Siapa sih yang tidak bahagia ketika keinginan kita untuk meneruskan pendidikan ke tingkatan yang lebih tinggi dapat terealisasikan dengan sempurna, terlebih jika apa yang kita dambakan tersebut pecah target. Semisal punya keinginan untuk memasuki salah satu perguruan tinggi negeri, atau melanjutkan studi ke negeri orang. Suatu kebanggaan tersendiri apabila kita dapat membuat impian tersebut menjadi kenyataan, bagaimana tidak untuk mereka yang akan meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak hanya melewati tahapan administrasi, test psikotest yang saingannya tidak sedikit jumlahnya, dari tahapan tersebut akan menjadi penentu "layak atau tidaknya" kita masuk ke salah satu perguruan tinggi. Naah, jika sudah resmi diterima siapa yang tidak bangga bisa menyisihkan ribuan orang yang memiliki impian sama seperti kita.

Euforia paska diterima menjadi seorang mahasiswa merupakan hal yang luar biasa, terselip rasa bahagia, bangga dan akhirnya 4 tahun lagi kita akan menjadi sarjana. But, dunia perkuliahan berbeda dengan dunia pendidikan yang sebelumnya kita tempuh di jenjang sekolah. Kuliah mengajarkan kita untuk menjadi indivindu yang lebih mandiri, hemat dan prihatin. Hidup jauh dari orang tua merupakan pelajaran yang kita dapat saat menempuh pendidikan, terutama bagi mereka yang memilih untuk kuliah jauh dari daerah asalnya, hidup berkecukupan dan prihatin merupakan suatu kewajiban agar keuangan yang diberikan setiap satu bulan sekali bisa aman terjaga hingga akhir bulan.

Pada semester awal biasanya para mahasiswa akan diberikan materi yang tidak jauh berbeda dari pendidikan yang mereka terima di jenjang sebelumnya. Bagi mereka yang memilih untuk mengambil fokus ke bidang eksakta mereka akan bertemu dengan matematika dasar, fisika dasar dan mata kuliah eksakta dasar lainnya. Begitu pun  bagi mereka yang memilih untuk mengambil di bidang humaniora, atau bahkan sosial yang akan dipertemukan lagi dengan bidang nya masing-masing, seperti bahasa Inggris, bahasa Indonesia, atau ilmu sosial dasar humaniora lainnya. Semester awal merupakan semester tersantai yang ada di tingkat perguruan tinggi, namun jangan bersenang-senang dulu karena masih banyak tingkatan semester yang harus kita lalui sebagai salah satu syarat untuk menyandang gelar sarjana hihi.

Seiring berjalannya waktu, semester akhir pun datang. Mau tidak mau, suka tidak suka kita akan mengerjakan hal yang katanya merupakan "momok menakutkan" yang harus dituntaskan bagi mereka yang menyandang mahasiswa tingkat akhir. Proses penyusunan skripsi berbeda dengan proses penyusunan tugas pada umumnya, diperlukan bimbingan dan keikutsertaan dosen pembimbing guna membuat skripsi kita jadi sempurna untuk di publikasikan. Tekanan yang timbul dari revisian memang hal yang membuat jantung naik turun, terlebih jika belum memegang kata "acc" hati gelisah bukan main. 

Ada pepatah menyebutkan :

Usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Setelah proses penyusunan skripsi yang penuh tumpah darah, keringat bercucuran, hati dan jantung jedag-jedug bukan karuan dan finally after all this hard time sampai juga deh kita para mahasiswa untuk dipertemukan dengan yudisium. Yudisium sendiri merupakan tahapan yang terdapat dibangku perkuliahan dimana mahasiswa telah resmi menyandang gelar sarjana. Nah, setelah yudisium barulah mahasiswa akan melaksanakan yang namanya ceremonial wisuda, sebenarnya gak wajib sih untuk melakukan hal yang satu itu, tapi jauh lebih baik lagi kalau kita lakukan, ingat-ingat untuk mengenang perjuangan saat menyandang status sebagai seorang mahasiswa hehehe, asik - asik wisuda juga hehehehe.

Euforia wisuda memang akan berlangsung minimal 2-3 hari, terlebih bagi mereka yang eksis di social media, tak jarang mereka akan menunggah foto paska wisudanya ke jejaring social media yang mereka miliki. Namun, setelah itu banyak wisudawan dan wisudawati yang galau mau melanjutkan kuliah atau mau merintis karier. Muncul perasaan, suka maupun duka yang hinggap di benak para ex-mahasiswa ini, adapun perasaan yang terkadang hinggap dibenak para fresh graduate adalah sebagai berikut : 

1. Wisuda bikin hati lega, bangga dan pastinya bahagia

Rasanya hatiku meletup-letup bahagia aw-aw-aw ! via http://tumblr.com

Finally, after all this hard time, I've got my bachelor degree !

