberani ataukah kamu akan menjadi pahlawan? Lalu, apakah dengan memposting sedang berada di hotel bintang 5, makan di resto mewah akan membuatmu dipandang borjuis? 

Internet menawarkan kenyamanan dan khayalan tanpa batas. Jangan sampai kamu tergelincir dengan khayalanmu. 

5. Sadarlah bahwa ini bukanlah permainan

Cyberbullying

Cyberbullying via https://www.worldpulse.com

Pernah melakukan atau melihat perdebatan di internet? Entah perdebatan pendapat atau penghinaan secara verbal mengenai kondisi fisik seseorang ataupun penghakiman semena-mena. Penelitian terbaru menunjukkan pengguna medsos melakukan penghinaan dalam rangka bersenang-senang atau candaan belaka. Memang sih, di dunia maya seseorang dapat melampaui hukum ruang waktu dan fisika hanya dalam satu klik saja. 

Sayangnya, coba pikirkan nasib orang yang dihina berlebihan. Mungkin dia melakukan perlawanan dengan mengatakan pendapatnya yang paling benar, namun ketika diserang bersamaan dia menjadi takut. Semua orang punya hak untuk berekspresi dan berpendapat, namun ketika pendapatmu sudah melanggar norma dan nilai kewajaran di mata masyarakat, itu bukan candaan lagi, namun sudah dalam bentuk kejahatan. Semoga kita tetap bijak dalam menggunakan medsos.