1. Kau bilang akan segera datang. Pertemuan yang harusnya bisa kita rayakan dengan senyum mengembang dan secangkir puisiku sebagai hidangan. Tapi yang ada justru temu dengan hati sedikit meriang dan ngilu yang telah berkepanjangan.

Kau bilang akan segera datang.. via http://www.startwish.ru

Dulu, hubungan ini sempat begitu membahagiakan dan membanggakan. Saya perempuan Jawa dan dia adalah seorang laki-laki berdarah Sunda. Saya anak Sastra dan dia anak Teknik. Saat itu, segala kriteria suami idaman ada pada dirinya, dia seorang ketua BEM dan leader dalam banyak forum, dia pelatih karate, dia cerdas, pekerja keras, dan yang paling penting dia adalah sosok yang hangat dan humoris. Kami menjalin hubungan selama tiga tahun. Kata banyak orang, kami itu seperti tumbu ketemu tutup. Saya yang kekanakan bisa didampingi oleh pria sedewasanya.

Bagi saya, dia bukan hanya seorang kekasih, tetapi juga seorang motivator. Setiap semester kami selalu bersaing soal IPK dan prestasi. Saya selalu bahagia ketika melihatnya duduk di depan panggung, menjadi seorang pembicara sekaligus motivator dalam berbagai seminar. Begitupun dia yang selalu ada saat saya mengisi beberapa acara untuk membaca puisi atau bermain teater.

Sampai waktu itupun tiba, kami memutuskan untuk berhenti. Bukan putus. Kami sepakat untuk saling menanti satu sama lain sampai kami benar-benar siap untuk menikah.

Tiga tahun berpacaran dan tiga tahun masa penantian, sampai akhirnya kabar itupun terdengar. Ia akan segera menikah. Bukan, bukan dengan saya, tapi dengan perempuan lain yang belum lama dikenalnya. Melihat antusiasnya dalam bercerita soal perempuan itu, anehnya saya justru lega sekaligus bahagia.

2. Pada purnama yang kesekian, padamu ingin kukatakan selamat datang sekaligus salam perpisahan

Selamat datang sekaligus salam perpisahan via http://detiklife.com

Beberapa waktu setelahnya, saya mutasi ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan magister saya melalui beasiswa dari Kementerian Keuangan. Perlahan saya mulai berbenah. Di Bandung, saya mulai mengikuti lagi kajian-kajian yang dulu pernah saya tinggalkan, saya mulai aktif dalam organisasi keislaman yang dulu sempat saya lalaikan karena urusan pacaran. Perlahan, sedikit demi sedikit saya mulai mendekat pada Yang Maha Dekat, agar tak lagi ada sekat.

Saya masih ingat lamanya tangisan di tiap salat saya ketika itu, dan hingga saat ini, segala hal yang menyakitkan dalam masa lalu adalah konspirasi terbaik yang pernah ada dalam hidup saya. Atas izin Allah, saya pasti akan menjadi perempuan hebat dan cemerlang di masa mendatang.

3. Setelah sekian lama kulupa rasanya menggempita, kamu hadir manis lagi berwarna. Kamu berbeda, juga istimewa. Ahli sulap yang bisa ubah airmata jadi tawa paling bahagia

Kamu berbeda, juga istimewa via http://www.ultraupdates.com

Singkat cerita, pada Januari 2017 lalu ada seorang laki-laki yang datang lewat sebuah surat di email saya, kami kenal lewat perpanjangan tangan seorang teman. Padahal sebelum ia datang pun sudah ada beberapa laki-laki lain yang mengajak saya serius, bahkan ada yang sampai ‘nekad’ datang ke rumah. Namun, hati saya tetap tidak bisa. Anehnya, pada laki-laki satu ini saya bisa dengan begitu mudah memberikan jawaban.

Saya sempat berpikir bahwa dia adalah jodoh yang disiapkan oleh Tuhan. Saya melihat diri saya dalam dirinya, dalam versi yang lebih baik dari sebelumnya.