Wisuda memang momentum yang membuat hati bahagia, bangga dan lega seubun-ubun. Siapa sih yang gak bahagia, bangga dan lega kalau akhirnya kerja keras mereka berakhir bahagia, terlebih jika mereka dapat memecahkan target 3.5 tahun dengan predikat cumlaude atau lulus dengan pujian, bangga banget lah yaaaaaaa. Tapi jangan keterusan bahagia yah, karena dengan kita wisuda itu merupakan jalan utama kita untuk berjuang ke wild world yang pastinya merupakan tingkatan yang lebih sulit lagi, ntah memilih untuk menjadi jobseeker, wirausahawan, melanjutkan ke tingkat pendidikan pasca sarjana atau bahkan menjadi ibu rumah tangga hehehehe.

2. Copot status mahasiswa, dan menggantinya menjadi jobseeker

Buat resume dulu ah biar ciamik ! via http://tumblr.com

Advertisement

Setelah officially graduated from university, bagi mereka yang memilih untuk merintis karier maka mereka mayoritas akan membuat curriculum vitae ataupun resume sebagai syarat administrasi untuk melamar di suatu perusahaan. Dua hal tersebut merupakan hal yang penting, mengingat dari kedua kartu tersebut kita akan ditentukan apakah kita layak untuk melewati tahapan selanjutnya? Curriculum vitae sendiri berisi tentang penjelasan mengenai diri kita secara singkat, padat dan jelas dan didalamnya harus mendesrkipsikan identitas kita baik itu nama, tempat tanggal lahir, alamat, dan kelebihan seperti prestasi, kemampuan organisasi yang kita miliki. Sedangkan resume sendiri lebih kepada deskripsi kita khususnya dalam bidang keahlian, pendidikan, pengalaman organisasi yang benar-benar relevan dengan posisi yang akan dilamar.

Setelah menyebar dua tiket wajib yang merupakan penentu layak tidaknya kita untuk memasuki tahapan selanjutnya memang membutuhkan usaha dan kesabaran tersendiri. Terlebih ketika curriculum vitae dan resume kita tidak kunjung disentuh atau bahkan kita tidak dihubungi oleh perusahaan. Sebenarnya ada alasan mengapa perusahaan enggan untuk menarik curriculum vitae dan resume kita. Pertama, karena memang pekerjaan yang dicari kualifikasinya harus memiliki background pendidikan yang benar-benar paham akan menangani pekerjaan ini, realitanya banyak para jobseeker yang tidak memiliki background pendidikan yang menjadi kualifikasi dari posisi tersebut, alhasil ga dipanggil-panggil deh. Kedua, karena curriculum vitae dan resume kita kurang menarik, di dunia pers dan pertelevisian kita dituntut untuk menjadi orang yang memiliki tingkat kreatifitas yang wajib tinggi, apabila curriculum vitae dan resume yang kita berikan tidak menarik bagaimana mau perusahaan menarik kita untuk menjadi bagian dari mereka? Hmmmmm

3. Dapat panggilan test kerja tahapan selanjutnya itu rasanya bahagia bukan main loh !

Deg-degan ih aku mau interview, tapi bangga hihi ! via http://tumblr.com

Gimana rasanya sih kalau curriculum vitae dan resume kita akhirnya disentuh sama perusahaan yang dilamar, bangga dan bahagia dong. Bagaimana tidak, seleksi data itu sangatlah ketat, dari situ perjuangan kita dimulai, baik dari kemampuan atau skill yang kita miliki, indeks prestasi komulatif yang kita punya dan kelebihan yang ada di dalam diri kita bisa lebih unggul daripada seleksi data milik ratusan bahkan ribuan jobseeker yang gagal untuk lanjut ke tahapan test selanjutnya.

Tahapan umum yang terdapat pada seleksi kerja biasanya berawal dari seleksi data administratif data pelengkap, test psikotest, test kesehatan dan interview yang dilakukan oleh bagian human resource development atau yang biasa kita kenal dengan sebutan hrd atau dengan user yang terdapat disuatu perusahaan. Kalau semua tahapan diatas bisa dengan lancar kita lalui selamat deh kita bisa lepas status kita dari pengangguran menjadi pekerja. Tapi mayoritas orang pada umumnya gak satu dua kali langsung dapat kerja sih, ada tipe indivindu yang mungkin harus berkali-kali baru dapat, atau mungkin memang sudah rezeki jadi bisa cepet kerja, but just enjoy every single step aja yah, kalau rezeki gak akan kemana kok. Cukup sabar, tawakal dan teruslah berusaha pasti dapat kok hehehe.

4. Temen-temen sudah pada bekerja, kok kita belum yah duh gimana yah?

Dia enak yah sudah bekerja, aku belum 🙁 via http://tumblr.com

Ada pepatah yang menyebutkan

Orang pintar akan kalah dengan orang beruntung

Tapi jangan berpatok pada pepatah diatas yah sobat, karena rezeki, maut, jodoh semua sudah diatur oleh Nya. Tugas kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, berdoa dan bertawakal agar semua yang ingin kita dapatkan tercapai, kalau toh belum dapat apa yang kita inginkan yakinlah diri-Nya telah menyimpan hal yang jauh lebih membahagiakan kamu, mungkin memang belum dalam waktu dekat ini, tapi mungkin kamu bisa jauh lebih bahagia dibanding teman-temanmu, karena kalian harus tau sukses itu bukan soal dulu-duluan waktu, tapi bagaimana kita sabar dan terus berusaha untuk menjadi orang yang lebih ulet dalam melakukan suatu hal khususnya dalam mencari pekerjaan.

