Loving can hurt
Loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know

Loving can heal
Loving can mend your soul
And it's the only thing that I know (know)

And if you hurt me
That's OK, baby, only words bleed
Inside these pages you just hold me
And I won't ever let you go

 

Ed Sheeran - Photograph

1. Kala Itu Aku Masih Menyimpan Luka dan Memendam Kecewa

air mata selalu menjadi sahabat setiaku via http://favim.com

Entah beribu kata maaf telah kau ucapkan atas ribuan kesalahan yang telah kau berbuat. Aku tak ingat lagi berapa orang wanita yang pernah hadir dalam hubungan kita. Aku juga tak ingat berapa banyak bualan yang kau rajut agar aku percaya pada kebohonganmu itu. Setiap kali kau lakukan kesalahan, selalu saja kau selipkan kalimat, "Aku tak akan mengulanginya lagi, sayang." Kalimat yang layaknya rekaman yang terjadi berulang-ulang.

Maaf?

Aku hanya manusia biasa, yang tak mampu menyimpan dendam, yang tak kuasa menaruh benci. Tapi aku juga manusia biasa yang tak kuat menahan luka bertubi-tubi yang kau goreskan. Bagaimana aku bisa hidup dengan menangis tiap malam dan menyesal di kemudian pagi? Aku hanyalah manusia biasa, sayang.

Advertisement

Namun mengapa kau tak mengerti? Tidak kah kau iba dengan rasa sakit ku ini? Tidak kah sedetik pun terpikir oleh mu untuk berhenti melukaiku?

2. Namun Ku Biarkan Hati dan Logika Ku Berdiskusi Bersama

aku terhanyut dalam keheningan panjang via http://favim.com

Kau menyakitiku.

Namun kau pernah melukis senyum di wajahku.

Kau membuatku menangis tiap malam.

Namun kau pernah menghiasi tawa di hariku.

Kau pantas untuk dibenci.

Namun kau terlalu aku cintai.

Berbicara tentang hati dan logika bagaikan berbicara tentang air dan api. Tak akan pernah sejalan. Aku masih mencintai diriku sendiri. Aku tak rela diriku kau remukkan dengan segala prilaku mu. Sudah cukup waktu yang aku sia-sia kan dengan percaya padamu. Aku ini bukan perempuan bodoh yang serta merta menutup mata dan telinga tiap kali kau mengkhianatiku. Aku tak kuat melihat kelakuaknmu dengan perempuan lainnya. Aku juga tak kuat mendengar cemooh orang-orang disekitarku yang saling berbisik satu sama lain, "Lihat! Betapa bodohnya dia yang masih bertahan pada si berengsek itu!"

Namun hati ku bersikeras untuk bertahan. Menggenggam erat puing-puing hati yang telah lama runtuh. Pada kenyataannya tak satu orang pun dapat menguasai isi hati siapapun, bahkan diri sendiri sekalipun. Aku tidak pernah mengerti apa yang hatiku inginkan. Ketika hati sudah memilih, sekuat apapun aku menyangkalnya, hasilnya akan nihil.

3. Akhirnya Aku Bertekuk Lutut Pada Hati ku dan Keegoisannya

bukankah cinta saling memaafkan? via http://favim.com

Akal sehatku mulai pada seiring dengan membaranya ketekunan hatiku untuk kembali padamu. Kali ini untuk kesekian kalianya ku pertaruhkan bahagiaku padamu, yang telah berulang kali menyakitiku. Ku yakinkan logika ku bahwa semua orang berhak mendapat kesempatan, entah berepa kali itu. Akan ada masanya tiap orang berubah ketika iya sudah menyadari kesalahannya.

Aku bertaruh pada pilihan yang berkabut. Tanpa jaminan, tanpa pegangan yang kuat. Kelak ketika aku jatuh lagi, aku tak tahu siapa yang akan aku salahkan. Hati kah? Yang telah memaksa ku untuk kembali percaya padamu? Atau logika? Yang dengan rela aku terbelunggu oleh perasaanku sendiri.

4. Sejenak Hatiku Bersorak Sorai Atas Kemenangannya

kita kembali menuai bahagia via http://favim.com

Hariku kembali cerah, aku kembali mendengar tawa. Bayangku dicermin telihat mulai bahagia. Setelah sekian lama akhirnya kau berubah. Selama itukah harus aku menunggu? Namun tak apa sayang, aku bersedia. Asalkan kau bersama ku, asalkan tanganmu masih menggengamku.

Aku telah terbiasa menghabisakan waktu denganmu, mewarnai hari-hariku dengan tingkah konyolmu, mendengar celotehanmu tentang penatnya tugas-tugas. Akhirnya semua itu dapat ku raih lagi. Terima kasih, sayang, terima kasih telah datang lagi padaku, meyakinkan aku untuk dapat menerima mu kembali.

5. Dan Pada Akhirnya Aku Kembali Berlabuh Pada Akhir yang Sama

kemana bahagiaku? via http://favim.com

"Hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat." (Tere Liye)

Aku kembali lagi mendengar cuplikan kalimat yang sama. Mendengar pengulankan kata yang sama, "Maaf."

Untuk kau yang pernah memohon kesempatan padaku…

Kesempatan seperti apa lagi yang kau inginkan dariku? Kesempatan untuk melihat tangisku lagi?

Bukankah kau sudah bosan melihatnya?