Hai Ayah! Masih ingatkah engkau kepadaku, salah satu gadis kecilmu yang kini sudah dewasa? Anak perempuanmu yang pantas disebut sebagai salah satu wanita paling cerewet di antara wanita - wanita lainnya? Ah, ayah pasti jelas mengingatku. Ayah tidak mungkin segampang itu menghilangkan sosok diriku yang pernah mengisi memori indahmu di masa kecilku.

Sejak ayah pergi, jelas tubuhku bagaikan kehilangan organ-organ pentingnya. Paru-paru ku yang ada dua ini, bagaikan kehilangan salah satunya yang menyebabkan aku kesulitan untuk bernafas.

1. Aku lupa kapan tepatnya aku jatuh cinta pada sosokmu yang tegas.

Jatuh cinta pada sosokmu via http://kiddytrend.com

Aku masih mengingat saat aku berusaha memanjat pohon mangga yang tumbuh subur didepan rumah kita, yang tingginya setara dengan kepalaku dulu. Jelas saja, aku yang saat itu masih berumur 3 setengah tahun sangat butuh bantuan ayah agar aku bisa duduk dengan sangat hati-hati di salah satu dahan pohon yang menurutku kuat untuk menahan berat badanku yang masih ringan.

Ayah tidak melarangku saat itu, ayah malah membantuku menggapai dahan yang ingin ku duduki. Ayah memegangi ku dengan erat dan wajahmu jelas sekali ku ingat penuh dengan senyum cinta yang setulusnya kau beri hanya untukku saat itu. Saat aku melihat senyum manis itu, aku jatuh cinta. Ya ayah, jatuh cinta padamu.

Namun sebenarnya aku lupa kapan tepatnya aku jatuh cinta padamu. Karena tiap kali aku bersamamu, aku selalu jatuh cinta. Hingga sekarang ayah tak dapat ku lihat lagi. Namun engkau akan selalu ada di setiap sel darah merahku yang mengalir dari jantung hingga menyebar ke seluruh tubuh yang membantuku untuk tetap hidup.

2. Masa kecil indah yang ayah ciptakan kini masih jadi cerita indah bagiku.

Advertisement

Masa kecil yang indah via http://kids.lucyleonardi.com

Hey ayah, aku masih kerap mengingat saat aku pernah menjadi gadis bungsu mu sebelum kedua adikku yang cantik dan ganteng hadir didunia. Saat itu cerita indah yang tak akan pernah ku dapatkan dari siapapun tercipta dan terbingkai dengan sempurna.

Aku juga kerap kali mengingat saat ayah membawaku ke kantor. Dengan bangganya ayah memperkenalkan ku kepada semua teman-teman sejawatmu. Supaya ku tetap tenang, ayah memberikan ku dua kotak minuman yang hingga kini minuman yang terbuat dari kacang hijau itu menjadi minuman favoritku.

Ayah juga sering membawa ku berjalan-jalan di sore hari bersama motor yang kini tak pernah ku lupakan sosoknya, sambil menikmati udara sore yang masih belum tercemar oleh polusi-polusi yang kini telah membandel.

Ayah membuatku duduk dengan nyaman didepan agar ayah dengan mudahnya mencium kepalaku dan membelaiku dengan tangan kiri sedangkan tangan kananmu tetap memegang kendali motor agar kita berdua aman. Dengan suaraku yang terkadang masih membuat telingamu bising, aku menceritakan semua yang aku alami dan menanyakan semua hal yang ku lihat dijalanan.

Aku sadar, sebenarnya cerita-ceritaku saat itu sedikit tidak ayah mengerti. Karena jelas saja, anak berumur 3 setengah tahun memang belum ada yang dapat menyusun kalimat saat berbicara, dengan baik. Namun ayah berusaha sekali untuk mengerti setiap kata yang ku ucapkan.

Ayah bahkan merespon dengan sangat sempurna yang pada akhirnya tetap saja aku belum puas dengan jawaban ayah itu. Ah, aku masih jelas sekali mengingatnya ayah. Apakah ayah juga mengingatnya disana?

Ayah membelikanku mainan. Tentu mainan-mainan yang dapat membuatku mengetahui nama-nama benda. Perbedaan warna dan angka-angka. Jelas aku sangat bahagia akan mainan-mainanku. Saat ayah menerima hasil ujianku saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, ayah adalah orang pertama yang selalu ingin tau akan nilai-nilai ku.

Ayah sangat kecewa ketika nilai-nilai ku turun. Sebaliknya, ayah akan sangat bahagia ketika mengetahui nilai-nilai ku naik drastis. Ayah tak henti-hentinya mengajariku matematika. Pelajaran yang hingga kini menjadi pelajaran yang sulit ku pahami. Maafkan aku ayah, aku bukannya tidak mau mengerti apa yang pernah ayah ajari, tapi ayah pasti mengerti bagaimana daya tangkapku ini J

3. Bagiku, ayah selalu stimewa. Kepergianmu membawa duka mendalam bagiku.

Ayah adalah istimewa via http://dailymail.co.uk

Aku yakin, ayah sebenarnya tidak mau meninggalkanku. Namun panggilan Tuhan memang harus diterima. Tuhan yang menciptakan, Tuhan juga yang mengambil. Jujur, sebenarnya aku tidak pernah siap saat Tuhan memanggilmu dulu ayah. Aku percaya Tuhan memiliki rencana indah dibalik semuanya. Kepergian orang teristimewa dihidupku seperti ayah, membawa luka mendalam dihati.

