Ayah dengarkanlah...
Aku ingin berjumpa...
Walau hanya dalam
Mimpi...

Bukan hanya kamu yang pernah mendengarnya. Semua orang di negara ini pun dari mulai nenek-nenek sampai adik-adikmu yang masih SD pasti pernah mendengar lagu ini. Tapi kamu tau nggak siapa penyanyinya? Lagu ini tuh dinyanyikan oleh Rinto Harahap, pernah dengar kan nama beliau? Yupss.. beliau adalah seorang penyanyi legendaris zaman dahulu guys.

Lagu ini mengisahkan tentang kerinduan seorang anak terhadap ayahnya. Dalem banget kan maknanya? Apalagi kalau posisi kamu itu sebagai anak broken home yang sudah lama sekali tidak pernah bertemu dengan ayahmu sejak peristiwa kelam (perceraian) itu menghampirimu. Duhh dijamin deh tanpa terasa air matamu itu akan mengalir deras dari matamu. Gimana nggak, orang kamu yang tadinya lagi berbunga-bunga gara-gara abis ditembak cowok impianmu tiba-tiba langsung goncang hatinya ketika mendengarkan lagu ini. Kenapa sih bisa begitu? Kuy simak baik-baik penjelasan berikut:

 

1. Wujud Tanpa Makna

I Love You Sosok Tanpa Makna

I Love You Sosok Tanpa Makna via http://google.co.id

Wujud tanpa makna? Maksudnya gimana tuh? Sebelumnya kamu harus bersyukur dulu karena masih diberikan takdir dan kesempatan untuk bertemu, mengenal, dan bermanja-manja ria dengan ayahmu. Karena tidak semua anak loh guys di dunia ini yang diberikan kesempatan seperti itu oleh Tuhan. Ada beberapa anak yang nasibnya tidak seberuntung kamu. Aku misalnya. Aku sedari kecil sudah mendapatkan kehidupan yang kelam. Perceraian misalnya. Perlu kamu ketahui loh guys.. dari kecil orang tuaku sudah berpisah.

Aku digariskan untuk tidak tinggal satu atap bersama dengan keduanya, melainkan hanya tinggal dengan ibu, sedangkan ayah? Ayah telah pergi meninggalkanku seumur hidupnya. Jangankan untuk mendapatkan nafkah darinya, bertemu dengannya pun sudah tidak pernah lagi. Entah apa alasannya. Makanya, bagi anak broken home sepertiku, ayah itu merupakan sosok yang berwujud namun tak memiliki makna.

Dia ada tapi tak berkontribusi apapun di dalam hidupku. Bagaimana tidak? Sosoknya masih ada, tapi dia tak pernah sedetikpun memberikan kasih sayang dan perhatian kepadaku. Mungkin dia masih hidup, tapi hidup di mana? Di tempat yang antah-berantah, jauh dari peradaban anaknya. Kadang aku mengalami dilema, antara harus membenci atau merindukan sosoknya. Benci? Ya... aku sangat membenci ayah karena selama ini aku telah “dibuang” oleh ayah, tapi jauh di dalam hatiku aku sangat merindukan keberadaan ayah. Aku rindu mendapatkan kasih sayang yang tulus dari “pangeran” pertama di dalam hidupku.

2. Ingin Melihat Kau Sedetik Saja

Bertemu dengan Ayah

Bertemu dengan Ayah via http://google.co.id

Ayah, aku ingin sekali bertemu denganmu. Ingin sekali sedetik saja melihat wajahmu. Rinduku ini tak terbendung lagi. Namun, apalah dayaku, yah, aku hanya anak lemah yang tak tahu ke mana harus melampiaskan rasa rinduku ini. Aku sangat mecintaimu, tapi apakah kau juga mencintaiku? Kalau memang kau juga mencintaiku, kenapa kau tega meninggalkanku bersama dengan serpihan-serpihan kenangan indah tentang kita? Kata orang, tidak ada mantan anak walaupun orang tua kita telah berpisah.

Namun, jika tidak ada mantan anak, mengapa perpisahan kalian juga harus membuatku berpisah denganmu? Kenapa sejak peristiwa kelam itu kau pergi dan tak pernah menemuiku lagi? Apakah aku sudah tidak ada di hatimu lagi, wahai ayahku? Apakah kau sudah tak merindukanku lagi? Aku merindukanmu, sangat, seperti malam yang selalu dirindukan sang bulan. Tapi, kau berbeda dengan bulan itu. Jika rindu, bulan selalu datang menemui sang malam. Tapi kau? Kau tak sedetikpun datang untuk menemuiku.

3. Ke Mana Aku Harus Mencarimu?

Where are you my hero?

Where are you my hero? via http://google.co.id

Entah sudah berapa banyak air mata yang telah kukeluarkan? Aku sangat merindukanmu. Namun, aku tak tau harus ke mana aku melabuhkan rasa rinduku ini. Aku ingin, ingin sekali mencarimu di berbagai sudut bumi ini. Tapi, aku tak tahu harus ke mana. Aku tak memiliki arah dan tujuan yang tepat. Aku tak pernah tau seperti apa wajahmu. Sedetikpun aku tak pernah melihatmu. Jangankan melihatmu, yah, membayangkanmu saja aku tak pernah. Aku bingung mencarimu ke mana, kumoho. Kembali lah padaku, cari aku, rumahku masih yang dulu.

4. Aku Menangis

Menangis karenamu

Menangis karenamu via http://google.co.id

Ayah, pasti kau tak mengetahui jika luka yang kau goreskan dahulu masih bersarang di benakku? Ayah, tahukah kau? lebih baik kau hunuskan pedang ke tubuhku ketimbang kau hunuskan luka di hatiku. Jika kau hunuskan luka di hatiku, kau akan menyakitiku seumur hidupku karena luka yang kau goreskan tak akan hilang walau dengan hujan badai sekalipun. Tapi, jika kau menghunuskan pedang ke tubuhku, sakitnya hanya sekali dan takkan melukaiku tapi membunuhku serta membuatku lupa akan sakitnya ditinggal olehmu.

Ayah, betapa menyedihkannya anakmu ini ketika melihat teman-teman sebayanya diantar-jemput oleh ayah kandungnya, dicium keningnya dan dipeluk tubuhnya setiap hari sedangkan aku? Sejak kecil tak pernah diperlakukan seperti itu olehmu. Jika teman-teman sebayanya membanggakan sosok ayahnya masing-masing, aku? Apa yang bisa aku banggakan dari sosokmu? Bagiku kau hanyalah past tense. Ya, past tense, yakni kehidupanku di masa lampau.

5. Apapun yang Pernah Terjadi Antara Kita, Aku Tetap Mencintaimu

I love you forever

I love you forever via http://google.co.id

Ayah, kembalilah! Kini aku sudah dewasa. Tak inginkah engkau melihatku tumbuh menjadi pribadi yang dewasa? Aku akui aku memang membencimu, tapi itu semua tak ada gunanya. Kembalilah ayahku. Mari perbaiki diri. Apapun yang terjadi antara kita, aku tak bisa memungkiri, bahwa aku tetap mencintaimu.