Masih saya ingat tentang ceplosanmu -- bernada menyuruh -- untuk segera melayangkan doa saja setiap saya menyatakan rindu. Sampai saat ini pun, masih saya lakukan itu. Tapi maknanya bukan pengharapan lagi, bukan butiran keinginan untuk bertemu, dan kalaupun ternyata malah bertemu, itu bonus dari Tuhan.

Tentang rindu dan hal lain yang menyertainya, sudah tamat dengan rasa yang sama -- nyesek. Saking nyesek-nya, sekarang malah sudah tak bisa mendefinisikan lagi apa nama rasanya. Lupakan. Di sini, saya dengan lantang bergumam untuk diri sendiri bahwa: Asal detak jantung masih dilanjutkan Tuhan, saya masih bisa melanjutkan hidup yang baru pasca kepergianmu yang semena-mena.

 

1. Pintu yang Dulu Hingga Kini Selalu Ada di Sudut Kanan, Keluarlah, Sudah Saya buka Perlahan.

Pintu Sudut Kanan, Arah Untukmu Keluar, Sayang

Pintu Sudut Kanan, Arah Untukmu Keluar, Sayang via https://www.google.co.id

Entah sudah berapa malam saya hempaskan dengan gamang dan bermunajat pada Tuhan untuk jangan dulu menghentikan jantung yang berdetakan. Kepergianmu yang semena-mena, tanpa ucapan selamat tinggal, senyuman, apalgi pelukan, jelas menyisakan luka yang luar biasa dalam. Saya sempat menghadapinya sendirian kemarin.

Saya pun kembali teringat bahwa ada pintu kanan yang saya punya. Pintu sudut kanan -- yang diibaratkan kelapangan sabar -- yang sempat tertutup hanya untuk menopang lakumu yang membuat saya sempat takluk, kini saya buka.

Keluarlah perlahan karena baru dengan cara perlahan yang bisa saya lakukan. Pelan-pelan saja keluarnya karena pintu itu akan segera saya tutup rapat. Dan setelah itu, lanjutkan hidupmu. Saya sudah tidak mau tau. 

2. Saya Sudah Handal Beraktivitas Menyeka Air Mata Saat Tiba-tiba Mengingatmu.

Jangan Membantuku Menyeka Air Mata

Jangan Membantuku Menyeka Air Mata via https://www.google.co.id

Kamu berlalu, saya di sini dengan beragam urusan dunia karena Tuhan masih percaya bahwa saya mampu menyelesaikannya. Selepasmu, saya memiliki aktivitas baru yaitu, menyeka air mata. Kamu tau kan sedari awal, aktivitas runtuhnya air mata tidak gampang menyita perasaan saya? Tapi kepergianmu yang semena-mena, saya pikir memang sudah terlalu.

Saya pun tidak bisa menahan lagi untuk tidak menggetarkan kelopak mata. Awalnya memang terasa gemetar menyeka air mata sendiri yang jatuh dan menjatuh. Tapi ketahuilah, saya yang kini, sudah otomatis handal menyeka air mata yang kurang ajar tumpah saat tiba-tiba mengingatmu.

3. Saya Mau Beres dengan Diri Sendiri Dulu. Tanpa Kamu, yang Sebenarnya Mengajarkan Arti tentang Rasa Ditinggalkan Semena-mena.

Biarkan Urusan Saya dengan Diri Sendiri Ini Beres Dulu

Biarkan Urusan Saya dengan Diri Sendiri Ini Beres Dulu via https://www.google.co.id

Jika kamu mampu menyelami kedalaman perasaan saya, akan kamu temui jejak tentangmu yang berlapis-lapis. Tentang kegembiraan hati yang tak seberapa setelah sekian menit saja bertemu denganmu. Juga tentang hal yang lebih pekat setelahnya, setelah pertemuan denganmu, yaitu tabungan rindu. Ah. Laknat mungkin, tapi nikmat.

Ya begitulah saya yang sejak dulu mencintaimu dengan keras kepala. Sudah tau bakal sakit, tapi tetap nekat membenturkan perasaan yang sama, terjatuh lagi di rasa yang sama. Tapi kini saya sadar, ini harus dihentikan. Kasian hidup saya jika terus begini, terperosok dalam keadaan hati yang tak karuan.

Saya mau beres dulu dengan diri saya sendiri sebelum memulai lembaran baru dengan yang lain. Yang lain, yang entah siapa, belum bercokol di pikiran saya. Setelah semua ini, saya pun tau rasa ditinggalkan semena-mena. 

4. Saya Membuka Pintu Baru dan Mengantarkan Mereka yang Lalu Lalang untuk Keluar.

Pintu untuk Netral Rasa, Belum untuk Kesempatan, Tuan

Pintu untuk Netral Rasa, Belum untuk Kesempatan, Tuan via https://www.google.co.id

Perlu waktu untuk menetralkan rasa yang ada. Mungkin tidak harus sangat netral, minimal, hati saya sudah tidak begitu sesak lagi saat mendengar namamu disebut orang. Baru setelah mendapati rasa yang demikian, bisalah dikatakan ada lowongan penerimaan hati yang baru. Saya pasti akan memiliki pintu baru nanti dan belum saat ini. Jadi, kepada siapa pun pemilik rasa yang hatinya ingin dititpkan pada saya, bersabarlah, saya butuh waktu.

5. Tuhan, Peluk Saya dengan Pelukan Terpanjang di Tata Surya.

Kepada Tuhan, Sang Penggenggam Rasa

Kepada Tuhan, Sang Penggenggam Rasa via https://www.google.co.id

Tuhan masih menitipkan napas dan detak jantung yang degupannya bisa otomatis dirasa. Saya sangat mensyukuri itu. Di setiap perjalanan hidup, siapa pun pasti tidak ingin dipatahkan rasanya, hatinya, harapannya, dan lain-lainnya. Demikian juga saya.

Untuk itu, setiap saat bisa saja saya meminta pada Tuhan untuk diberikan pelukan terpanjang di tata surya melalui malam-malam di penghujung doa yang saya lantunkan dengan romantis. I wanna say: Tuhan, peluk saya dengan pelukan terpanjang di tata surya.