Semua seakan Allah mudahkan. Saya sudah istikharah beberapa kali dan hati saya condong kepada laki-laki itu. Saya diskusi dengan Bapak dan Ibu, dan anehnya mereka pun langsung setuju. Padahal saya pikir tidak akan mungkin ada wacana saya diizinkan bisa menikah dengan orang jauh, eh sama si laki-laki satu ini mereka langsung “Oke” saja, padahal kami berdua beda pulau.

Saya dan laki-laki itu merencanakan banyak hal, mulai dari pekerjaan, rencana untuk melanjutkan pendidikan kami lagi pada jenjang S3 disalah satu negeri dongeng yang sudah lama kami impikan. Sampai soal pembahasan penting tak penting semisal kebiasaan sehari-hari dan warna favorit untuk cat dekor rumah tempat tinggal kami nanti.

4. “Hingga pada sepertiga malam, dadaku sesak kehilangan. Mataku penuh air kerinduan. Doa menguatkan. Doa menjangkaunya tanpa sentuhan. Doa melekatkan tanpa harus berpelukkan dan bergandeng tangan. Doa mendekatkan karena iman dan semoga menjadi alasan untuk sebuah takdir Tuhan”

Hingga pada sepertiga malam, dadaku sesak kehilangan via https://www.google.com

Waktu terus berjalan, saya dan laki-laki itu semakin dekat. Target menikah masih lama, mungkin satu atau dua tahun lagi, kuliah kami pun baru bisa selesai tahun depan, sampai akhirnya kami pun merasa benar-benar kosong. Kopong.

Kami memutuskan untuk mengakhiri segalanya, karena waktu itu kami juga sedang sama-sama dalam berproses untuk lebih memperbaiki diri dan iman.

Saya tidak mau merusak akhlaknya lewat hubungan yang belum semestinya, seperti saya yang sedang berusaha menjaga akhlak saya sendiri.

5. Allah, terima kasih selalu menerimaku dalam keadaan terbaik dan terburukku sebagai hamba. Meski mungkin aku masih jauh dari sosok manusia baik yang Kau damba. Tapi, terima kasih karena ternyata Kau tak pernah absen memberikan arah kompas berharap hidayah-Mu padaku segera tiba

Santri Siap Guna Daarut Tauhiid via http://www.ssgdt.daaruttauhiid.org

Satu minggu setelah proses saya dan laki-laki itu berakhir, saya memutuskan untuk masuk pesantren. Ialah Daarut Tauhiid, pesantren terbesar di kota Bandung, saya mengambil program Santri Siap Guna (SSG) angkatan 33 dan dilanjutkan dengan program Santri Penghapal Quran.

“Setelah sebelumnya babak belur karena urusan kehilangan dan patah hati, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang santri."

Satu hal yang memotivasi saya masuk pesantren adalah karena saya ingin selalu belajar menjadi seorang hamba yang yakin. Yakin terhadap apapun yang Allah tetapkan, yakin bahwa apapun yang sudah menjadi takdir saya tidak akan mungkin menjadi takdir orang lain, dan apapun yang tidak digariskan untuk saya tidak akan mungkin bisa saya genggam.

Selama di pesantren, kami tidak hanya belajar tentang ilmu agama saja, tetapi juga belajar berwirausaha, berkuda, memanah, bela diri, baris berbaris, kami dididik untuk menjadi muslim yang tangguh dan kuat.

Terima kasih kepada laki-laki yang telah menjaga cintanya dengan mulia. Menjaga perempuan(nya) dengan sebaik-baik doa; karena sekecil apapun zina, ia tetap akan mencipta percik api yang membara.

Terima kasih telah melepaskan perempuannya hingga bisa menjadi Santri Siap Guna. Membiarkan perempuan(nya) sibuk tidak hanya untuk urusan dunia, tapi juga menyiapkan diri untuk menjadi sebaik-sebaik madrasah bagi mujahid kecilnya.

Terima kasih, kudoakan perempuan yang kau cinta akan peka pada waktunya