Anggapan bahwa sastra itu (bacaan) berat masih melekat di masyarakat awam, terutama generasi muda. Sastra memang mengedepankan keindahan bahasa agar dapat menyentuh jiwa dari si pembacanya. Tetapi tak jarang keindahan bahasa sastra disebut sebagai penyampaian yang ribet.

Pedahal dengan membaca sastra, kita ngga cuma memperkaya diksi dalam berbahasa, tetapi bisa belajar banyak hal seperti sejarah, seni, budaya, sosial, politik, filsafat, hingga psikologi. Hal tersebut dikarenakan sastra merupakan hasil kreatif seseorang atas penghayatannya tentang kehidupan. Sastra pun dapat mendorong pembaca untuk mengasah kreatifitas, memperkaya imajinasi, berpikiran kritis, memperluas pandangan (alias lebih open minded), sekaligus berbudaya.

Banyak ‘kan yang bisa didapat dari membaca sastra? Oleh sebab itu, tak kenal maka tak sayang. Kamu pasti akan mengecap “Sastra itu berat” kalau langsung membaca ‘Sitti Nurbaya’ karya Marah Roesli, misalnya. Sebelum menyantap sastra klasik yang notabene masuk ke ranah sastra berat karena masih menggunakan tata bahasa lama, mulailah dari sastra yang “ringan” dulu, seperti:

 

1. Rectoverso - Dee Lestari

Rectoverso adalah karya kelima Dee Lestari yang dipublikasikan. Dalam Rectoverso, Dee menghadirkan pilihan untuk menikmati karya tulisnya yang berupa kumpulan 11 cerita pendek atau album berisikan 11 materi lagu. Keduanya dapat dinikmati terpisah namun lebih afdol jika bersamaan. Baik dalam lirik lagu maupun cerita pendeknya, Dee tetap menghadirkan gaya bahasa khasnya. Puitis, ngga ruwet, mudah dimaknai, dan menyentuh hati.

2. Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono

Hujan Bulan Juni awalnya merupakan kumpulan puisi karya Sapardi Djoko Damono yang diterbitkan pada tahun 1994. Kini sastrawan Indonesia terkemuka itu mengajak kita untuk menikmati karyanya tersebut dalam bentuk novel.

Hujan Bulan Juni versi novel ini menceritakan kisah cinta antara Sarwono dan Pingkan dalam balutan perbedaan asal-usul budaya, suku, dan agama. Kisah klasik yang dikemas secara modern, alur yang mudah untuk diikuti, kata-kata sederhana tapi dalem, dan cerita romantis yang realistis (terasa nyata). Novelnya pun tidak tebal, hanya 135 halaman. Setelah membaca novel ini, mungkin kamu jadi ingin membaca semua puisi milik Sapardi Djoko Damono. Dan kamu pun akan jatuh cinta.

3. Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta - Seno Gumira Ajidarma

Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta

Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta via http://www.meikemanalagi.com

Masih mengangkat tema paling universal dan mudah dihayati, yaitu cinta.Kumpulan Cerpen ‘Sebuah Pertanyaan untuk Cinta’ milik Seno Gumira Ajidarma akan membawa pembaca ke sisi hitam dari cinta. Dengan gaya berceritanya yang lugas dan menohok, Seno Gumira Ajidarma ‘mengajarkan’ psikologi cinta yang tidak melulu suka. Ada duka di sana, pengkhianatan, keserakahan, cinta yang terpendam, hingga cinta sesama jenis.

4. Prajurit Yang Bodoh - Sobron Aidit

Prajurit Yang Bodoh

Prajurit Yang Bodoh via https://www.tokopedia.com

Sobron Aidit adalah adik dari tokoh PKI D.N. Aidit yang karya-karyanya dicekal oleh rezim Orde Baru. Dalam buku kumpulan cerpen ‘Prajurit yang Bodoh’ ini, Sobron Aidit mengajak pembaca untuk menoleh dan melihat lebih dekat situasi yang umum terjadi di masa lampau. Buku ini sarat akan kritik sosial terutama untuk pemerintah Orde Baru dan menggambarkan kehidupan anggota PKI. Meski tema yang diangkat terkesan berat, namun cerita yang disajikan sebetulnya pendek-pendek, dikemas dalam bahasa yang mudah sekali dicerna, dan yang terpenting adalah jenaka. Kita akan tertawa karena ceritanya memang lucu dan ironis. Prajurit yang Bodoh memicu kita berpikir kritis dan berkaca sudah berapa banyak (besar) keadaan yang berubah di era demokrasi sekarang? Sudah lebih baik, sama saja, atau malah lebih buruk?

5. Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer

Nah, karya yang direkomendasikan terakhir ini adalah yang paling berat dari buku-buku di atas. Memang perlu ekstra konsentrasi untuk memahami ceritanya, tapi juga yang paling wajib dibaca. Setelah membacanya bisa jadi kamu betul-betul jatuh cinta pada sastra terutama kesusastraan Indonesia. Langsung kasak-kusuk ke toko buku atau perpustakaan buat nyari karya sastra lain.  

Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Ia menulisnya saat menjalani pengasingan di Pulau Buru. Pram –begitu Pramoedya Ananta Toer kerap disapa– menyadarkan kita bahwa buku-buku sejarah di sekolah itu ngga ada apa-apanya. Lewat ‘Bumi Manusia’ pembaca dapat melihat situasi serta kondisi masyarakat Indonesia saat berada dibawah jajahan Kolonial Belanda. Ia juga mengajarkan betapa keadilan harus diperjuangkan apa pun resikonya. Asyiknya, pelajaran sejarah itu dikemas dalam cerita romantis antara Minke dan Annelies.      

Baca sastra mengasah otak kanan dan kiri. Tetapi jangan lupa untuk melibatkan hati, supaya dapat dimaknai. Kemudian kamu bisa nikmati tari-menari dalam ragam diksi yang memunculkan macam-macam inspirasi. Halah…

Pokoknya, jangan terburu-buru bersugesti kalau sastra itu berat (pedahal iya). Kenalilah dulu dan kamu akan menyadari bahwa sastra itu bagaikan jagat raya. Luas (ilmunya) dan banyak yang bisa ditimba. Jadi, siap untuk jatuh cinta pada sastra?