April mendatang, Ujian Nasional (UN) akan diselenggarakan. Meskipun tidak semenarik sebelumnya, UN tetaplah mendebarkan. Tetapi, ada yang lebih penting dibandingkan UN yang tak lebih enak dari remahan rempeyek itu, yakni proses memilih perkuliahan.

Kamu boleh cerdas dan mendapat NUM yang bagus. Prestasi saat sekolah yang mampu membuat guru-guru respect padamu. Namun, semuanya tak berguna jika kamu salah memilih jurusan dan tempat kuliah.

Agar tak tersesat dan menyesal di jalan, simak tips ini!

1. Sebelum memutuskan, kamu wajib mencari tahu minat dan bakat yang kamu miliki

Perkuliahan bukan seperti saat kamu sekolah. Jika saat sekolah, ada guru yang membimbing sejak nol sampai  memahami sesuatu, maka di perkuliahan tidak seenak itu. Dosen tidak akan mengajari dari nol. Kamu akan "dipaksa" untuk mencari tahu sendiri sembari dosen mengawalmu. Untuk itulah mengapa kamu hanya akan membuat kamu berjalan lebih kambat dibanding yang lainnya.

Ya kalau kalian menyukai mesin sampai pada tingkatan paling atas (mengajak karbulator tidur bareng misalnya), maka jurusan Teknik Mesin yang cocok denganmu.

Atau kalau kalian sering bermain bola menggunakan globe, maka geografi adalah jurusan yang akan membawamu sukses di masa depan.

Tentukan lebih dahulu minat dan bakatmu dimana!

2. Pastikan nilaimu sesuai dengan jurusan yang diambil

Advertisement

Password WiFi di sebuah restoran Thailand di Amerika Serikat. via http://travel.tribunnews.com

Ini terkait dengan pemilihan jurusan di sekolah dengan jurusan yang akan kalian ambil. Ada beberapa jurusan di perkuliahan yang tidak mengizinkan kamu mendaftar jika tidak sesuai dengan jurusan di sekolah. Misalnya kamu ingin kuliah di jurusan Kedokteran tetapi kamu berasal dari jurusan IPS atau bahkan IPB. Hal ini pula yang membuatbanyak padangan yang mengatakan kasta IPS dan IPB selalu di bawah IPA. Hemmm…tidak patut ditiru ya.

Jika kamu ingin masuk ke jurusan statistika dan semacamnya (baca: hitung-hitungan), pastikan nilai matematikamu bagus. Apabila ingin masuk ke jurusan Hubungan Internasional seperti, ehm…saya, ya nilai yang bagus adalah semua pelajaran ilmu sosial. Tak peduli ekonomi, sejarah, geografi, ataupun sosiologi. Ya tentu karena HI adalah jurusan yang mencakup semuanya.

3. Idealis boleh. Tapi, sekali-kali realistis juga tak masalah

http://www.anakgundar.com/gundar-hari-ini/2016/09/24/beginilah-ciri-ciri-mahasiswa-baru-di-kampus-selain-botak/ via http://www.anakgundar.com

Banyak yang memilih jurusan serta kampus tempat mencari ilmu itu berdasarkan reputasi. Saya mau ke kampus A karena kampusnya bagus dan alumninya banyak yang sukses. Saya mau ambil jurusan B karena jurusan B sangat bagus. Malu kalau tidak ambil jurusan yang bagus.

Wait, kamu tidak salah jika pikiran itu ada di benakmu. Tetapi, ingatlah bahwa yang selalu kamu pikirkan belum tentu itu yang terbaik. Ketika waktu masih bisa kamu genggam, lebih baik untuk memikirkan keputusanmu sekali lagi. Apa benar keputusan yang kamu ambil itu sesuai dengan kata hati. Atau jangan-jangan keinginan itu berasal dari bisikan setan.

Tak peduli seberapa tidak menarik jurusanmu, percayalah bahwa jurusan yang kamu pilih akan berguna. Setidaknya bagi Anda suatu saat nanti ketika mencari kerja.

4. Orangtua mu tetaplah orangtua mu, tetapi kesuksesan ada di tanganmu

Untuk Menjadi Orang Tua Hebat di Mata Anak, Kita Hanya Perlu Melakukan 3 Tips Sederhana Ini Credits: http://www.satujam.com/menjadi-orang-tua-hebat/ via http://www.satujam.com

Kadangkala, ketika orang tua bekerja sebagai polisi, maka sang anak diarahkan juga ke polisi. Atau ketika sang orang tua seorang dokter, sang anak diminta kalau tak mau disebut dipaksa untuk mengikuti jejak karir sang orang tua.

Padahal, tidak sedikit dari mereka yang tidak memiliiki minat di bidang yang digeluti orang tua. Bahkan berbeda jauh dengan profesi orang tua. Bagaimana bisa seseorang yang menyukai sastra dan ingin menggeluti dunia sastra dipaksa menjadi dokter demi memenuhi hasrat terpendam sang orang tua?

Memang menuruti orang tua adalah hal yang sangat baik. Bahkan, di semua agama mengajarkan hal yang sama: bahwa orang tua tidak akan menjerumuskan sang anak. Tetapi, bukankah orang tua juga seharusnya membiarkan sang anak menjalani kehidupan seperti yang ia impikan.

Toh, demokrasi mengajarkan kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri.

5. Ikuti kata hatimu, jangan ikuti apa kata pacarmu!

Tips Sukses Adaptasi Jadi Mahasiswa Baru via http://news.okezone.com

Yang paling menyebalkan dari tersesat adalah ketika kita diberikan penunjuk jalan oleh orang yang dekat dengan kita lalu tak lama setelah itu ia menghilang. Sungguh, itu lebih menyakitkan dibandingkan ditinggalkan saat lagi sayang-sayangnya.

Jujur saja, selalu ada kejadian yang seperti ini: mengikuti nasihat pacar saat memilih jurusan tertentu, ketika, hati kecil tidak menyukai jurusan tersebut. Jika Anda sedang berada dalam proses ini, segera berfikir berulang kali. Yang menjalani kehidupan itu kamu, bukan pacarmu.

Kalau dia adalah pacarmu, orang yang menemanimu selama ini, berfikirlah bahwa tak selamanya pacarmu ada bersamamu. Ada kalanya dia tiba-tiba menghilang bak orang yang sedang memiliki tanggungan hutang.

Dia boleh adalah pacarmu, tetapi, dia tetaplah orang lain. Belum sepenuhnya menjadi bagian hidupmu. Lagian, kalau dia pacarmu, orang yang mengklaim dirinya mengenalmu lebih jauh, dia tak akan memberikan saran yang tidak sesuai dengan kata hatimu.

6. Jangan kalian pikir masa-masa kuliah bisa lebih nyantai dibanding saat sekolah, ya!

Banyak yang mengira bahwa kuliah jauh lebih menyenangkan dibanding saat-saat sekolah. Waktu belajar yang fleksibel dan kebebasan dalam berbusana. Kuliah mengajarkan kebebasan. Betul sekali!

Tetapi, simpan dalam-dalam harapan kalian yang seungguh sangat semu itu. Sebelum kalian mengenal tugas serta praktikum yang akan membuatmu menyesal mengatakan kuliah lebih menyenangkan.