"keluarga adalah cinta pertama yang kamu dapat dalam hidupmu"

Dalam hidup ini siapa sih yang tidak menginginkan keluarga bahagia. Karena kebahagiaan pertama itu berasal dari keluarga. Dalam keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak, baik anak tunggal atau dua bersaudara atau banyak saudara. Semua itu adalah komponen lengkap dalam satu keluarga. Lantas bagaimana jika salah satu dari komponen itu hilang? Bukan hilang karena maut tetapi perceraian. Ya kalian biasa menyebut kami keluarga BROKEN HOME.

Kami tidak akan menghujat kalian yang memanggil kami dengan sebutan itu, hanya saja disini kami ingin bercerita tentang apa yang kami rasakan, seperti apa hidup yang kami jalani dan sudikah kalian setelah ini tidak lagi memandang sinis pada kami anak-anak dari keluarga broken home.

1. Kami tahu pandangan kalian ke kami seperti apa, RENDAH!

sinis dan rendahan via http://2.bp.blogspot.com

Kebanyakan orang begitu mendengar kata kata broken home langsung saja mengaitkan kepada kondisi keluarga yang hancur, orang tua yang tidak becus mengurus rumah tangga sehingga tidak bisa mempertahankan keutuhan keluarganya, anak-anak yang ugal-ugalan, hobi mencari hiburan diluar atau kebanyakan kalian menyebut kami ‘Nakal’.

"mengapa kalian hadir dimuka bumi ini? sedangkan orang tua kalian saja tidak bisa mempertahankan kalian"

Memang diantara kami ada yang seperti itu tetapi apakah itu yang menjadi tolak ukur kalian memandang kami rendah? Kalian salah! masih banyak juga diantara kami yang membuat kegiatan positif, mengukir prestasi, hebat di sekolahan, mempunyai karir yang bagus. Lantas, Mengapa tidak memuji juga? Mengapa lebih senang mencela? Apakah kami tak berhak mendapat sedikit pandangan bersahabat dimata kalian? Karena kami juga sama seperti kalian masih mempunyai orang tua.

2. Tahukah kalian apa yang kami rasakan?

Advertisement

sepi dan merasa sendiri via http://www.dadangherdiana.com

Kami tak bisa menyangkal hujatan yang kalian berikan pada kami, karena memang ada diantara kami yang menjadi ‘nakal’ setelah perceraian orang tuanya. Tapi tahukah kalian apa yang kami rasakan? Hancur! Ya hancur dalam jiwa ini saat kasih sayang pertama kami direbut. Saat bahagia, saat dunia kecil kami masih utuh, tapi tiba-tiba badai menghancurkan surga kami.

"bagaikan badai petir disiang bolong, cinta kami pun terenggut paksa"

Tahukah kalian betapa gelap kami melihat dunia saat itu, bahkan tsunami aceh pun tidak ada artinya dibanding badai yang membawa pergi surga kami. Apakah kami marah? Tidak kami tidak bisa marah pada hal yang sudah terlanjur terjadi yang tidak akan pernah kembali. Apakah kami memaki orang tua kami? Tidak, kami tidak bisa karena tanpa mereka kami tidak ada!

3. Andaikan kalian diposisi kami bisakah kalian merasakan terpuruknya kondisi saat itu? Sanggupkah kalian menerima kenyataannya?

kemarilah sejenak dan coba rasakan apa yang kami rasa via http://www.isigood.com

Saat kami tahu bahwa perpisahan jalan yang terbaik, dan pilihan ingin tinggal bersama ‘siapa’ sudah menjadi tekanan batin bagi kami, kami tidak jatuh! Kami hanya berusaha berdiri meski kaki ini sudah patah rasanya untuk berdiri. Jikalau kalian berada diposisi kami, sanggupkah menjalani hidup yang seperti ini? Sanggupkah kalian menutup mata dan telinga dari hujatan orang disekitar kalian? Atau kah nanti jika anak kalian merasakan hal yang sama apakah kalian sanggup untuk melihat dunia ini? Jangan! Jangan rasakan apa yang kami rasakan. Karena kalian tak akan sanggup menahan rasa sakitnya. Cukup lah kami yang tahu bagaimana duka mendalam yang mencabik hati kami.

pedih luka tersayat pisau lebih pedih luka yang kami rasa, kalian tak akan sanggup menanggungnya.

4. Apakah kami pencipta generasi yang hancur hanya karena orang tua kami berpisah?

apakah ini salah kami? via http://1.bp.blogspot.com

Ada pepatah berkata ‘buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya’ jadi dari sini kebanyakan kalian mengatakan bahwa kami ‘anak dari keluarga broken home’ nantinya akan sama saja dengan orang tuanya tidak pandai mengurus rumah tangga. Apakah ada dasar dari teori itu? Jikalau begitu artinya yang orang tuanya pembunuh pun anaknya akan jadi pembunuh!

