Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah media kembali menyoroti tragedi memburuknya keadaan yang dialami oleh umat Islam di kamp Yarmouk. Mereka adalah para pengungsi Palestina di pinggiran Damaskus, yang diblokade oleh pasukan rezim Suriah tanpa belas kasih selama lebih dari enam bulan, dengan mencegah masuknya makanan, obat-obatan atau bahan bakar kepada mereka yang tinggal di kamp tersebut.

Akibat dari blokade keji ini, mereka yang tinggal di kamp ini menderita gizi buruk dan bahkan mati kelaparan, terutama perempuan dan anak-anak. Salah seorang wartawan menggambarkan situasi sekarang di dalam kamp seperti “Ghetto pada zaman Perang Dunia II”. Sehingga hal ini membuat kaum pria, wanita dan anak-anak Muslim di kamp, yang jumlahnya hampir 20 ribu jiwa, sekarang menghadapi risiko kematian perlahan-lahan akibat kelaparan.

 

1. Krisis di Suriah adalah perang saudara yang masalah utamanya adalah perbedaan sektarian

Krisis di Suriah

Krisis di Suriah via http://cdn.ar.com

Revolusi di Suriah terjadi dalam konteks Revolusi Arab (Arab Spring), yang berakibat pada tumbangnya beberapa rezim diktator di kawasan ini. Gelombang perubahan ini—saat  itu—tinggal menunggu waktu untuk mencapai Suriah.

Pada  Maret 2011, sejumlah pelajar muda membuat coretan, ‘Suriah memerlukan perubahan sistem,” dalam bentuk grafiti di Dera’a , di bagian selatan negara itu. Rezim Suriah, yang dilanda kekhawatiran melihat tergulingnya pemimpin-pemimpin Arab saat itu- bereaksi  dengan marah. Rezim menangkap para remaja itu dan lebih dari selusin anak laki-laki, kemudian menyiksa mereka selama berminggu-minggu.

Beberapa orang kemudian mengecam peristiwa ini yang kemudian menjadi gelombang protes secara nasional. Tipikal rezim yang memang brutal kemudian menanggapi lebih keras lagi. Pasukan keamanan dengan cepat menanggapi protes massa yang menyebar dengan cepat dengan cara menembakkan peluru tajam kepada kerumunan massa dan titik-titik protes massal terjadi.

Akhirnya, pada Maret 2011 umat Islam Suriah memperjelas sikap mereka terhadap rezim Suriah. Mereka tidak mau lagi hidup di bawah penindasan. Di seluruh negeri, rakyat Suriah mengangkat senjata. Di sisi lain rezim Bashar semakin brutal dengan membantai demonstran tanpa pandang bulu.

Khawatir nasibnya akan berakhir seperti Ben Ali, Mubarak dan Gaddafi, Bashar Assad memerintahkan operasi militer besar-besaran untuk menindas gerakan perlawanan.

Narasi perang sektarian di Suriah adalah ide palsu. Dari sejak awal Revolusi Suriah, ini adalah gerakan untuk melawan ‘security state’ sekular yang menindas; rezim Arab Ba’athist yang nasionalis; rezim yang dipimpin dan didominasi oleh komunitas Alawi.

Usaha untuk menggambarkan Revolusi Suriah sebagai perjuangan kaum sektarian, bukan gerakan perlawanan terhadap diktator sekular, pertama kali dimainkan rezim Assad. Rezim inilah yang menyatakan perlawanan rakyat Suriah bersifat sektarian.

Rezim Bashar juga mengklaim mereka bukan menghadapi perlawanan rakyat yang menuntut pembubaran rezim diktator. Dengan begitu banyaknya ketidakstabilan dalam negara, sebagian telah terlibat dalam tindakan sektarianisme yang sifatnya individual. Sebagian di antaranya adalah reaksi yang tak terelakkan atas sektarianisme terbuka yang diperkenalkan oleh rezim dalam perjuangan melawan lawan-lawannya. Ditambah dengan retorika anti Syiah yang sebagian besar dimunculkan Arab Saudi.

Namun, harus jelas bahwa pemberontakan ini pada asalnya tidak karena sifat Alawi atau Syiah dari rezim, tetapi sebagai akibat dari kemarahan dan ketidakpuasan terhadap kediktatoran sekular yang mengakibatkan rakyat Suriah menderita di bawah tekanannya selama beberapa dekade.

