Saat ada yang mengumpat, biasanya akan tercetus dalam pikiran kalau orang itu identik dengan tempramen, bandel, dan tak beradab. Padahal banyak kata-kata lain yang bisa diucapkan selain umpatan. Maka dari itu orang-orang yang suka mengumpat seringkali diperangai punya tingkat kecerdasan rendah karena kosakatanya terbatas. Tapi menariknya, hasil studi psikologi kekinian justru menunjukkan sebaliknya. Yup, studi ini malah membuktikan bahwa orang yang suka mengumpat itu sebenarnya cerdas.

Masa sih? Tapi ‘kan ucapan mereka tetap saja kasar.

Kata-kata umpatan memang penuh dengan makna kasar. Namun, bukan berarti orang yang mengumpat nggak berpikir panjang dalam mengutarakan maksud ucapannya. Meski apa yang terucap itu masih sulit diterima, kamu perhatikan lagi deh kalau sebenarnya orang yang mengumpat itu punya tingkat kecerdasan tinggi. Nggak percaya? Simak yuk 6 alasan berikut ini.

 

1. Pemilihan kata mereka bukannya terbatas, tapi justru luas. Meski dianggap kasar dan tabu, mereka punya cadangan kata-kata lebih untuk ekspresikan sesuatu

!#@#@$@$ via www.mirror.co.uk

Advertisement

‘Anjiingg! Bete banget gue besok harus presentasi pagi-pagi.’

‘Sabar woy. Langsung kesel gitu haha.’

‘Bete doang sih, cuma … ah anjing lah. Gue siapin bahan presentasi dari sekarang deh.’

Yang namanya kosakata itu ya tetap saja kosa kata, mau bagus, jelek, kasar, atau tabu. Bilangan kosakata yang mereka miliki jauh lebih banyak dibanding orang yang suka mengomentari sesuatu dengan ‘hmmm’, ‘oh’, ‘um’, atau ‘er’. Hasil survei dalam studi di atas menunjukkan kalau orang-orang yang suka mengumpat justru punya pengetahuan kosakata yang lebih tinggi dibandingkan orang biasa.

Mungkin pilihan katanya yang bisa dikoreksi lagi, tapi umpatan itu sama sekali bukan berarti mereka bodoh atau tak punya kata-kata lain. Alasan memilih kata-kata yang membuat banyak orang tersinggung itu memang bervariasi, tapi fakta bahwa mereka memang punya cadangan kata-kata lebih itu tak terbantahkan.

2. Selain pilihan kosakata lebih, orang-orang yang suka mengumpat juga punya pemahaman baik atas konteks pemakaian katanya. Padahal hampir semua kata-kata umpatan itu serapan baru yang tak semua orang tahu artinya

Pemakaian kata yang masih jarang ada di kamus via bismannews.rrvnews.com

Disamping bilangan kosakata, kecerdasan orang yang suka menyumpah serapah terletak pada kreativitas mereka menggunakan kata-kata tersebut. Kata umpatan seperti ‘anjing’ atau ‘sampah’ biasanya berasal dari kata biasa yang sebelumnya tak ada artian negatif. Dan tidak semua orang mengerti konteks pemakaian kata-kata itu sebagai umpatan. Yang punya pemahaman lebih itu ya orang-orang yang mahir mengumpat.

Lagi-lagi ini bukan masalah baik atau buruk, tapi apakah orang yang suka menyumpah itu cerdas atau bodoh. Dan penelitian ilmiah terakhir justru membuktikan kalau mereka cerdas. Nah yang mugkin kurang itu akhlaknya, bukan otaknya. Mereka lebih cerdas karena punya pilihan kosakata lebih dan kreatif dalam menggunakannya karena paham akan konteks pemaknaan terbarunya.

3. Keberanian mengumpat perlu kepercayaan diri yang tinggi. Mungkin caranya memang kasar dan tak bisa diterima, tapi tetap saja mereka lebih memilih menyumpah serapah daripada dipendam dalam diam

Lebih cerdas dari yang sopan tapi tak punya opini via www.personalitytutor.com

Disamping bilangan kosakata dan penggunaanya, kecerdasan mereka juga ditandai dari kecenderungan sikap yang tak serta merta ikut alur hanya demi menyenangkan orang lain. Terutama tanpa mengetahui posisi diri. Mereka yang suka mengumpat tak pernah segan mengungkapkan rasa tidak sukanya karena yakin akan sudut pandangnya. Bukan orang munafik dan penuh ‘sandiwara’ karena mereka adalah orang yang tak butuh persetujuan orang lain. Tingkat kepercayaan diri yang tinggi ini juga salah satu indikator kecerdasan yang menonjol dari kelompok ini.