Rasa minder pun kadang sering dirasakan bagi mereka yang namanya sudah memiliki gelar.

Cieeee yang udah sarjana, selamat ya udah kerja dimana sekarang?

Kalau terima ucapan kayak gitu itu rasanya nyelekit bukan main, paska euforia wisuda memang menyenangkan kita dapat gelar baru dibelakang nama kita, tapi setelah itu, tanggung jawab yang besar akan gelar yang sudah kita sandang itu sedang kita pertaruhkan. Tak jarang banyak teman atau bahkan saudara kita bertanya hal demikian. Sikapi saja dengan tenang, kalem dan wajar, bilang saja kalimat ini :

Keep calm, semua akan kerja pada waktunya hehehehe

5. Pengalaman kerja dianggap sebagai faktor penghambat terbesar para jobseeker (?)

Pengalaman kerja minimal 2-3-5 tahun, duh eyke fresh graduate cyin via http://tumblr.com

Problematika yang dihadapi oleh mayoritas para jobseeker adalah mereka sangat minim sama yang namanya work experience atau pengalaman kerja. Tak jarang dari mereka tidak memasukan pengalaman kerja karena memang mereka belum pernah melakukan pekerjaan sebelumnya. Nah, sebenarnya sih pengalamam kerja yang dimaksud oleh perusahaan itu bukan pengalaman kerja yang harus benar-benar kita lakukan di perusahaan besar dalam jangka waktu yang lama. Tetapi, pengalaman kerja yang dimaksud itu bisa diambil dari berberapa hal berikut ini :

(1) Magang atau Internship

(2) Ikut Penelitian Dosen Pada Masa Menjadi Mahasiswa atau Menjadi Lecturer Asistent

(3) Kerja di (Lembaga Sosial Masyarakat) LSM

Jangan pernah jadikan pengalaman kerja menjadi momok yang menakutkan apalagi faktor penghambat yang ada di saat kamu berburu kerja, karena bagi mereka yang sudah pernah melakukan 3 hal diatas bisa saja tuh dimasukan kedalam kategori pengalaman kerja. Di lain sisi kalian juga bisa minta rekomendasi dari pihak tempat kalian magang, dari dosen, ataupun dari lembaga sosial masyarakat baik melalui atasannya untuk merekomendasikan kalian kesuatu perusahaan, itu juga nilai plus loh buat kita, disamping nanti kita akan dipromosikan dengan hal-hal yang akan menggambarkan bagaimana sih kepribadian kita saat bekerja baik itu magang, jadi asisten dosen atau bahkan bekerja di lembaga sosial masyarakat. Beruntung banget bagi kalian yang sudah megang 3 tiket emas diatas, insyallah dengan segala izin-Nya bisa deh kita dengan mudah memasuki tahapan selanjutnya, jangan remehkan 3 hal diatas ya sobat !

6. Keterima kerja dan resmi jadi alumni jobseeker bahagia bukan main

Goodbye curriculum vitae dan resume see you on top ! via http://tumblr.com

Say goodbye to curriculum vitae dan resume akhirnya terealisasikan juga. Perjuangan penuh keringat, dan tumpah darah memang harus dilalui bagi mereka yang sudah resmi mencopot gelar Jobseeker. Rasa bangga akhirnya menyelinapi hati ini, ketika semua tahapan yang kita lalui akhirnya telah mengantarkan kita secara resmi untuk menjadi bagian dari suatu perusahaan. Kalau sudah melewati tahapan ini, senangnya bukan main. Rasanya ingin cepat-cepat mewujudkan impian kita satu persatu, baik itu membanggakan orang tua tersayang, orang yang kita sayang atau bahkan melakukan perjalanan ke negeri orang, tentunya dengan uang hasil keringat sendiri yah hehehe.

Soooo, bagi kalian yang masih sampai detik ini berjuang dengan yang namanya gelar Jobseeker, tetap semangat yah jangan pernah putus asa. Jika datang suatu masa dimana kalian benar-benar merasa depresi, coba deh kalian tenangi diri dan sabar atau mungkin intropeksi diri mungkin ada suatu kesalahan kenapa sampai saat ini kita belum dapat pekerjaan. Seperti kurangnya kemampuan soft skill yang sangat dinilai, atau mungkin keterampilan kita dalam suatu hal yang masih minim, selama masih menjadi Jobseeker coba yuk gunakan waktu kita untuk lebih produktif, semisal seperti mengikuti kursus bahasa asing ntah itu bahasa mandarin, jerman atau bahasa inggris toh dari situ kita bisa mendapatkan nilai plus dari perusahaan yang ada di luar sana. Tetap semangat dan terus menjadi orang yang ulet yah, dan jangan pernah lupa untuk senantiasa panjatkan doa kepada yang maha kuasa, karena usaha tanpa doa ibarat kamu membawa air ditengah oase padang pasir, namun dirijen air yang kamu bawa bocor just wasted!

If there is will, there is way.