2. Barat mendukung rakyat Suriah dalam perjuangan melawan Bashar Assad.

Barat mendukung rakyat Suriah

Barat mendukung rakyat Suriah via http://cdn.ar.com

Narasi tentang dukungan Amerika Serikat dan Perancis atau terhadap rakyat Suriah hanyalah retorika belaka. Apa yang dikatakan Barat dan apa yang sebenarnya mereka lakukan sangat berbeda. Inggris dan AS memperjelas posisi mereka ketika pemberontakan dimulai. William Hague (Inggris) dan Hilary Clinton (Amerika)  menggambarkan Assad sebagai seorang reformis yang harus diberikan kesempatan.

Pada saat perlawanan menyebar dan menjadi tindakan kekerasan, AS mulai berbicara dengan kelompok-kelompok oposisi tertentu dan para pembelot, yang akhirnya membentuk Dewan Nasional Suriah (SNC). Dalam waktu singkat, kelompok ini berubah menjadi oposisi resmi, meskipun mereka tidak pernah hadir di Suriah.

Barat hanya mendukung kubu ini karena mereka tidak ingin elemen-elemen yang berpikiran Islam dari penduduk Suriah memiliki pengaruh di negara itu. The New York Times menyoroti hal ini, “Para pejabat Amerika telah semakin khawatir bahwa anggota perlawanan ekstremis yang melawan pemerintah Presiden Bashar Assad, terutama Jabhah al-Nushrah, akan mengambil alih beberapa bagian Suriah dan memperkuat kewenangannya dengan memberikan layanan publik, sebagaimana yang telah banyak  dilakukan Hizbullah di Libanon.”

Jeffrey White, mantan perwira intelijen Badan Pertahanan dan ahli kemiliteran Suriah mengatakan, “Pemerintahan AS tahu bahwa jika mereka tidak mulai melakukan sesuatu, perang akan berakhir dan mereka tidak akan memiliki pengaruh terhadap pasukan tempur di lapangan. Mereka mungkin memiliki pengaruh atas berbagai kelompok politik dan faksi-faksi, tetapi mereka tidak akan memiliki pengaruh atas para pejuang, dan para pejuang akan mengontrol wilayah itu.”

The New York Times selanjutnya mengkonfirmasikan, “Distribusi senjata terutama bagi kelompok-kelompok bersenjata yang dipandang sebagai kelompok nasionalis dan sekular, dan tampaknya dimaksudkan untuk memotong kelompok-kelompok jihad yang perannya dalam perang, telah menimbulkan kekhawatiran negara-negara Barat dan wilayah regional.”

Semua ini jelas menunjukkan bahwa AS dan Barat lebih menyukai hasil yang sangat spesifik di Suriah dan itu adalah bagi sebuah faksi di Suriah yang muncul sebagai pemenang atas faksi-faksi lain.

3. Rakyat Suriah ingin transisi pemerintahan menuju demokrasi Barat, namun Islam radikal telah membajak pemberontakan.

Rakyat Suriah ingin transisi pemerintahan

Rakyat Suriah ingin transisi pemerintahan via http://gdb.voanews.com

Bukti-bukti yang ada bertentangan dengan hal ini. Kelompok-kelompok dan faksi-faksi Barat telah berbicara banyak dan menyebarkan pandangan seperti ini. Namun, dari lapangan pertempuran dan  penduduk setempat di negara itu jelas bahwa mereka meminta pemerintahan Islam.

Studi terbaru IHS Jane, sebuah konsultan pertahanan, menyimpulkan bahwa elemen-elemen Islam berkisar dalam jumlah 100.000 pejuang, yang membentuk sekitar 1.000 brigade. Menurut kesimpulan, mereka hanya sebagian kecil dari para pejuang itu yang terkait dengan kelompok-kelompok sekular atau kelompok-kelompok yang murni nasionalis.

Pada bulan Juni 2013, Al-Jazeera menayangkan serangkaian wawancara (dalam bahasa Arab) dengan para pemimpin kelompok bersenjata utama yang melawan rezim Assad di Suriah. Totalnya ada enam wawancara. Hal yang penting dari wawancara tersebut adalah suatu kenyataan bahwa dunia tidak pernah mendengar banyak dari pandangan para komandan lapangan atau para pejuang yang sebenarnya di lapangan.

Sejauh ini, Revolusi Suriah telah diwakili oleh tokoh-tokoh politik dari Koalisi Nasional Suriah (SNC). Wawancara-wawancara itu mengungkapkan kesamaan antar para komandan pejuang, yakni:

a)     Revolusi Suriah dimulai setelah rezim memberangus demonstrasi damai.

b)     Tidak ada negosiasi dengan rezim atau sisa-sisa rezim.

c)     Sistem masa depan Suriah harus didominasi oleh kaum Sunni Muslim karena mereka mewakili mayoritas rakyat Suriah.

d)     Rezim pada masa depan tidak akan bersahabat dengan negara-negara atau badan-badan yang mendukung Assad dan rezimnya, seperti Iran dan Hizbullah.