4. Sikap tak acuh pada kode etika sosial ketika mengumpat, adalah tanda disiplin rendah pada aturan yang berlaku. Tapi pelanggar aturan itu sebenarnya cerdas karena mereka fleksibel

Tak takut melanggar peraturan via www.thetruthaboutbeauty.co.uk

Satu penggambaran akurat tentang orang yang suka mengumpat adalah bandel. Tak suka aturan dan selalu tergoda untuk melanggarnya. Itu memang sikap yang tidak baik untuk ketertiban masyarakat. Tapi di sisi lain, justru orang-orang yang suka melanggar peraturan adalah mereka yang membuat terobosan. Sifat pemberontak yang menginginkan fleksibilitas, lebih kondusif untuk mengembangkan pribadi yang bisa berpikir out of the box dan membuat inovasi. Maka dari itu sebenarnya logis kalau dibilang orang yang suka mengumpat itu cerdas, justru karena mereka tak suka peraturan.

5. Tak salah juga jika mengira orang-orang ini pasti emosinya meluap-luap. Meski kata-katanya pasti undang kritikan, tapi yang kaya emosi itu jauh lebih cerdas dari mereka yang tak punya kesadaran emosi

Emosi kuat yang perlu disalurkan via thenypost.files.wordpress.com

Umpatan adalah bentuk ungkapan emosi yang kuat. Orang-orang ini tak pernah merasa malu atas perasaan sendiri. Jujur, bicaranya to the point, dan penuh percaya diri adalah cara mereka bersosialisasi. Meski tentu saja awalnya pasti banyak orang yang risih dan merasa tersinggung oleh kata-kata kasarnya, tapi dalam jangka panjang justru orang-orang seperti ini yang punya banyak teman. Daripada berteman dengan orang-orang sopan yang selalu malu atau justru menutupi perasaan yang sebenarnya, mending dengan orang yang ‘ceplas-ceplos’ tapi jujur.

5. Karena terbiasa mengeluarkan emosi pada saat itu juga, kelompok orang yang suka mengumpat justru lebih cepat menemukan penyelesaian masalah. Move on jadi lebih gampang karena beban emosi sudah ringan

Emosi sudah keluar, tinggal move on-nya via thoughtcatalog.files.wordpress.com

Nggak jarang orang yang mengumpat adalah orang yang ‘ogah’ lama-lama berada dalam zona  itu-itu saja. Mereka cenderung menyukai hal-hal baru yang menarik, tapi bukan berarti cepat bosan ya. Misalnya saja ketika ada masalah yang dihadapi, mereka bakal melontarkan kalimat-kalimat penuh umpatan untuk mengatasi kejenuhannya itu. Dan nggak lama, biasanya hati dan pikiran mereka cepat pulih karena kekesalan udah tersalurkan. Mereka nggak mau berlama-lama memendam rasa sakit, makanya jadi cepat move on deh demi hidup yang lebih baik.

6. Tak takut perubahan dan tak segan ekspresikan diri lewat cara tabu sekalipun, mereka juga pasti terbuka untuk belajar hal-hal baru dalam hidup

Siap belajar apapun via twitter.com

Kamu harus tahu kalau orang yang suka banget mengumpat itu tandanya punya kepribadian terbuka dengan siapapun dan apapun. Mereka nggak sungkan membagi kisah hidupnya karena bagi mereka hidup tak perlu banyak drama yang sering pura-pura. Orang yang memilih banyak mengumpat itu lebih senang nggak menyembunyikan apapun. Dengan begitu meresa lebih tenang walau harus memakai cara yang tabu sekalipun.

Terbuka dalam bersikap itu juga mempengaruhi cara mereka mengambil pelajaran dalam kehidupan. Artinya mereka punya perspektif yang sangat terbuka dan tidak takut untuk belajar hal-hal baru yang seringkali mengintimidasi orang lain. Orang-orang seperti inilah yang biasanya justru jadi orang terdepan dalam berbagai bidang kehidupan.

Citra orang yang senang mengumpat seringkali dinilai buruk oleh lingkungan sekitar. Padahal, di balik cara sarkasnya dalam mengekspresikan diri itu terdapat tingkat kecerdasan yang tinggi. Mungkin orang-orang yang suka mengumpat itu memang kurang akhlak, tapi diam-diam mereka justru pintar.