Pernahkah ayah berfikir aku akan jatuh ke dalam luka dalam seperti ini? Pernahkah ayah berpikir bagaimana perasaan seorang remaja yang begitu saja ditinggal oleh ayahnya? Pernah ku berpikir dan berkata kepada Tuhan, Tuhan kumohon kembalikan ayahku. Namun kini aku sadar bahwa cinta kasih Tuhan pada ayah lebih besar dibanding rasa cintaku pada ayah.

Kabar yang ku terima dulu bagaikan kabar yang memberhentikan aliran darahku. Jantungku layaknya berhenti memompa darah ke seluruh tubuh. Apakah aku bermimpi? oh, tidak, aku sedang tidak bermimpi. Itulah yang selalu ku tanyakan pada diriku sendiri. Kata-kata terakhirmu yang meminta ku tetap menjadi remaja yang baik di perantauan, masih melekat erat tanpa celah di kepalaku.

Terik matahari yang memanas hingga masuk ke dalam rumah menambah butiran – butiran keringat yang memenuhi seluruh tubuhku saat aku sedang menangis tanpa jeda yang menyebabkan kepalaku nyeri bukan main. Ah, ayah, apakah ayah melihatku menangis saat itu? Kami, orang-orang yang menganggapmu sangat istimewa kini dapat melihatmu melalui adik kecil kami yang ayah tinggalkan setahun setelah dia hadir di dunia.

Dia pintar, ayah. Pintar sekali. Dia suka berbicara dengan suara yang lucu dan menggemaskan. Persis seperti suaraku saat aku berbicara tanpa henti dulu. Bagaimana pun ia lah penggantimu kini di tengah-tengah kami, keluargamu.

Ayah tahu, ia juga sering mengucapkan bahwa kelak ia akan meniti karir dan pendidikan ke negeri yang jauh sesuai impiannya. Tentu ia tidak akan melupakan kami, khususnya ibu. Doa ibu serta kami, kakak-kakak tercintanya akan selalu menyertai dia dengan doa. Karna ia, kami dapat melihat mu selalu.

4. Cita citaku akan kugapai sebagaimana yang telah kuucapkan kepadamu dulu.

kan ku gapai cita – citaku via http://theunboundedspirit.com

Sejak kepergianmu dulu yang meninggalkan ibu sendirian, jelas membuatnya harus berbanting tulang untuk membiayai kuliah dan sekolah kami. Kekurangan dana kuliah membuat ibu harus bekerja ekstra sambil mengurus 2 adik kecilku yang saat itu tidak bisa jauh dari ibu.

Apakah ayah melihat kerja keras itu saat itu? Tidakkah ayah ingin kembali saat melihat ibu membanting tulang sendirian? Ah, aku memang bodoh. Mana mungkin ayah kembali. Tuhan tidak akan mengijinkan ayah untuk kembali kepada kami. Jelas saja ayah lebih bahagia bersama Tuhan disana.

Ibu memang sangat luar biasa. Ayah sungguh pintar memilih wanita super seperti ibu yang kini dapat menikmati hasil dari anak-anaknya. Tidakkah ayah melihat saat ibu bahagia berjalan jalan di kota Paris nan romantis itu ? Ibu sangat bahagia. Salah satu dari kami membawanya kesana. Kini aku akan melanjut sekolah bahasa ke negeri tulip. Aku berharap mendapat giliran membawa ibu ke negeri tulip.

Masih ingatkah ayah saat aku kerap kali mengatakan saat aku masih berumur 4 tahun bahwa aku akan keluar negeri ? yaa, aku akan kesana. Aku berjanji akan baik-baik sebagaimana janjiku kepadamu beberapa tahun yang lalu. Aku akan membahagiakan ibu sebagai gantinya untuk membahagiakan mu. Sebenarnya sampai kapanpun aku akan tetap merasa ada saja yang kurang ketika ayah tidak ada.

5. Terimakasih untuk segala hal-hal tak terlupakan yang pernah ayah ciptakan

Terimakasih ayah via http://pinterest.com

Aku kerap kali mengingat bahwa masa kecilku, masa kecil kami adalah hal – hal yang tak akan pernah lepas dari kepala ini. Itu akan menjadi bagian dari diri kami. Karena hal-hal indah masa kecil kamilah kami mengerti arti kebahagiaan. Kini kami mengerti bahwa engkau memang tak tergantikan. Ayah akan selalu menjadi bagian dari diri kami. Ayah akan selalu berada di setiap sel darah kami yang membantu kami untuk tetap hidup.

Terimakasih untuk segalanya ayah. Terimakasih untuk masa kecil yang indah yang tak terbanding dengan anak manapun yang walaupun diantar kemana mereka ingin pergi, menggunakan mobil-mobil mewah.

Aku bahkan mencintai motor ayah yang selalu membawaku berjalan-jalan walau kini ia telah di curi oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Namun sosoknya akan selalu berada di dalam otak. Aku bahkan mendambakan sosok pria yang mendampingiku kelak, seperti mu. Sesosok yang pernah dan akan selalu berada di dalam hati.

Untukmu, yang selalu ku rindukan…