4. Pembicaraan Jenewa merupakan upaya untuk mengakhiri konflik.

Pembicaraan Jenewa

Pembicaraan Jenewa via http://cdn.ar.com

Pembicaraan Jenewa yang diorganisir oleh Barat meminta Koalisi Nasional Suriah agar bisa bernegosiasi dengan rezim Assad dan menyetujui kompromi dengan mengorbankan tuntutan rakyat. Pembicaraan ini mewakili posisi Barat untuk mempertahankan rezim sekuat tenaga dan mempersiapkan kelompok bersenjata yang mau berkompromi.

Leon Panetta, dalam sebuah wawancara dengan CNN pada Juli 2012, mengatakan, “Saya kira penting ketika Assad hengkang—dan dia akan hengkang—untuk mencoba menjaga stabilitas di negara itu. Cara terbaik untuk mempertahankan stabilitas ini adalah dengan mempertahankan militer dan polisi sebanyak mungkin yang anda bisa lakukan, bersama dengan pasukan keamanan, dan berharap bahwa mereka melakukan transisi kepada bentuk pemerintahan yang demokratis. Itulah kuncinya.”

Menteri Luar Negeri AS memperjelas posisi AS setelah Assad menggunakan senjata kimia di Timur Damaskus, bahwa kalaupun  intervensi dilakukan  bukanlah untuk pergantian rezim. Wall Street Journal mengkonfirmasi pada tanggal 2 September bahwa, Gedung Putih ingin memperkuat pihak oposisi namun tidak ingin mereka menang. Demikian kata orang-orang yang menghadiri briefing tertutup oleh para pejabat Pemerintah selama beberapa minggu terakhir. Pemerintah tidak ingin serangan udara AS, misalnya, mengubah keseimbangan konflik karena khawatir kelompok Islam akan mengisi kekosongan jika rezim Assad jatuh.“

5. Para pejuang tidak bisa mengalahkan rezim Assad dan harus bernegosiasi dengan rezim.

Para pejuang tidak bisa mengalahkan rezim Assad

Para pejuang tidak bisa mengalahkan rezim Assad via http://cdn.ar.com

Di mana pun rezim Assad bertempur, strategi mereka adalah menghancurkan pihak oposisi dengan menggunakan kekuatan yang maksimal, mengepung kota dan menembak tanpa pandang bulu untuk membasmi perlawanan.

Meskipun rezim Assad memiliki lebih banyak senjata, mereka telah gagal menahan kelompok-kelompok pejuang yang bergerak menuju Damaskus. Perlawanan ini menyebar dengan sangat cepat dan berubah menjadi perlawanan rakyat sehingga mengakibatkan serangan membabi buta.

Dalam melawan rezim, para pejuang memanfaatkan taktik gerilya, dengan mentargetkan dan memotong jalur pasokan rezim di seluruh negeri. Dengan menargetkan rezim di seluruh pelosok negara, mereka mampu melakukan serangan terhadap pangkalan udara militer, yang memungkinkan mereka untuk mengisi stok senjata mereka dan memperoleh senjata-senjata yang lebih canggih.

Rezim Assad telah kehilangan hampir semua bagian utara negara itu, di wilayah pedesaan juga beberapa daerah selatan. Rezim baru saja merebut kembali Homs dari tangan para pejuang dengan bantuan Iran dan Hizbullah, namun sekarang berjuang untuk terus mempertahankannya. Pada saat ini  keseimbangan strategis telah bergeser dalam pertempuran antara rezim dan kelompok-kelompok pejuang. Dalam konteks inilah AS sedang berbicara mengenai intervensi militer.

Pengumuman koalisi baru yang berdasarkan Islam yang mencakup 11 kelompok terbesar di Suriah menunjukkan, bahwa para pejuang sedang menyatukan sumberdaya mereka bersama-sama dan mengkonsolidasikan posisi mereka saat mereka masuk ke Damaskus.

Kenyataannya, rezim Assadlah yang mulai terlihat kehilangan cengkeramannya, dan berusaha melakukan negoisasi dengan para pejuang untuk mendapatkan  jalan keluar. Jika tidak, al-Assad akan segera menghadapi masa keruntuhannya seperti yang terjadi pada rekannya Moammar Gaddafi ketika dia ditangkap dan bersembunyi di sebuah pipa limbah di kota kelahirannya.