Apakah kalian tahu bahwa rasa sakit yang kami rasakan, kami tak ingin yang lain juga merasakan hal yang sama. Bukan berarti kami yang hidup tanpa kasih sayang lengkap orang tua nantinya akan menelantarkan anak-anak kami juga. Kalian salah!

5. Pernahkah kalian berpikir betapa susahnya kami untuk bangkit dari kondisi ini?

tak mudah berlari saat tulang kaki itu sudah remuk via http://udikhangeblog.files.wordpress.com

Luka yang harus kami tanggung tidak hanya satu, kami harus menerima keadaan saat pulang ke rumah situasi yang sama tidak akan ada lagi. Tak ada lagi duduk bersama saat makan malam, tak ada lagi canda tawa yang lepas dari sebelumnya, dijauhi oleh orang orang terdekat bahkan ditinggalkan pula oleh orang tercinta hanya karena keluarganya tak bisa menerima keadaan keluarga kami. Bukanlah cinta tidak memandang status? Bukankah kami juga mempunyai orang tua walau hanya berbeda rumah, apakah itu salah? Bahkan tak jarang air mata ini harus tertumpah saat hinaan itu kami terima.

Namun ada orang bijak pula berkata bahwa luka itu lah yang membuat mu menjadi dewasa. Tidak selamanya pula hari akan hujan pasti sesekali ada panas dan pelangi, begitu pula kami, kami harus bangkit, berjuang melawan dunia, berjuang berdiri diatas luka, kami berlomba mengukir prestasi,menampilkan sisi lain kami. Tahukah kalian? Itu tidak mudah. Sekuatnya kami saat melawan dunia, tak jarang pula kami rapuh dan harus kembali lemah saat menerima kenyataan bahwa kini keluarga kami sudah berbeda! Pahamkah kalian betapa susahnya bangkit dari kondisi ini? Kami tidak meminta harta, kami tidak mengemis perhatian, hanya saja kami ingin kalian membuka mata hati kalian apakah ini salah kami? Apakah kami harus menerima hadiah sinis ini atas semua luka yang kami tanggung? Apakah kami tidak boleh dianggap sama saja seperti anak lainnya?

6. Tahukah kalian sebenarnya kami lah pencinta terhebat!

kami mengerti rasanya kehilangan via http://3.bp.blogspot.com

Memiliki keluarga yang berpisah, lantas apakah itu membuat kami akan menjadi generasi yang hancur? Terkadang kami pun pernah berpikir, apakah kami bukan anak yang diharapkan oleh dunia? Bukankah jika berjodoh tidak akan berpisah dan hanya maut yang memisahkan, sementara orang tua kami tidak dipisahkan maut, apakah mereka tidak berjodoh? Jika tidak lantas apakah kami anak yang tidak di harapkan dunia?

Seseorang pun memarahi kami, dan mengataan tidak ada anak yang tidak diharapkan lahir kedunia, semua nya sudah kehendakNya. Kamu lahir karena kamu ditakdirkan untuk ada disini, bagaimana orang tuamu itu urusan lain lagi dimata tuhan.

Seketika air mata kami tumpah dan seolah kami tidak mensyukuri hidup yang kami peroleh. Jika semua orang sama dimata tuhan, lantas mengapa kalian pun tak menganggap kami sama seperti anak yang lainnya. Bukankah kami juga berhak mendapat hal yang sama?

Teruntuk calon keluarga baru kami nanti, calon mertua kami nanti, janganlah kalian membenci kami hanya karena keluarga kami berbeda, janganlah kalian pun menghina kami karena keluarga kita tidak sama, janganlah ragu mengizinkan anak kalian nanti mendampingi kami karena sebenarnya kami lah pecinta terhebat. Mengapa? Karena kami pernah merasakan luka dan kami lebih tau apa artinya kehilangan. Sehingga kami tidak akan pernah meninggalkan orang yang kami sayangi dan tidak pula membiarkan anak kami nantinya merasakan apa yang kami rasakan. Juga kami pun akan sangat menghargai kalian keluarga baru kami agar kami pun mendapatkan kehangatan yang sudah lama tidak kami rasakan.

Teruntuk kalian yang masih menganggap sinis pada kami, tidak bisakah kita berdamai dan berbaur. Karena kami bukanlah penyakit, kami pun tidak membahayakan nyawa kalian. Setelah luka yang kami tanggung tentu kami tak ingin lagi menambah luka. Kami hanya ingin dunia menerima kami dengan lapang dan memeluk anak yang malang ini.

surat cinta ini tertulis, bukan mengharap balasan apalagi cacian hanya berharap diterima kembali oleh kalian DUNIA.